Tuesday, 26 September, 2017 - 19:03

Akibat Tarif Listrik, Palu Inflasi Lagi

Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar bersama Kepala Bidang Statistik Distribusi Moh Wahyu Yulianto. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Laju Inflasi Sudah Mencapai 2,34

Palu, Metrosulawesi.com - Selama April 2017, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,46 persen, dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (1,78 persen), kesehatan (0,84 persen), transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,29 persen), serta makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,05 persen).

Sementara kelompok bahan makanan serta sandang mengalami penurunan indeks harga masing-masing sebesar 0,22 persen dan 0,05 persen, sementara pada periode yang sama kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga relatif tidak mengalami perubahan.

Tarif listrik merupakan penyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,30 persen. Adanya pencabutan subsidi pada rumah tangga pengguna listrik 900 voltage ampere (VA) secara bertahap oleh pemerintah menjadi penyebabnya.

“April ini kita kembali mengalami inflasi yang lebih tinggi dari inflasi nasional,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar, Selasa 2 Mei 2017.

Pada bulan yang sama, inflasi year on year Kota Palu sebesar 5,09 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 8,39 persen, sedangkan yang terendah terjadi pada kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 2,65 persen.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain tarif listrik (0,30 persen), ikan cakalang (0,11 persen), seng (0,08 persen), tomat buah (0,05 persen), ayam hidup (0,03 persen), besi beton (0,03 persen), pemeliharaan/service (0,02 persen), tomat sayur (0,02 persen), ikan kembung (0,02 persen), dan ikan layang (0,02 persen).

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain cabai rawit (0,12 persen), ikan selar (0,06 persen), telur ayam (0,05 persen), cabai merah (0,03 persen), bawang merah (0,03 persen), beras (0,02 persen), ikan ekor kuning (0,02 persen), bayam (0,02 persen), nangka muda (0,02 persen), serta ikan kakap merah (0,02 persen).

“Jika sebelumnya cabai rawit merupakan komoditas paling tinggi menyumbang inflasi, pada April ini sudah terkendali. Justru tarif listrik yang menyumbang inflasi tertinggi. Semoga beberapa bulan kedepan pemerintah dapat mengendalikan harga komoditas utama, khususnya pada saat Ramadan,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulteng Moh Wahyu Yulianto menambahkan.

Pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi (TPID) harus bisa mengendalikan harga sejumlah komoditas utama penyumbang inflasi kedepan agar tidak terjadi inflasi yang lebih tinggi lagi. Sebab, baru dalam kurun waktu empat bulan saja laju inflasi Kota Palu sudah lebih tinggi dari laju inflasi tahunan pada 2016 lalu.

Bahkan inflasi Kota Palu lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional. Bulan berikutnya akan ada momen Ramadan yang biasanya harga-harga sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga dan memicu inflasi, sehingga bulan mendatang masih berpotensi terjadi inflasi yang cukup tinggi. Belum lagi adanya penarikan subsidi tarif listruk 900 VA tahap tiga oleh pemerintah pada awal pekan ini.

Selama April 2017, inflasi secara nasional sebesar 0,09 persen, sementara laju inflasi sebesar 1,28 persen. Sedangkan inflasi year on year sebesar 4,17 persen. Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 53 kota mengalami inflasi sementara 29 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang sebesar 1,02 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Singaraja sebesar 1,08 persen. Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,46 persen, menempati urutan ke-4 inflasi tertinggi di Kawasan Sulampua dan ke-10 secara nasional.

Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), terjadi inflasi di 10 kota, sementara 8 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Jayapura (0,73 persen), diikuti Bulukumba (0,63 persen), Watampone (0,58 persen), Palu (0,46 persen), Ternate (0,36 persen), Makassar (0,33 persen), dan kota lainnya di bawah 0,30 persen. Sedangkan yang mengalami deflasi tertinggi adalah Kota Ambon sebesar 0,76 persen, diikuti oleh Bau-Bau (0,67 persen), Merauke (0,42 persen), Manokwari (0,29 persen), Sorong (0,26 persen), Kendari (0,13 persen), Gorontalo (0,12 persen), dan Manado (0,02 persen).

Laju Inflasi Kota Palu selama empat bulan sudah sebesar 2,34, lebih tinggi dari laju inflasi tahunan 2016. Jika tidak terkendali maka inflasi tahunan 2017 bisa sangat tinggi.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.