Saturday, 18 August, 2018 - 03:15

“Gula dan Pasir”, Film yang Mengangkat Sosio Ekonomi Masyarakat Sulteng Melalui Anak-anak

Poster film pendek "Gula dan Pasir”. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Lokomotif Films segera memproduksi film pendek pertamanya di Sulawesi Tengah. Perusahaan start-up film ini memang tengah fokus mengembangkan potensi sineas muda berbakat Indonesia.

Film pendek Sulawesi Tengah ini diberi judul “Gula dan Pasir” dan disutradarai oleh sineas asal Palu, Sarah Adillah.  Sarah Adillah adalah gadis kelahiran 21 Juli 1998 yang menempuh pendidikan S1 Jurusan Film dan Televisi di Universitas Multimedia Nusantara dengan program beasiswa.

Produser Pelaksana Zacky Aulia, dalam siaran Persnya yang diterima Metrosulawesi, Rabu, 13 Desember 2017 mengatakan film pendek yang berdurasi sekitar 15 menitan itu, rencananya akan diproduksi  selama tiga hari, 27-29 Desember 2017dan mengambil lokasi di beberapa titik di Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Film ini, kata Zacky, bersifat non komersil dan akan didistribusikan ke festival film nasional maupun internasional.

“Sarah beserta tim produksinya juga telah melakukan survei untuk kebutuhan pembuatan filmnya pada tanggal 6-9 Desember lalu,” terangnya.

Zacky Aulia mengharapkan film pendek ini juga bisa menjadi salah satu alternatif mengenalkan Sulawesi Tengah, khususnya memperkenalkan budaya sehari-hari masyarakat lokal Kota Palu dan Kabupaten Donggala.

“Film Gula dan Pasir merupakan realitas atas bingkai kehidupan sosial-ekonomi daerah Sulawesi Tengah yang dikemas secara ringan, sederhana tetapi menarik, sebab melalui sudut pandang dan gaya penceritaan anak-anak,” ungkapnya.

Zacky Aulia sedikit menjelaskan bahwa film tersebut akan menceritakan kakak-adik, Iko dan Ila serta Ibu mereka yang merupakan penjual kue yang menitipkan jualannya di warung-warung. Ila yang masih belajar berhitung sangat patuh dalam mengembalikan uang Ibu. Berbeda dengan Iko, yang berusaha membujuk adiknya untuk mengambil kembalian tersebut.

Hingga suatu hari usai membeli gula pasir, Ila mendapati kembalian yang tidak semestinya. Ketika hendak kembali ke warung, Iko mencegatnya dan merebut kembalian tersebut hingga mengakibatkan gula pasir titipan Ibu jatuh dan berhamburan. Keduanya terjebak dalam situasi yang sama-sama dalam masalah.

Melalui eksplorasi persoalan-persoalan kecil mengenai “uang kembalian” dari kacamata anak-anak dimana mungkin dianggap sebelah mata oleh orang dewasa, sutradara memilih gaya penceritaan berupa drama dengan kompleksitas hubungan antar karakter akan ruang, serta problematika yang saling bersinggungan. Hal ini, kata Zacky,  diharapkan dapat membuat penonton memahami bahwa masalah tidak akan selesai, jika hanya menghindarinya atau tidak berani menanggung konsekuensinya.

Kata dia, film “Gula & Pasir” menjadi penting untuk diproduksi dan ditonton, sebab persoalan sesederhana apapun dalam konteks sosial-ekonomi yang terjadi di sebuah daerah kecil, sebenarnya relevan dengan persoalan yang dihadapi setiap orang di dunia.

“Selain membawa tim yang berasal dari Jakarta, produksi film pendek ini akan menggandeng para pegiat film dan komunitas lokal, salah satunya adalah Sikola Pomore, yang didirikan oleh Yaumil Masri. Para anak didik Sikola Pomore nantinya akan menjadi pemain utama dalam film Gula & Pasir,” ungkapnya.


Editor : M Yusuf Bj