Monday, 19 February, 2018 - 10:19

Puncak Matantimali, Diakui Para Glider Kelas Dunia

Seorang glider sedang persiapan terbang Seorang glider sedang persiapan terbang

Palu, Metrosulteng.com - Terbang melayang bagai seekor burung, dan menyaksikan bentang alam diantara awan,  bukanlah kodrati manusia. Tapi, bagi para pecinta olahraga yang memacu andrenaline, melalui berbagai cabang olahraga dirgantara seperti Paralayang, Gantolle, Paramotor, Trike hingga terjun payung keinginan itu dapat disalurkan. Di Lembah Palu, dari berbagai cabang olahraga dirgantara yang secara keseluruhan dibawah naungan Persatuan Layang Gantung Indonesia  (PLGI) tersebut, baru Paralayang yang telah diterima dan berkembang di daerah ini. Salah satunya adalah Club Maleo Paralayang pimpinan Sagaf. Bukan karena bidang paralayang paling murah dibandingkan dengan bidang olahraga dirgantara lainnya. Tetapi lebih dikarenakan lembah Palu memiliki sarana dan prasarana penting untuk bidang paralayang, yakni mulai spot launching hingga spot landing yang seolah khusus dianugerahkan Tuhan bagi masyarakat daerah ini, tempat itu adalah Matantimali. Puncak Matantimali telah diakui kalangan glider baik nasional maupun internasional, sebagai salah satu terbaik di Indonesia. Kenapa, pertama karena Matantimali memiliki dua elevasi  spot launching untuk dua kelas take off, yakni 700 M diatas permukaan laut dan 1100 M diatas permukaan laut. Lokasi take off menghadap kelaut teluk Palu, yang diuntungkan lagi dengan kondisi geografis berlembah, sehingga membuah hembusan angin terarah, jadi penyempurna glider untuk mulai melayang. Selain itu, kondisi tanah yang agak berbatu, berbukit-bukit serta padang rumput, merupakan keuntungan lainnya untuk menemukan thermal (panas bumi) yang berfungsi sebagai daya angkat untuk mencari ketinggian saat terbang. Kondisi handicap lembah palu ini juga sangat mendukung untuk melakukan cabang gliding cross country. Maka tak heran, jika atlit senior olahraga Indonesia, yang juga sebagai instruktur Trike Cibubur Flight Club, Hari Agung menyebut Matantimali adalah surganya paraglider. Seorang Glider asal Batu - Kota Malang, Bayu, juga menyebut Matantimali sempurna untuk olahraga paralayang. Tahun 2007, penulis pernah berbincang dengan pecinta paralayang asal Australia, yang menilai bahwa “Matantimali Number One in the world”. Hanya saja, pada pelaksanaan PON XVII 27 Juni – 5 Juli 2008 lalu, yang mengalihkan cabang olahraga paralayang ke Matantimali, dengan alasan pusat kegiatan PON yang saat itu di Kota Balikpapan Kalimantan Timur tidak mendukung untuk dilaksanakannya cabang Paralayang ini, saat itu sejumlah atlit mengeluhkan minimnya sarana prasaran pendukung. Misalnya akses jalan yang belum memadai, tidak adanya kamar kecil, hingga jauhnya lokasi  kegiatan dari penginapan. “Padahal, kalau sarana dan prasarana itu dipenuhi, pemerintah daerah tidak usah repot-repot mempromosikan potensi yang luar biasa ini, karena kami memiliki jaringan yang luas, bukan hanya Indonesia, tapi juga internasional. Dan sesama kami itu pasti saling memberi informasi tentang tempat begini,” kata Hari Agung. Laporan : Joko Editor : Pataruddin
Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.