Saturday, 22 September, 2018 - 05:26

Ada Mpatale, Menggugat Ketamakan dan Kerakusan

TEATER - Komunitas Seni Lobo saat pementasan bertajuk dance theater di Gedung Olah Seni (Golni) Taman Budaya Sulteng, Jumat (28/11) malam. (Foto : Faiz Sengka)

NEGERI ini sedang diselimuti sekelompok orang-orang yang tak lagi menjadi bijaksana di saat ia berada di suatu posisi yang menguntungkan. Mereka seolah menjadikan posisi-posisi tersebut sebagai suatu kesempatan besar untuk melahap apa saja.

Kepedulian sesama yang semakin menipis menjadi pertanyaan besar, benarkah negeri ini hanya memasok makanan untuk menjadi menu di meja para pembesar saja? Mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, pekerjaan, ekonomi, kebudayaan yang tentunya mencakup kesenian seolah telah menjadi jatah-jatah penting untuk berbagai kalangan.

Demikian yang ditampilkan Komunitas Seni Lobo pada pementasan yang dikemas secara apik bertajuk dance theater atau pertunjukan tari teater. Pentas digelar di Gedung Olah Seni (Golni) Taman Budaya Sulteng, Jumat (28/11) malam.

Dalam pertunjukan dance theater berjudul Piringku Tak Sama It Was Power on My Land, bercerita tentang tradisi makan besar atau makan adat masyarakat Kaili biasa disebut ada mpatale. Sebuah interpretasi kontenporer di masyarakat Kaili yang tergerus zaman. Tradisi makan adat memiliki tata cara aturan sajian yang didalamnya memiliki pesan bijak bagi pelaku-pelakunya. Menghargai adanya perbedaan, tidak tebang pilih berlaku adil sekalipun generasi bangsawan atau turunan madika.

Namun, kini perilaku-perilaku ketamakan yang ada pada diri sekelompok orang dengan tidak lagi mementingkan kepentingan banyak orang namun mengutamakan diri dan golongan sendiri. Ibarat orang-orang yang kelaparan yang akan memakan semua hal bahkan hal yang sekalipun bukan menjadi menu di meja makannya. Tradisi ini terabaikan, tak lagi menjadi pijakan untuk melangkah dan bertindak.

Ketua Komunitas Lobo, Arivin Banderan mengungkapkan, pentas ini mencoba menjadikan tari dan teater sebagai satu kesatuan yang menarik di atas panggung mampu beriring tanpa harus meninggalkan esensi dan estetika.

Arivin bilang, biasanya dilakukan ketika berlangsung upacara adat, ritual, syukuran, ataupun daur hidup. Lanjut ia menjelaskan di masa kerajaan-kerajaan masih berkuasa di Tanah Kaili tepatnya awal abad 16, kebiasaan makan besar hampir sering dilakukan sekalipun tidak sedang menyenggarakan upacara ataupun hajatan.

“Banyak simbol serta nilai filosofis kesantunan, kebersamaan, kebersahajaan, tenggang rasa, hormat-menghormati dan saling melindungi, yang ditampilkan dalam tari itu,” ungkap Arivin.

Komunitas Seni Lobo mengangkat tema sosial budaya yang miris dan masih terjadi di negara ini melalui pertunjukan dance theater Piringku Tak Sama yang melibatkan beberapa pekerja seni dalam satu panggung.

Tujuannya kata Arivin menghadirkan semangat kreatif posisif disertai proses laku cipta karya original inovatif dalam pembebasan berkesenian yang intinya bertanggung jawab, mandiri serta sebagai bentuk sikap kritis terhadap persoalan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

“Intinya kami ingin mengakrabkan proses dari pertunjukan kepada para pekerja seni, khususnya generasi baru, pelajar dan mahasiswa, yang haus akan seni budaya,” jelas arivin.

Agustan dosen Bahasa dan Seni Universitas Tadulako Palu mengaku kagum dengan pertunjukan dance theater. Dua unsur seni yang berbeda, tapi bisa disatukan.

“Apresiasi buat adik-adik yang sudah terlibat, pokoknya keren, tingkatkan kreativitas kalian,” ungkap Agustan.


Editor : Syamsu Rizal

 

Berita Terkait