Friday, 21 September, 2018 - 10:10

Atlet POBSI Sulteng Telantar, Dana Kejurnas Dipakai Oknum Sekretaris

DITELANTARKAN OKNUM - Enam atlet POBSI Sulteng yang ikut kerjurnas di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Uang kejurnas mereka dipakai oknum, mereka terpaksa menggunakan dana pribadi untuk biaya kamar hotel dan makan. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Enam atlet biliar asal Sulawesi Tengah yang sedang mengikuti kejuaraan nasional (Kejurnas) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ditelantarkan oleh oknum pengurus yang membawa mereka. Uang saku atlet di Kejurnas digunakan pribadi, hingga para atlet hampir tidak punya tempat menginap dan uang makan.

Kasus serupa bukan kali pertama menimpa atlet asal Sulawesi Tengah, hal serupa juga sebelumnya pernah terjadi beberapa waktu lalu. Pada PON Jabar lalu sejumlah atlet muaythai yang mengikuti eksibisi telantar karena ulah oknum pengurus yang diduga menggelapkan dana perjalanan para atlet.

Kali ini, atlet dari Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sulawesi Tengah yang harus merasakan nasib buruk akibat ulah oknum pengurus yang menggelapkan dana atlet Kejurnas biliar itu.

Kejurnas biliar  yang dilaksanakan pada 18 November hingga 1 Desember  2017 itu berlangsung di RedBall Cikarang, Jawa Barat. Di kejuaraan ini Sulawesi Tengah diwakili enam atlet, masing-masing merupakan atlet yang lolos seleksi kejuaraan daerah (Kejurda), empat atlet putra dan dua atlet putri. Semua biaya selama mengikuti kejuaraan ditanggung oleh POBSI Sulteng, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, konsumsi dan uang saku.

Akomodasi yang dijanjikan oleh Sekeretaris Umum POBSI Sulawesi Tengah sebelum para atlet berangkat adalah  4 kamar tidur selama delapan hari (dari tanggal 17 sampai 25 November), uang saku dan uang makan Rp750 ribu per orang selama delapan hari.

Namun setelah para atlet berangkat untuk mengikuti Kejurnas, Sekretaris POBSI, Faisal Latjinala yang mendampingi para atlet biliar tersebut justru terkesan menelantarkan atletnya. Uang saku yang awalnya dijanjikan akan diberikan H-1 sebelum berangkat tak kunjung diberikan.

“Kami mengira, mungkin nanti setelah sampai di hotel akan dibagikan uang saku. Setelah sampai di Jakarta pukul 09.00 (WIB), pukul 10.30 kami naik Damri jurusan Cikarang dengan biaya tiket Rp50 ribu per orang, kami berjumlah tujuh orang, enam atlet plus satu Sekum POBSI Sulteng yang juga oknum. Sampai di Cikarang pukul 16.30, langsung cari makan di dekat hotel dengan biaya kurang lebih Rp400 ribuan, setelah makan, kami menuju hotel dengan harapan kami bisa istrahat dengan layak. Tapi yang terjadi, kamar yang dibuka hanya satu kamar dari tiga kamar yang di-booking untuk kontingen Sulteng,” ungkap Lita Endah Sari, salah satu atlet yang ikut dalam rombongan kontingen Sulteng saat dihubungi via telepon, Senin 20 November 2017.

Menurut wanita yang akrab disapa Itet ini, Sekretaris Umum POBSI, Faisal Latjinala, beralasan dana untuk biaya para atlet selama di Kejurnas tersebut belum diambil seluruhnya dari Bendahara KONI Sulteng.

“Akhirnya salah satu atlet berinisiatif untuk buka kamar satu lagi dengan dana pribadi, yang diisi empat orang. Kemudian menyusul satu atlet lagi yang buka kamar dengan dana pribadi karena sampai tengah malam si oknum tidak ada reaksi bahkan kami ditinggal tidur. Makan malam pun kami harus pakai uang pribadi,” katanya.

“Besoknya (hari kedua), kami semua sepakat untuk menanyakan kejanggalan tersebut. Oknum tersebut, mengaku jumlah dana yang dibantu KONI untuk Kejurnas Rp35 juta. Sebesar Rp5 juta dibagi ke pangurus KONI Provinsi yang mengurus dana tersebut, sisanya Rp30 juta diterima oleh si oknum,” jelas Itet.

Menurutnya, Faisal Latjinala mengaku dana sebesar Rp15 juta sudah dipakai  untuk keperluan pribadi (dipinjam).

“Kemudian kami bertanya, kalau dihitung-hitung total pengeluaran dari berangkat sampai di Cikarang sekitar Rp7 juta, terus sisanya mana? Si oknum masih terus berkelit dengan berbagai alasan yang tidak jelas,” terangnya.

Sementara itu, para atlet sudah tidak memiliki dana, bahkan untuk makan pun tidak bisa. Akhirnya atlet berinisiatif untuk mencari informasi soal berapa dana sebenarnya yang dikeluarkan KONI untuk Kejurnas. Dan faktanya, dana yang tercatat dikeluarkan oleh Bendahara KONI lebih besar dari jumlah yang disebutkan oleh Faisal Latjinala.

“Kami menghubungi bendahara KONI Sulteng untuk menanyakan nominal bantuan tersebut, ternyata dana yang cair dari KONI berjumlah Rp41.540.000,” ungkap Itet.

“Posisi kami sangat darurat, mau pulang ke Palu kami tidak punya dana, mau bertahan kami juga tidak punya dana. Dalam keadaan bingung dan panik akhirnya kami memutuskan untuk menelepon beberapa orang yang kira-kira bisa menolong kami. Untungnya ada satu orang yang sangat berbaik hati mau membantu kami (enam atlet) untuk bisa buka dua kamar selama dua hari dan sedikit uang untuk makan,” katanya.

Sementara itu, Bendahara KONI, Armin Amiruddin kepada Metrosulawesi membenarkan bahwa dana yang dikeluarkan untuk biaya para atlet Kejurnas biliar itu sebesar Rp41.540.000.

“Dana itu kita berikan dua kali. Pertama Rp36 juta, terus beliau (FL) datang lagi karena katanya dana kurang, kita beri lagi Rp5 juta,” ungkap Armin saat ditemui di KONI Sulteng.

Wakil Sekretaris Umum KONI Sulteng Danny Syamsu Wawolumaja, geram mendengar pernyataan adanya bagi-bagi dana kepada pengurus KONI yang membantu untuk pencairan dana kontingen Kejurnas tersebut. Ia memastikan hal itu tidak benar.

“Pelaksanaan Kejurnas seperti itu kita tidak ikut campur sebenarnya. Tapi kalau soal katanya ada pengurus yang dapat dana itu saya jamin, tidak ada dana dari KONI yang berbiaya. Jadi saya pastikan kalau untuk dana seperti itu tidak ada, saya marah yang begitu,” katanya.

Sementara Faisal Latjinala, Sekretaris Umum POBSI Sulteng yang juga diketahui masuk dalam kepengurusan KONI Sulteng itu, saat dikonfirmasi enggan memberikan keterangan lebih. Namun, beberapa saat kemudian Faisal menyatakan mengundurkan diri dari kepengurusannya di POBSI maupun KONI Sulteng.

“Saya Moh Faisal mohon pamit dan mengundurkn diri dari anggota KONI Provinsi Sulteng priode ini dan juga di kepengurusan POBSI sebagai Sekertaris Umum POBSI Sulteng segala sesuatu yang saya perbuat baik yang disengaja maupun tidak akan saya pertanggungjawabkan semuanya di Palu,” tulis Faisal melalui pesan singkat WhatsaApp di grup KONI dan kepada wartawan Metrosulawesi.

“Ini tidak dalam unsur paksaan dan dalam keadaan saya membuat pernyataan ini dalam keadaan sehat dan  tanpa paksaan dari siapa pun demikian pernyataan ini saya buat dan terima kasih teman Ketua KONI dan POBSI berserta teman-teman. Pernyataan tertulis akan saya sampaikan setelah sampai di Palu.”

Adapun nama-nama atlet biliar yang mengikuti Kejurnas di Cikarang yakni Bobi (Morowali Utara), Dicky Dwi Setyo (Kota Palu) Awan (Tolitoli), Ardy (Morowali Utara), Lita Endah Sari (Kota Palu), dan Merry Krisna Kilala (Kota Palu).

Ketua KONI Minta Faisal Ditindak Hukum

KETUA KONI Sulawesi Tengah Anwar Ponulele marah besar setelah mendengar adanya oknum pengurus cabang olahraga dengan sengaja menggelapkan dana perjalanan untuk kontingen Sulawesi Tengah yang tengah mengikuti Kejurnas biliar di Cikarang, Jawa Barat. Anwar Ponulele ingin agar oknum tersebut ditindak hukum.

“Saya punya perintah pertama, kalau dia (Faisal Latjinala) menghilang lapor kepala perwakilan suruh cari tangkap polisi dia, itu dulu supaya kita temukan ini barang ini. Karena saya dapat informasi dari sekretaris baseket  kemarin mereka ada di perwakilan (daerah Sulawesi Tengah) kemarin itu, ini atlet semua ini,” ungkap Anwar Ponulele ditemui di kantornya, Senin 20 November 2017.

Menurut Anwar, Faisal memang sudah mengakui kepada salah seorang yang ikut mendampingi para atlet biliar di Kejurnas bahwa Faisal sudah menggunakan dana tersebut untuk kepentingan pribadinya sebesar Rp15 juta.

Dia juga mengaku, salah satu cabor yang paling sering memasukkan proposal untuk bantuan di KONI Sulteng  adalah cabor POBSI. “Karena mungkin merasa orang dalam, kita batasi-batasi dia,” kata dia.

Ketua KONI sendiri mengaku akan melaporkan Faisal ke polisi agar ada efek jera untuk oknum pengurus olahraga yang dengan sengaja menggelapkan dana untuk para atlet.

“Kalau saya, biar orang ini dituntut secara hukum dulu. Sudah dua saya laporkan di Polres itu, sudah dua nama kita laporkan dari dua cabor itu. Kalau saya tidak ada jalan lain, itu udah secara hukum. Kalau saya hanya tegur, satu, dua, tiga itu tidak kembali juga uangnya tapi tidak ada juga asas jera di situ itu,” katanya.

Sebelumnya KONI Sulteng juga melaporkan dua oknum yang diduga menyelewengkan dana dari masing-masing cabor tenis meja dan golf.

“Dan yang paling penting, kalau ada pengurus KONI yang minta biaya atau dana karena sudah membantu mencairkan dana seperti yang dibilang itu, laporkan ke saya, coba suruh sebutkan namanya, saya akan berhentikan. Saya pastikan tidak ada yang seperti itu, karena sudah sembilan orang saya berhentikan di sini karena kasus begitu,” tegasnya.


Editor : Udin Salim