Friday, 21 July, 2017 - 18:49

Ahmad Lagong Berhaji Menggunakan Kapal Pribadi

ILUSTRASI - Haji Ahmad Lagong datang di Lembah Palu menggunakan perahu layar miliknya sendiri dengan membawa anak buah kapal sebayak lima orang.

KEGEMARAN dan ketangguhan orang Bugis dalam membuat dan menakhodai kapal laut telah berdampak banyak dalam sistem sosial budaya masyarakat nusantara. Toponimi kota-kota pantai di Indonesia, terukir dalam sanubari bahwa betapa lalu lintas laut sebagai satu-satunya sarana transportasi antar pulau pernah mewarnai dinamika transformasi sosial. Salah satu transformasi sosial itu adalah penyebaran agama Islam, yang secara faktual hingga kini secara mayoritas dianut oleh masyarakat pesisir.

Lembah Palu, sebagai komunitas masyarakat pantai juga masuk dalam rangkaian dinamika penyebaran Islam nusantara. Para penganjur agama Islam yang masuk di Lembah Palu, sejak kedatangan Datokarama 1606 hingga kedatangan Guru Tua 1929, pelayaran laut menjadi alat transportasi untuk menjalankan misi dakwah di Tanah Kaili. Tampaknya, perjalanan dakwah adalah misi elitis yang mampu memanfaatkan sarana canggih di zamannya. Demikian pula dari segi pendanaan, tentu dengan sokongan keuangan yang sangat memadai. Sejarah perantauan adalah kilasan riwayat kekayaan bagi orang-orang yang berprofesi di bidang itu.

Haji Ahmad Lagong adalah saudagar elit dari tiga komponen; kaya, berilmu, dan bangsawan bugis Matowa Wajo. Misi dakwah terpatri dalam dirinya, sebagai hamba Allah yang telah menerima ajaran Islam. Dalam kajian ilmu dakwah, ditandai bahwa orang-orang yang telah menerima Islam, didorong oleh semangat tauhid untuk menyampaikan ajaran agama Islam kepada sesama manusia. Karena dengan menyampaikan dakwah diyakini sebagai usaha untuk menyelamatkan orang lain yang disiksa api neraka. Setiap umat Islam memiliki semangat dakwah sehingga, agama Islam segera menyebar di segala penjuru dunia. Namun untuk menjangkau wilayah dakwah, membutuhkan kemampuan ilmu, logistik, dan akuistik.

Keberangkatan Ahmad Lagong ke Palu untuk berniaga disebabkan karena ketidakharmonisan hubungan dengan isterinya yang masih kerabat dekatnya. Pada perkawinannya itu, Haji Ahmad Lagong dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Lasupu (Muhammad Yusuf), sehingga dikenal di Palu dengan sapaan akrab Tomai Lasupu. Lasupu meninggal dunia menjelang usia remaja sebelum Haji Ahmad Lagong berangkat ke Palu.

Sebagai manusia biasa, Ahmad Lagong mengalami duka dan lara akibat dua hal yaitu, ketidakharmonisan dengan isteri dan meninggalnya anak yang sangat dicintainya. Hal ini, pernah juga terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW, ketika sang isteri Khadijah bin Khuwailid dan sang paman Abu Thalib yang selalu melindunginya, meninggal dunia. Tahun kejadian itu disebut amul khuzni artinya tahun kesedihan. Untuk menghibur Nabi, Allah SWT memperjalankan pada peristiwa Isra dan Mi’raj pada 27 Rajab Tahun 10 kenabian bertepatan 26 Februari 621  Masehi.

Demikian pula, Ahmad Lagong yang berjalan (merantau) dari kampung halamannya di Tempe Kerajaan Wajo menuju Lembah Palu. Rute yang dilalui adalah bertolak dari Danau Tempe melalui Sungai Welanae, memasuki Teluk Bone, kemudian Selat Makassar hingga masuk di cekungan sabit Teluk Palu, hingga berlabuh di Kampung Lere.

Kedatangannya di Lembah Palu pada tahun 1841 Masehi, menggunakan perahu layar miliknya sendiri dengan membawa anak buah kapal sebayak lima orang. Yaitu; Lasoso, Labutiti, Latjule, Lakulu, dan Labandulu. Kapal yang dikendarai mereka bernama Sikko Nyarang dilengkapi dengan sebuah gong besar yang senantiasa menggaung bila dipukul ketika menjelang tiba dan sesaat sebelum berangkat ke tempat yang dituju. Kapal itu adalah pemberian dari ayahnya.

Tiba di Kampung Lere pada dini hari menjelang subuh. Masyarakat Kampung Lere dibangunkan oleh suara merdu yang nyaring menembus kesepian malam dari suara gong kapal, yang dalam bahasa Kaili disebut tawa-tawa. Masyarakat Lere pada waktu itu terbangun dan berlarian menuju pantai melihat kapal dan barang-barang dagangan yang sedang dibongkar untuk selanjutnya dijual kepada masyarakat Lembah Palu.

Interaksi bisnis Ahmad Lagong dengan masyarakat Kampung Lere, ternyata berkembang menjadi interaksi sosial, budaya, dan kekeluargaan. “Asam di gunung, Garam di laut, bertemu dalam belanga,” telah dialami oleh perantau dari Wajo ini. Ahmad Lagong mendapat tambatan hati di Kampung Lere, yakni berhasil menikahi gadis Kaili. Jalinan bahtera rumah tangga di Kampung Lere telah melahirkan keturunan, yang hingga sekarang ini banyak menempati status sosial terhormat di bidang pemerintahan, sosial, budaya, ekonomi, agama, dan ilmu pengetahuan. Dari isteri di Kampung Lere telah melahirkan sosok H. Abd. Aziz Lamadjido, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Tengah Periode 1986-1996. Kemudian putranya H. Rully Lamadjido adalah Wali kota pertama Kota Palu dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Periode 2001-2006. Rendy Lamadjido, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Dokter Reny Lamadjido pernah mendudukan jabatan Direktur Rumah Sakit Umum Anutapura Palu.

Demikian pula Sigit Purnomo Said yang dikenal Pasha Ungu, Wakil Walikota Palu, Periode 2016-2021. Ajenkris SE, berturut-turut jabatan yang telah diemban. Camat Palu Barat, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Palu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbangpol) Kota Palu, dan kini adalah Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Kota Palu.

Perjalanan hidup Ahmad Lagong bukan hanya di pesisir pantai Teluk Palu, tapi juga merambah dataran lembah yaitu bergerak ke arah selatan tepatnya di Kalukubula. Di desa ini, Ahmad Lagong mempersunting perempuan dari kalangan bangsawan yaitu Pue Daliyama. Keturunan mereka di Kalukubula berhasil juga menempati status sosial di bidang keagamaan, ekonomi, sosial, dan budaya.

KH. Muhammad Qasim Maragau adalah Kepala Kantor Wilayah Pertama Kementerian Agama  Provinsi Sulawesi Tengah, dengan sejumlah perubahan nomenklatur organisasi. Kepala Perwakilan Jawatan Urusan Agama Sulawesi Utara di Palu tahun 1960-1967. Kepala Jawatan Urusan Agama Sulawesi Tengah tahun 1965-1975. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tengah tahun 1975-1977. Burhanuddin Maragau pernah menduduki jabatan Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Sulawesi Tengah. Djafar Karama, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Sigi Biromaru, 1994-1997.

Ali Hoesain Radja Singi adalah alumni “pesantren” Radja Singi putra Ahmad Lagong kemudian datang Sayyid Idrus bin Salim Aldjufri mendirikan Alkhairaat Kalukubula. Karir Ali Hoesain di Madrasah Alkhairaat Ranting Kalukubula dan Madrasah Alkhairaat Pusat Palu ditekuni sebagai guru Bahasa Arab pada rentang waktu 1960-1972. Kemudian pada perjalanan karir dari tahun 1972 hingga 1982, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang. Kini menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Setelah IAIN Alauddin, Ali Hoesain diangkat menjadi dosen tetap pada Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, ditekuni dari tahun 1972 hingga 2000. Mengabdi hingga ajal menjemputnya di tahun 2000.

Ahmad Lagong merupakan seorang ulama Islam dari Bugis Wajo yang melakukan perantauan ke Palu Sulawesi Tengah. Beliau dipanggil Tomai Lasupu yang menikah di Kaluku Bula dan Kampung Lere Palu Sulawesi Tengah. Demikian juga sebelum ke Palu Sulawesi Tengah, juga telah menikah di Wajo Sulawesi Tengah. Adapun silsillah keturunan Haji Ahmad Lagong dapat dilihat pada gambar sebagaimana terlampir. (bersambung)


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.