Saturday, 25 March, 2017 - 06:18

Anwar Sampaikan Permohonan Maaf, Pengda Forki dan KONI Sulteng Berdamai

BERDAMAI - Pengurus Forki Sulteng bersama Ketua KONI Sulteng Anwar Ponulele (paling tengah) saling berjabat tangan usai rapat koordinasi di Kantor KONI Sulteng Jalan Ahmad Dahlan Palu, Selasa 25 Oktober 2016. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Berakhir sudah pertikaian ‘bapak dan anak’ antara Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tengah dengan Pengurus Daerah (Pengda) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Sulawesi Tengah. Ketua KONI Sulteng akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Pengda Forki Sulteng, Selasa 25 Oktober 2016.

Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Ketua KONI pada rapat koordinasi yang dihadiri oleh Ketua KONI Anwar Ponulele dan Sekretaris Umum KONI, Shafei Datupalinge beserta jajarannya serta pengurus Forki yang diwakili oleh Wakil Sekretaris Forki Idrus Yusuf, Ketua Litbang Forki Yudi S Tangahu, dan Kabid Pimpres Forki Sulteng Cristo Mondolu.

Pada kesempatan itu Anwar Ponulele mengatakan polemik yang terjadi antara KONI dan Pengda Forki Sulteng akibat miskomunikasi dan juga akibat penulisan berita di salah satu koran harian di Palu yang mengutip pernyataannya yang menurut Ketua KONI tidak sesuai dengan apa yang disampaikannya.
Selama ini, kata dia, baik KONI maupun Pengda Forki Sulteng juga belum menjalin komunikasi dengan baik hingga akhirnya berbuntut pada somasi yang dilayangkan Pengda Forki kepada Ketua KONI itu beberapa waktu lalu.

Anwar Ponulele dalam pernyataannya yang dimuat di koran tersebut dikatakan menduga adanya permainan di balik kekalahan Alan Nuary, atlet karate Sulteng yang berlaga di PON XIX Jawa Barat.

Alan Nuary  saat itu gagal meraih medali emas. Atlet berbakat itu hanya mampu mempersembahkan perak setelah kalah di laga final. Atas kekalahan itu, di koran tersebut mengatakan oleh Ketua KONI Sulteng Anwar Ponulele menganggap akibat bermain mata.

“Kita baru merebut dua perak dan dua perunggu. Tapi seharusnya di cabor karate kita mengharapkan harus dapat emas. Kenapa saya katakan harus emas karena lawan-lawan sebelumnya itu dia sikat lima sampai enam kosong,” demikian pernyataan Anwar Ponulele di media yang dikutip oleh Forki Sulteng dalam surat somasinya.

Pada bagian lain dalam berita dikatakan, “Masa di final biar satu tendangan dan pukulan tidak masuk, ada apa sebenarnya, kok atlet dilarang nendang atau mukul itu apa, ada apa, hanya Tuhan yang tahu itu, mudah-mudahan tidak ada udang di balik batu.” Pernyataan inilah yang kemudian memicu protes keras dari Forki Sulteng.

“Sengaja pada hari ini kami mengundang  teman kami dari pengurus Forki sekaligus dengan teman wartawan yang menjembatani informasi-informasi kami baik dari KONI maupun dari pihak Forki. Sebenarnya tidak ada yang perlu kita persoalkan. Sebenarnya, Ini hanya karena komunikasi-komunikasi yang tidak kita jalin bersama,” kata Anwar mengawali.

“Kalau saya tidak salah, kemarin itu ada topik yang dilansir  (salah satu koran di Palu) diduga ada permainan mata, itu diwawancarai saya waktu di Jakarta, masih di Bandung kita itu. Jadi informasi yang dimunculkan di koran itu saya tidak tahu, saya kaget itu kok sudah ada di medsos,” kata dia.

Terkait somasi yang dilayangkan oleh Forki Sulteng, dia mengaku menerima dengan baik dan sudah membalas somasi tersebut pada Senin 24 Oktober 2016 lalu. Ia juga sengaja mengundang Pengda Forki dalam rapat koordinasi tersebut untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung. Selain itu dia berharap kedepan antara KONI dan Forki bisa menjalin komunikasi dengan lebih baik sehingga tidak terjadi lagi hal serupa dalam upaya pengembangan olahraga di daerah ini.

“Kritikan itu saya suka, tapi sebelum melakukan kritikan mari kita saling menggali informasi. Selama ini saya tidak pernah dihubungi Pengda Forki, begitupun sebaliknya saya tidak pernah menghubungi Forki,” ungkap Anwar.

“Karena sudah disurati, saya sudah balas kemarin melalui Sekjen kita juga, karena surat itu juga ditandatangani oleh Sekjen. Jadi tidak ada saya punya maksud untuk menuduh saya punya atlet dari semua cabor yang ada di Sulawesi Tengah ini yang kita bina bersama ini,” jelasnya.

Pengda Forki yang melayangkan somasi-pun menerima permintaan maaf Ketua KONI. Mereka juga mengakui bahwa polemik panjang sisa dari perayaan PON itu akibat komunikasi yang tidak terjalin dengan baik selama ini.

“Tentu saja kami turut berterimakasih kepada Ketua KONI dan jajarannya telah mengundang kami hari ini dari pengurus Forki. Kenapa polemik ini muncul, memang muaranya adalah komunikasi yang tersumbat tadi,” sebut Ketua Litbang Forki Sulteng Yudi S Tangahu.

Dia mengatakan, organisasi tidak akan hidup jika tidak ada komunikasi. Sehingga ia membenarkan penyampaian Ketua KONI bahwa komunikasi antara keduanya tidak berjalan dengan baik selama ini.
Sebagai salah satu cabor di dalam kerangka organisasi KONI, Forki tentu sebagai anak dan KONI sebagai induk. Sehingga kata dia, KONI sebagai induk sudah seharusnya memberikan pembinaan kepada cabor-cabornya.

“Sebenarnya kita juga sayangkan hal ini, jika dari awal sudah dikomunikasikan mungkin tidak akan berlarut-larut seperti ini,” tandasnya.

Wakil Sekretaris Forki Idrus Yusuf juga menyayangkan dengan adanya pemberitaan yang dimuat salah satu koran itu. Menurut dia atlet yang bersangkutan akan terganggu akan hal itu. Apalagi  atlet tersebut akan mengikuti seleksi dalam rangka untuk mengikuti SEA Games mendatang.

“Saya selaku Wakil Sekretaris yang dimandati oleh Sekum untuk menghadiri acara hari ini menyampaikan terimakasih kepada bapak Ketua KONI dengan kebijakan beliau yang begitu bijak menyampaikan permohonan maaf walaupun memang beliau tidak salah karena ini hanya bahasa koran yang dibesar-besarkan, namun beliau telah meminta maaf. Tidak elok juga kalau Forki harus berbenturan dengan bapaknya,” terang Idrus.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.