Saturday, 21 October, 2017 - 22:05

Anggaran Rp4 Miliar, Pasar Bambaru Masih Kumuh

Bagian depan Pasar Bambaru. (Foto : Ist/Ujang)

Palu, Metrosulawesi.com – Pembangunan Pasar Bambaru atau lebih dikenal Pasar Tua menjadi pasar tradisional modern menuai kritikan masyarakat. Pasalnya anggaran renovasi keliling yang mencapai Rp4 Miliar ini tidak berdampak pada bagian dalam pasar yang masih terlihat kumuh, semrawut dan tidak terawat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan Penanaman Modal Kota Palu, Haeriyati Atjo mengatakan untuk revitalisasi Pasar Bambaru langsung ditangani provinsi dalam hal ini Dinas Cipta Karya.

“Revitalisasi Pasar Bambaru langsung ditangani provinsi yaitu Dinas Cipta Karya, namun tidak ada koordinasi dengan kami. Padahal kami yang mengajukan anggarannya dan tidak hanya merenovasi luarnya saja. Kemarin sudah saya pertanyakan dengan Dinas Cipta Karya,” kata Haeriati melalui ponselnya, Sabtu (9/1/2016).

“Padahal pembangunan pasar bambaru adalah tupoksi Disperindagkop Kota Palu, kenapa yang dibangun bagian luarnya saja, sementara dalamnya masih kumuh luar biasa. Kami juga pertanyakan kenapa pembangunan pasar bambaru yang kerjakan Dinas Cipta Karya provinsi,” tambahnya.

Haeriyati sangat menyayangkan tidak adanya koordinasi kepada pihaknya terkait revitalisasi pasar bambaru.

“Kami juga tanyakan apakah PU Kota Palu yang melakukan renovasi di Pasar Bambaru, mereka menjawab tidak. Setelah saya cari informasi dari mana anggaran pembangunan pasar bambaru, ternyata yang tentukan Dinas Cipta Karya Provinsi,” katanya.

“Saya lantas pertanyakan kenapa tidak koordinasi dengan kami kalau mau diperbaiki. Padahala anggarannya sudah kami ajukan, kalau kami tidak ingin merenovasi luarnya saja, dalam pasar juga harus di renovasi.  Agar bagian dalam pasar dapat berfungsi,” jelasnya.

Seharusnya, kata Haeriyati, bagian dalam pasar bambaru harus turut di renovasi, karena usia bangunannya sudah mencapai 20 tahun.

“Bagian dalam pasar bambaru sudah tidak layak lagi karena banyak temboknya sudah retak didalam. Ini sudah kami juga pertanyakan ke Cipta Karya, ini saya ajukan anggaran APBN pembangunan pasar bambaru dari pusat sebesar Rp10 Miliar mau turun, kenapa tidak dibongkar saja. Menurut mereka kalau dibongkar katanya serba salah juga, karena bangunan baru tidak bisa ditukar,” katanya.

“Kami pertanyakan bangunan baru yang mana tidak bisa ditukar, padahal bagian dalam pasar bambaru semuanya bangunan lama,” tambahnya.

Haeriyati menambahkan seharusnya kondisi bagian dalam pasar bambaru diutamakan untuk di renovasi karena tempat masyarakat untuk menjual dagangannya.

”Bagaimana masyarakat akan berjualan di Pasar Bambaru kalau kondisinya dalamya seperti saat ini. Padahal yang paling penting di renovasi adalah bagian dalam pasar dari pada di luar. Kondisi sekarang, begitu indahnya pembangunan di luar bagitu masuk ke dalam orang kaget, karena masih kumuh dan semrawut,” ungkapnya.

“Dinas Cipta Karya juga tidak berkoordinasi dengan Dinas Tata Ruang Kota Palu. Setelah saya hubungi Kadis Tata Ruang Pak Singgih, beliau juga tidak tahu. Mereka tidak ada yang tahu,” katanya.

Pembangunan Pasar Bambaru termasuk dari empat pekerjaan yang saat ini dilaksanakan oleh Dinas Cipta Karya Sulawesi Tengah.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.