Monday, 26 June, 2017 - 08:23

Bayi Penderita Tumor asal Desa Kalukubula Terkendala Biaya

MENDERITA TUMOR - Kepala Desa Kalukubula, Ahlan Adjlan menjenguk Abdul Ahad yang sedang dalam gendongan ibunya di rumahnya, Selasa 14 Maret 2017. (Foto : Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Abdul Ahad umur bayi berusia 1,5 tahun itu hanya mampu menangis. Tumor yang tumbuh di bagian lehernya terus membesar. Sehingga menyebabkan dia sulit bernafas dan sekitan. Apa saja yang sudah dilakukan keluarganya? Berikut laporannya.

SELASA siang 14 Maret 2017, wartawan Metrosulawesi mendatangi alamat bayi malang itu. Tidak begitu sulit menemukan tempat tinggalnya. Abdul Ahad bersama kedua orang tuanya menempati rumah di Jalan BTN Desa Kalukubula, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Sebuah rumah yang ukurannya di bawah standar kesehatan. Rumah ini hanya berlantai tanah. Untuk memberikan sedikit kenyamanan, di atas lantai tanah itu dilapisi karpet kemudian di atasnya ditaruh kasur. Di situlah balita malang itu menghabiskan hari-harinya.

Siang itu, Siama (43) ayah dari Abdul Ahad, sedang membuat  batu merah di samping rumahnya. Sedangkan istrinya, Ronawati (29) sedang menggendong bayinya Abdul Ahad.

Kepada Metrosulawesi, Saima menceritakan awal penyakit yang diderita bayinya itu.

“Anak saya ini menderita penyakit tumor sudah sejak kecil. Awalnya saya menyangka hanya benjolan biasa. Ternyata bukan. Semakin bertambah umurnya juga benjolan di bawah dugunya itu, semakin membesar,” kata Saima.

Penasaran dengan benjolan yang tumbuh di bawah dagu anaknya itu, Saima pun memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Dia memutuskan untuk memeriksakan ke RS Anutapura.

“Tetapi kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Undata,” kata Saima.

Di RS Undata, bayi Abdul Ahad sempat dirawat selama lima hari. Untuk mengetahui jenis penyakitnya, bayi Abdul di-rontgen secara sesaksama. Hasilnya Abdul positif mengidap penyakit rhabdomyoma di regio mandibula (tumor). Atas hasil itu, pihak RS Undata menyarankan agar pengobatan Abdul Ahad dirujuk ke Makassar.

Atas saran itu, Saima mengaku bingung. Ia mengaku sama sekali tak punya uang yang cukup untuk biaya berobat anaknya ke Makassar. 

“Saya sementara ini masih mencari uang untuk membiayai anaknya jika di rujuk ke makassar, karena kerja saya mencetak batu merah, masih belum mempunyai hasil karena musim saat ini yang berubah-ubah, kadang panas, dan hujan, sehingga penghasilan batu merah belum pasti,” ujarnya.

Saima mengaku  hanya diberi satu bulan oleh dokter dari RS. Undata. Bayi Abdul harus dirujuk ke Makassar segera mungkin. Jangan sampai lewat satu bulan. Karena tumor yang hidup di dagunya makin lama semakin membesar.

Untuk meringankan beban biaya, Saima pun mengaku sudah mengurus keanggotaan BPJS Kesehatan. 

“Maka saya ini sementara menunggu BPJS karena keluarnya kartu tersebut, nanti 15 hari saat pengurusan, untuk selama ini belum ada yang memberikan bantuan apapun, baik dari pemerintah yaitu Dinas Sosial maupun dari lainya,” katanya.

Saima mengungkapkan dirinya mempunyai tiga orang anak, Abdul Ahad anak ketiganya, satu orang kakaknya sementara sekolah dan anak keduanya saat ini sementara terbaring tidur.

“Saya menetap di Desa Kalukubula ini sudah dari tahun 2010 berarti sudah 7 tahun, istri saya saat ini yaitu istri kedua saya, kemudian untuk penghasilannya perbulan belum diketahuinya berapa saja pasti dalam mencetak batu merah, karena saat ini cuaca masih kurang baik,” ujarnya.

Saima mengatakan pihak RS Undata, katanya, tidak mempunyai alat untuk melakukan oprasi sehingga anaknya dirujuk ke Makassar.

“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah setempat, agar anak saya bisa terselamatkan secepatnya, karena mengigat waktu yang diberikan oleh dokter hanya sebulan tidak boleh melewati dari sebulan, artinya perlu ada keprihatinan tersendiri dari pemerintah,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Desa Kalukubula Ahlan Adjlan yang juga ikut mengunjungi warganya mengatakan pihaknya juga sangat prihatin dengan warganya, sehingga untuk keberangkatan ke makassar pihaknya akan membantu walaupun seadanya.

“Saya berharap ada keprihatinan juga dari pemerintag kabupaten Sigi, apalagi anak ini dirujuk ke makassar tentunya memerlukan biaya yang cukup besar,” ujarnya.

Ahlan mengatakan pihaknya juga meminta agar pihak terkait dari Dinas Sosial dan dari statistik melakukan pendataan orang yang tidak mampu harus yang akurat.

“Karena mereka yang dari statistik biasa turun langsung dan tidak menanyakan ke kepala dusun atau kepada desa, artinya berikanlah kepercayaan ke Kantor Desa untuk mendata warga, karena yang paling tau warganya yang tidak mampu itu kepala dusun desa ini, jangan membantu, orang yang sudah pernah dibantu,” katanya.

Ahlan berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang terbaik untuk anak ini, karena pihaknya sangat kasihan dengan anak ini, yang menderita tomur, dan terus menangis karena kesakitan di bawah dagunya, yang sedang membesar saat ini. (**)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.