Sunday, 23 July, 2017 - 18:53

1 : 0, Pasukan Gabungan vs Kelompok Santoso

ILUSTRASI - Pasukan Gabungan saat melakukan penyergapan di sebuah pondok di pegunungan Tinobe, desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Jumat 15 Januari. (Grafis : Metrosulawesi/Agung Rifai)

KRONOLOGI BAKU TEMBAK
  • Pasukan gabungan TNI Polri terdiri atas Tim II AMbush Paniki dari TNI dan Tim Charli V dari Brimob menyergap sebuah pondok milik I Wayan Sujana, di gunung Tineba, 3 kilometer dari desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Selatan.
  • Kontak senjata terjadi sekitar pukul 07.30 Wita dan berakhir pukul 10.30 Wita.
  • Kontak senjata tersebut menewaskan satu pengikut kelompok Santoso yang diketahui bernama Basri alias Bagong.
  • Kontak senjata berakhir setelah kelompok Santoso lari meninggalkan pondok menyelamatkan diri ke hutan.

Poso, Metrosulawesi.com – Baku tembak antara pasukan gabungan TNI Polri dengan kelompok Santoso terjadi lagi di Poso, Jumat 15 Januari. Saling dor yang terjadi pegunungan Tinobe 3 kilometer dari desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Selatan  berlangsung sekitar tiga jam.

Beruntung setelah terlibat baku tembak sekitar tiga jam, sebanyak 60 personel dari pihak pasukan gabungan TNI Polri tak satu pun yang mengalami cedera atau luka.  Sebaliknya, pasukan gabungan TNI Polri berhasil menembak mati seorang anggota kelompok Santoso.

Informasi yang diperoleh Metrosulawesi, terduga teroris yang dilumpuhkan tim gabungan TNI Polri itu bernama Basri alias Bagong. Dia disebut-sebut sebagai tangan kanan Santoso alias Abu Wardah.

Saling baku tembak terjadi ketika tim gabungan terdiri atas Tim II Ambush Paniki dari anggota 433 TNI dan Tim Charli V dari anggota Brimob, menyerbu di sebuah pondok di perkebunan milik I Wayan Sujana. Basri tewas di tempat sesaat setelah terjadi baku tembak.

Kapolres Poso AKBP Rony Suseno yang dihubungi wartawan di Poso mengatakan kontak senjata itu terjadi sekitar pukul 07.30 WITA sampai 10.30 WITA dan berlangsung sekitar tiga jam.

"Ada satu orang tewas dari kelompok sipil bersenjata dan jenazahnya sedang dievakuasi," kata Rony.

Menurut Kapolres, aksi baku tembak itu terjadi dalam sebuah strategi penyergapan setelah polisi mendapat informasi adanya camp tempat aktivitas kelompok Santoso yang didirikan sejak tahun baru 2016.

Pasukan brimob kemudian melakukan penyergapan dan para pelaku melakukan perlawanan dengan melempari bom personel Brimob.

"Mereka lebih dulu melempar bom dan kami melakukan perlawanan sehingga terjadi baku tembak," akunya.

Ronny menjelaskan pasukan yang diterjunkan sebanyak 60 personel TNI dan Polri yang disebar di enam titik, sementara kelompok terduga teroris pimpinan Santoso, pimpinan Laskar Mujahiddin Indonesia Timur itu diperkirakann sebanyak 15 orang.

"Setelah kontak senjata, para teroris melarikan diri dan penyisiran masih terus dilakukan di sekitar pegunungan tempat kejadian," ujarnya.

Ia juga menyebutkan barang bukti yang berhasil yang diamankan berupa satu unit bom rakitan namun pencarian barang bukti masih terus dilakukan.

Camp yang digunakan para teroris tersebut merupakan pondok milik I Wayan Sujana, terletak sekitar 3 km dari Desa Taunca.

Selain melakukan penyisiran dengan melibatkan ratusan gabungan TNI-Polri, di lokasi kejadian proses evakuasi satu jenazah kelompok Santoso masih dilakukan mengingat lokasi pegunungan yang terjal dan memakan waktu hingga empat jam.

Sejumlah warga di sekitar Desa Taunca mengaku mendengar rentetan letusan senjata di hutan-hutan pegunungan pada Jumat pagi.

"Ya, kami dengar ada rentetatan bunyi tembakan, karena itu kami belum berani pergi ke kebun," kata sejumlah warga Desa Taunca.

Seperti diberitakan, Polri dan TNI kembali menggelar operasi gabungan untuk memburu kelompok Santoso di kawasan hutan Poso. Operasi dengan sandi Tinombala 2016 itu dimulai sejak 10 Januari 2016 lalu sebagai pengganti dari operasi Camar Maleo IV 2015.

Wakapolda Sulteng Kombes Pol. Drs. Leo Bona Lubis mengatakan, operasi kewilayahan tersebut akan berlangsung selama dua bulan, dengan wilayah operasi kabupaten Poso dan kabupaten Parimo.

Leo Bona mengatakan, Polda Sulteng tetap konsisten untuk melakukan pengejaran terorisme, ini dilakukan untuk menjamin masyarakat agar terbebas dari perbuatan teror yang dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin menciptakan rasa tidak aman di tengah-tengah masyarakat. (ant/edy/wan)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.