Sunday, 28 May, 2017 - 18:46

Angka Perceraian di Buol Meningkat Tajam

Arif Rahman. (Foto : Moh Syarif M Joesoef)

“Salah satu faktor yang membuat terjadinya penumpukan adalah perkara cerai yang gabung dengan harta bersama sehingga kompleksitasnya lebih rumit dibanding perkara cerai biasa yang kadang hanya menjalani dua kali persidangan,” - Arif Rahman, Humas PA Buol -

Buol, Metrosulawesi.com - Kantor Pengadilan Agama (PA) menyatakan angka penceraian di Kabupaten Buol terus meningkat tiap tahunnya. Gugatan tertinggi adalah gugat cerai mencapai 60 persen dari jumlah keseluruhan di tahun 2015.

Demikian diungkapkan Humas PA Buol, Arif Rahman, ketika ditemui Metrosulawesi dikantornya, Selasa (22/12/2015).

Berdasarkan data yang ada di PA, pada tahun 2013 untuk gugatan dan permohonan mencapai 124 kasus perkara dan pada tahun 2014 naik menjadi 227 perkara, sedangkan untuk tahun 2015 naik 20 persen atau sebanyak 250 kasus perceraian.

"Volume perkara cerai di Buol ini, kalau perkara kontensius (gugatan) sekitar 170 lebih kemudian perkara planteris (pemohonan) 50 perkara, mungkin sudah sekitar 250 perkara, ada peningkatanlah dari tahun yang lalu," kata Arif Rahman.

Dijelaskannya, peningkatan angka perkara perceraian justru naik pada Desember 2015 ini. Akibatnya, peningkatan yang cukup signifikan itu perampungannya dipastikan tahun depan disebabkan prekwensi perkara yang masuk naik serta limit waktu yang terbatas.

"Semua perkara kita proses sesuai dengan SOP, memang ada perkembangan menarik untuk tahun ini perkara yang masuk justru meningkat sehingga otomatis itu membuat perkara yang diselesaikan tahun ini harus dilanjutkan tahun depan. Tapi itu hal yang wajar karena itu disebabkan peningkatan serta ditambah limit waktu yang ada," terang Arif Rahman.

Lanjut dia, dengan adanya trend peningkatan perkara perceraian itu, PA membuat sebuah kebijakan proses cerai dengan cara menyelenggarakan sidang keliling atau mendatangi tempat masyarakat yang berperkara di tiap wilayah kecamatan yang sedang berperkara.

"Beberapa bulan ini kita sudah melakukan sidang keliling supaya perkara itu tidak terlalu menumpuk, sidang keliling ini sistemnya kita jemput bola, datangi dan kumpulkan di KUA-KUA sehingga perkara itu tidak berlarut-larut," kata Arif Rahman.

Dijelaskannya, salah satu faktor yang membuat terjadinya penumpukan adalah perkara cerai yang gabung dengan harta bersama sehingga kompleksitasnya lebih rumit dibanding perkara cerai biasa yang kadang hanya menjalani dua kali persidangan.

Lebih lanjut, Arif Rahman menuturkan untuk tahun 2015 ini, tertinggi masih di dominasi kasus perceraian 60 persen. Penyebabnya secara umum karena faktor ekonomi, perselingkuhan dan KDRT yang tertinggi dari ketiganya. Lainnya yang mendorong meningkatnya perkara di kabupaten itu dikarenakan adanya isbat nikah, karena warga menganggap buku nikah belum terlalu penting juga disebabkan kelalaian petugas.

"Sekarangkan segala administrasi kependudukan membutuhkan buku nikah, KUA belum bisa mengeluarkan buku nikah sebelum ada penetapan pengadilan. Ini salah satu juga yang memberikan konstribusi perkara karena banyak yang mengajukan isbat nikah untuk memperoleh buku nikah itu,"
pungkas Arif Rahman.


Editor : Subandi Arya

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.