Wednesday, 18 January, 2017 - 12:17

Baru Terealisasi 78 Persen, Proyek Jalan Tomata-Beteleme Tak Sesuai Target

Salah satu bagian jalan nasional Tomata-Beteleme (54 km) di Kabupaten Morowali Utara yang rusak. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XIV Palu Ahmad Cahyadi melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Koridor XIII wilayah III Sulteng mengaku, proyek pelebaran jalan nasional ruas Tomata-Beteleme, Kabupaten Morowali, dengan kontrak senilai Rp227 miliar menghadapi kendala.
 
Pada tahap pertama pelebaran proyek jalan yang dikerjakan perusahaan dari Jakarta, PT Jaya Konstruksi Kerja Sama Operasi (KSO) dengan perusahaan lokal PT Multi Graha itu, rencananya 80 persen pengerjaan selesai. Namun hingga saat ini, baru terealisasi 78 persen.

Proyek jalan sepanjang puluhan kilometer dengan kontrak tahun jamak, yang pengerjaannya akan dilakukan selama empat pengerjaan itu dijadwalkan harus selesai pada 18 September 2018.

Kepada Metrosulawesi belum lama ini, Ahmad mengaku, sejak kontrak kerja berjalan pada 23 September 2015, pengerjaan tahap pertama mulai berjalan. Namun terdapat beberapa kendala sehingga terjadi keterlambatan dari hari kelender kerja.

Kendala tersebut, katanya berada di lokasi pelebaran jalan di antara Desa Ensa dan Manente. Sebab, di wilayah pegunungan batu tersebut penggusuran tidak bisa dilakukan dengan alat berat, harus dilakukan dengan cara menghancurkan bukit berbatu dengan cara diledakkan.

"Nah untuk meminta bahan peledak dinamit, kita harus melalui prosedur yang agak panjang dan lama dengan meminta izin kepada markas besar Kepolisian dan TNI, kemudian pengiriman bahan ledakan dari Makassar juga membutuhkan waktu lama, itulah yang membuat pengerjaan proyek jalan Tomata-Beteleme tahap satu ini agak terlambat," katanya.

Selain itu, sambungnya, karasteristik tanah antara Tomata-Beteleme berbeda dengan karakteristik tanah yang ada di jalur Trans Sulawesi lainnya.

"Jenis tanah tersebut masuk golongan tanah ekspansif yang terdapat di beberapa titik proyek jalan, seperti di Desa Korowasu, Taende Tomata dan Desa Londi butuh penanganan khusus karena ada tanah ekspansif," urainya.

Tanah ekspansif, katanya, adalah tanah yang mengalami perubahan volume akibat perubahan kadar air dalam tanah. Biasanya tanah ekspansif mengandung mineral-mineral lempung seperti smektit dan montmorilonit yang mampu menyerap air. Ketika mineral tersebut menyerap air maka volume tanah akan meningkat. Semakin banyak air yang terserap, semakin bertambah volume tanah. Perubahan volume ini dapat merusak kekuatan struktur bangunan yang menempati tanah tersebut.

"Makanya di lokasi-lokasi tanah ekspansif tersebut, kami harus lakukan cara-cara khusus yag membutuhkan waktu dan kecermatan agar jalan yang dibangun nanti tidak sia-sia. Rusak kembali akibat karasteritik tanah tesebut yang selalu bergerak labil saat kemarau," ucapnya.

Makanya, di lokasi-lokasi tersebut pihak kontraktor harus menggunakan batu kapur jenis domato. Sebab, stabilisasi dengan kapur itu bertujuan untuk menurunkan nilai indeks plastisitas dan potensi mengembang, yaitu dengan mengurangi persentase butiran halus atau kadar lempungnya, itu syaratnya harus gunakan batu domato.
Selain karasteritik tanah, ruas jalan Tomata-Beteleme yang sepanjang 25 kilometer itu dalam kondisi rusak berat.

"Tapi kami yakin, pada tahun 2017, kita sudah mulai merasakan dampak perbaikan jalan dari hari kalender kerja yang harus selesai pada 18 September 2018," terangnya.

Menyinggung alat-alat berat yang digunakan perusahaan KSO yang tidak memenuhi standar dan jumlah, Pihak Balai mengaku, sejauh ini pihaknya  terus melakukan pengecekan alat berat yang digunakan perusahaan, yang telah sesuai dengan kontrak kerja.

"Kalau alat berat tidak sesuai dengan kontrak kerja, kami dari balai yang akan menegur langsung," tuturnya.

Sebelumnya, sejumlah anggota DPRD Morowali Utara, mempertanyakan progres pengerjaan jalan nasional ruas Tomata-Beteleme yang hingga akhir tahun 2016 belum ada tanda-tanda pengerjaan. Sementara, proyek yang sama di ruas Beteleme-Tompira sudah hampir selesai pengerjaannya.

"Masyarakat tidak mau tau, apakah itu proyek didanai APBN atau APBD, mereka tetap datang ke DPRD Morut, bahkan tak sedikit yang menyurat mempertanyakan pelaksanaan proyek yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda pengerjaan itu," kata legislator Morut Jabar Lahaji belum lama ini.

Kata politisi PAN itu, proyek multiyears yang didanai APBN itu, yang awal pengerjaannya diresmikan oleh Gubernur Sulteng Longki Djanggola pada 30 September 2015 silam di Morut. Namun, seiring perjalanan waktu, pengerjaan proyek tidak berjalan maksimal.

Dia juga meminta keseriusan pemerintah pusat terutama Kementrian PU, untuk terus meninjau langsung lokasi, melihat kondisi proyek jalan jangan sampai dikerja asal-asalan yang akan merugikan masyarakat Sulteng. Apalagi perusahan yang mengerjakannya dari Jakarta bekerjasama dengan perusahan lokal yang tidak kompeten.

"Kami disini minta keseriusan pemerintah, apalagi pada satu tahun pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo akan mempriorirtaskan infrastruktur jalan di Sulawesi ini," katanya.

Apalagi, ruas jalan Trasn Sulawesi Betelema-Tompira itu menjadi urat nadi perekonomian warga Sulteng yang menghubungkan Sulteng-Sulsel dan Sulteng-Sultra.

"Kami juga bandingkan proyek jalan dari Bungku Selatan, Morowali, Sulteng ke Kendari, Sultra yang pengerjaannya sudah selesai semua, hanya satu titik jalan ini saja di Sulteng yang tidak beres pengerjaannya," ucapnya.

Seperti diketahui, Rabu (30/9/2015) silam, Gubernur Sulteng Longki Djanggola dengan bangga meresmikan proyek jalan Trans Sulawesi tersebut nilai kontraknya mencapai  Rp277.030.319.000,- yang bersumber dari dana APBN Tahun Anggaran 2015-2018.

Kepada kontraktor pelaksana Jaya Konstruksi–Multi Graha KSO, Gubernur Longki Djanggola kala itu, meminta agar proyek miliaran tersebut dikerjakan dengan baik, sesuai  waktu pelaksanaan pekerjaan 1.080 hari kalender, agar masyarakat dapat menikmati infrastruktur jalan dengan baik. Sebab, poros Tomata-Beteleme selama ini dikenal sebagai jalan penuh kubangan seperti kolam ikan.

Proyek jalan tersebut didanai oleh APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Kepala Balai Satuan Kerja Pembangunan Jalan nasional (Satker PJN) Wilayah III Sulawesi Tengah Iskandar Rasyid menjelaskan ruas jalan nasional Tomata-Beteleme yang rusak berat itu totalnya sepanjang 21 kilometer, namun yang akan ditangani pada tahap pertama dengan dana Rp280 miliar tersebut baru sepanjang 21 kilometer.

Dana yang dikeluarkan untuk membiayai pembangunan sepanjang 21 kilometer itu, kata Iskandar, diakui sangat mahal dan dikerjakan cukup lama yakni 1.080 hari kalender terhitung 22 September 2015, karena kondisi tanah yang sangat ekspansif sehingga membutuhkan penerapan teknologi khusus yakni geomembran.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan