Tuesday, 21 November, 2017 - 07:03

Ada Peninggalan Belanda di Desa Santigi, Legislator Usulkan Jadi Objek Wisata Sejarah

Kepala Dusun Abd Halik bersama Irban Dg Silasa Anggota DPRD Tolitoli saat berkunjung ke Desa Santigi. (Foto : Aco Amir/ Metrosulawesi)

Tolitoli, Metrosulawesi.com - Keberadaan kampung tua sebagai peninggalan sejarah, di Desa Santigi diusulkan dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah maupun wisata edukasi.

Kepala Dusun setempat Abd Halik mengatakan, perkampungan tua Desa Santigi pernah diduduki oleh Belanda pada tahun 1960. Hal ini diperkuat dengan masih banyaknya peninggalan Belanda berupa dermaga penyeberangan, benteng, dan goa.

Atang, salah seorang tokoh masyarakat setempat membenarkan hal tersebut, bahwa kampung tua Desa Santigi ini sering dikunjungi masyarakat luar daerah, karena memiliki benda-benda bersejarah peninggalan Belanda.

“Dulu Banyak saudagar yang datang ke kampung ini untuk sekadar melihat keunikannya sekaligus berdagang serta melihat secara langsung peninggalan Belanda,” tuturnya.

Anggota DPRD Tolitoli Irban Dg Silasa yang juga berasal dari Desa Santigi mengatakan, “Desa Santigi ini pernah dijadikan perkampungan besar, dan dijadikan pusat ibukota Kecamatan Tolitoli Utara di tahun 1950 sampai 1960.”

Selaku anggota DPRD Toitoli, dia akan berupaya membangun sinergi dengan berbagai pihak baik di pusat maupun daerah, agar nantinya, kampung tua ini bisa ditata menjadi kawasan wisata. Menurutnya ke depan perlu melestarikan nilai-nilai historis di Desa Santigi.

“Saya mewakili masyarakat, akan berupaya maksimal agar Desa Santigi ini bisa ditata kembali menjadi desa wisata. Selain wisata sejarah dan wisata edukasi, Santigi juga memiliki potensi kekayaan alam bawah laut berupa terumbu karang, taman lautnya sangat indah. Hanya belum tereksplore secara maksimal. Ini yang sedang kami perjuangkan,” kata Dg. Silasa.

Ia berharap, dengan adanya bantuan dari Pemerintah Pusat sejumlah Rp5 miliar untuk pembangunan penembokan abrasi pantai, kiranya masyarakat dapat bersatu menjaga ekosistem maupun lingkungan sekitar.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.