Monday, 26 June, 2017 - 08:22

Awal Tahun, Ekspor Sulteng Naik 149,87 Persen

Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar (kiri) saat merilis data terbaru  di kantornya, Senin 3 April 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

“Dilihat dari neraca perdagangan dengan seluruh negara mitra dagang, Sulawesi Tengah mengalami surplus senilai US$ 118,18 juta selama Februari 2017 dan surplus senilai US$ 243,92 juta selama Januari-Februari 2017.”

Palu, Metrosulawesi.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah merilis data terkini tentang nilai ekspor Sulawesi Tengah selama Februari 2017 senilai US$ 130,31 juta.

Angka tersebut tampak memang turun US$ 15,64 juta atau 10,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, selama Januari-Februari 2017, total nilai ekspor Sulawesi Tengah meningkat US$165,70 juta (149,87 persen) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selama Januari-Februari 2017 nilai ekspor tercatat US$ 276,26 juta, sedangkan periode sebelumnya hanya sebesar US$ 110,56 juta.

“Kontribusi terbesar terhadap ekspor berasal dari bahan bakar mineral senilai US$ 82,23 juta atau 63,10 persen dari total nilai ekspor,” ungkap Kepala Bidang Statistik dan Ditribusi Badan Pusat Statistik Sulteng Moh Wahyu Yulianto saat mendampingi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar merilis data terkini di kantornya, Senin 3 Maret 2017.

Selama Januari-Februari 2017, kelompok bahan bakar mineral mendominasi pangsa ekspor senilai US$ 147,20 juta atau 53,28 persen dari total ekspor, disusul besi dan baja senilai US$ 121,19 juta (32,58 persen), serta lemak dan minyak hewan atau nabati senilai US$ 3,64 juta (1,32 persen). Sementara itu, nilai ekspor kelompok komoditas lainnya masing-masing di bawah US$ 2,00 juta.

Jepang merupakan negara tujuan ekspor paling utama selama Februari 2017 yakni mencapai US$ 46,84 juta atau 35,95 persen dari total nilai ekspor Sulawesi Tengah, diikuti Tiongkok senilai US$ 42,64 juta (32,72 persen), Korea Selatan senilai US$ 22,03 juta (16,91 persen), dan Malaysia senilai US$ 3,64 juta (2,79 persen). Sementara itu, nilai ekspor ke negara tujuan lainnya masing-masing di bawah US$ 0,50 juta.

Selama Februari 2017, keseluruhan transaksi ekspor Sulawesi Tengah senilai US$ 128,44 juta, difasilitasi melalui Pelabuhan Banggai senilai US$ 82,23 juta, Kolonodale senilai US$ 42,46 juta, Pantoloan senilai US$ 3,74 juta, dan Mutiara senilai US$ 0,01 juta.

Sedangkan ekspor melalui pelabuhan di provinsi lainnya tercatat US$ 1,87 juta masing-masing melalui Tanjung Priok (DKI Jakarta) senilai US$ 0,71 juta, Tanjung Perak (Jawa Timur) senilai US$ 0,68 juta, Ujung Pandang (Sulawesi Selatan) senilai US$ 0,45 juta, dan Ngurah Rai (Bali) senilai US$ 0,03 juta. Hal ini berarti pelabuhan muat ekspor di Sulawesi Tengah berperan sebesar 98,56 persen.

Impor

Total impor Sulawesi Tengah selama Februari 2017 senilai US$ 12,13 juta, turun US$ 8,08 juta atau 39,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Selama Januari-Februari 2017, terjadi penurunan US$ 54,64 juta atau sebesar 62,82 persen menjadi US$ 32,34 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dilihat dari neraca perdagangan dengan seluruh negara mitra dagang, Sulawesi Tengah mengalami surplus senilai US$ 118,18 juta selama Februari 2017 dan surplus senilai US$ 243,92 juta selama Januari-Februari 2017.

Impor Sulawesi Tengah didominasi oleh kelompok komoditas perabot dan penerangan rumah senilai US$ 4,49 juta (37,02 persen), disusul mesin/peralatan listrik senilai US$ 2,61 juta (21,52 persen), kendaraan dan bagiannya senilai US$ 2,17 juta (17,89 persen) serta mesin dan pesawat mekanik senilai US$ 2,10 juta (17,31 persen) selama Februari. Sementara periode Januari-Februari 2017, komoditas yang mendominasi impor Sulawesi Tengah yaitu bahan bakar mineral senilai US$ 18,26 juta atau 56,46 persen dari total impor Sulawesi Tengah.

Impor Sulawesi Tengah selama Februari 2017 didominasi dari Tiongkok sebagai mitra dagang utama yaitu senilai US$ 7,85 juta atau 64,72 persen dari total nilai impor Sulawesi Tengah, diikuti dari Finlandia senilai US$ 2,44 juta (20,12 persen) dan Korea Selatan senilai US$ 1,81 juta (14,92 persen).

Selama Januari-Februari 2017, impor berasal dari Tiongkok senilai US$ 17,70 juta (54,73 persen), Singapura senilai US$ 5,14 juta (15,89 persen), Swiss senilai US$ 4,70 juta (14,53 persen), Finlandia senilai US$ 2,44 juta (7,54 persen), dan Korea Selatan senilai US$ 2,33 juta (7,20 persen), serta negara lainnya senilai US$ 0,03 juta (0,09 persen).


Editor : Syamsu Rizal

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.