Tuesday, 30 May, 2017 - 19:22

73 Kosakata Lokal Sulteng Diusulkan Masuk KBBI

ILUSTRASI - Pemerintah diminta merumuskan kebijakan untuk menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan. (Grafis : Google image)

Palu, Metrosulawesi.com - Kepala Balai Bahasa Sulawesi Tengah Drs Adri MPd mengungkapkan sebanyak 73 kosakata bahasa lokal Sulawesi Tengah diusulkan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kelima.

“Untuk memperkaya bahasa Indonesia, maka diambil kosakata dari bahasa daerah,” kata Adri pada Diseminasi Program Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia di Aula UPT Pendidikan Pelatihan Tenaga Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Jalan Moh Yamin, Palu, Senin 8 Mei 2017.

Menurutnya, bahasa daerah diharapkan memperbanyak entri bahasa Indonesia yang saat ini masih 91 ribu, jauh lebih banyak bahasa Inggris yang mencapai 1 juta entri.

“Istilah-istilah pertanian dari Sulawesi Tengah bisa diambil dalam bahasa Indonesia,” kata Adri tanpa menyebut 73 kosakata lokal Sulteng yang diusulkan.

Akademi Universitas Tadulako Palu Dr Mochtar Marhum, M. Ed, Ph.D yang menjadi pembicara pada diseminasi itu mengatakan, dari sekitar 700 bahasa daerah di Indonesia, sebanyak 400 di antaranya berada di kawasan timur Indonesia (KTI).

Namun, bahasa daerah yang banyak diserap masuk dalam bahasa Indonesia justru dari kawasan barat. Padahal, kata dia dari Sulawesi sampai Papua lebih banyak bahasa daerahnya, meski diakui bahwa penutur bahasa daerah lebih banyak di kawasan barat Indonesia.

Karena itu, Mochtar Marhum mendorong bahasa daerah Sulawesi Tengah dimasukkan dalam KBBI. Selain untuk memperkaya bahasa Indonesia, juga sebagai prestise sekaligus kebanggaan.

Peneliti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pengembangan dan Perlindungan Kemendikbud Dra Menuk Hardaniwati MPd mengatakan, ada beberapa syarat kosakata daerah masuk dalam KBBI di antaranya unik, seturut kaidah, berkonotasi baik, dan sedap didengar.

“Saya berharap, ada kosakata dari daerah Sulawesi Tengah yang nantinya masuk dalam KBBI,” kata Menuk Hardaniwati, pembicara pada diseminasi.

Bahasa Tolitoli Terancam Punah

Sementara itu, bahasa daerah Tolitoli Sulawesi Tengah terancam punah dan tak lagi digunakan. Saat ini, penutur bahasa lokal tersebut tersisa di dua desa, kata Dr Mochtar Marhum, M. Ed, Ph.D, dosen Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Tadulako (Untad) Palu.

Mochtar Marhum mengatakan, penutur bahasa Tolitoli ada di Desa Bonontoan dan Desa Lakukan, Kecamatan Tolitoli Utara.

“Cuma dua desa dari kecamatan Tolitoli Utara. Kalau penutur suatu waktu kurang dari 200 ribu, oleh pakar linguistik, pakar bahasa mengkategorikan bahasa itu terancam punah,” kata Mochtar Marhum.

Dia mengutip pendapat Prof David Crystal bahwa ketika bahasa tersebut punah atau mati, maka akan terjadi tragedi sosial. “Bahasa Tolitoli terancam punah,” katanya.

Karena itu, dia menyarankan pemerintah merumuskan kebijakan untuk menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan.

”Kalau tidak ada upaya pelestarian melalui kamus dan kebijakan bahasa. Selama ini ada kebijakan pendidikan dan kebijakan ekonomi. Kalau di luar negeri ada yang namanya kebijakan bahasa. Bahasa itu dilestarikan melaui perda, undang-undang sehingga bisa bertahan dan diteruskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Selain bahasa Tolitoli, bahasa Lauje juga bisa jadi terancam punah jika tidak dilestarikan oleh  Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong.

Adapun diseminasi yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud itu diikuti guru, mahasiswa, budayawan, serta wartawan di Kota Palu. (zal/edy)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.