Tuesday, 19 June, 2018 - 07:07

Belajar dari Ibu Neka, Wirausaha Industri Rumah Tangga di Banggai (1)

BERWIRAUSAHA - Rasma Andapa atau disapa Ibu Neka menunjukkan abon produknya saat ditemui di rumahnya di Desa Dimpalon Baru, Kecamatan Kintom, Senin 4 Juni 2018. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)

Penghasilan Rp300 Ribu, Ingin Sarjanakan Anak
 
INILAH buah kesabaran dan kerja keras. Dulu, usahanya merangkak dari rumah beratap rumbia, berlantaikan tanah. Sebuah perusahaan besar kemudian mengulurkan tangan. Ibu rumah tangga itu pun bangkit, perlahan keluar dari lingkaran kemiskinan yang mendera.
 
Dia disapa Ibu Neka. Tapi, nama sebenarnya Rasma Andapa. Itu karena dia lahir di hari ketika seantero Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1973. Ya, pada lambang Garuda Pancasila terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka nama Neka melekat padanya. Kata Bhinneka disingkatnya menjadi Neka.

Begitulah alasan sederhana, mengapa menggunakan brand atau merek “Ibu Neka” pada kemasan abon yang diproduksinya. Meski dia akui, dalam merintis usaha abon ini, tak sesederhana saat memutuskan menggunakan merek “Ibu Neka”.

Metrosulawesi dan belasan wartawan lainnya dari Palu mengunjungi rumahnya di Desa Dimpalon Baru, Kecamatan Kintom, Senin 4 Juni 2018, siang. Desa ini sekitar 30 kilometer dari Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Rumahnya berpagarkan bambu, sekitar 50 meter dari kantor desa atau 300 meter dari Jalan Trans Sulawesi.

Neka adalah wirausaha industri rumah tangga. Ibu beranak dua ini memproduksi abon ikan sekaligus memasarkannya. Dari usahanya yang digeluti sejak tiga tahun lalu, dia berani merajut mimpi: menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi. Penghasilannya dari usaha abon saat ini sekitar Rp300 ribu per bulan. Dia dan suaminya yang petani sisihkan penghasilan agar kelak anaknya bisa sarjana.

Saat memasuki rumahnya yang berlantai semen, Neka segera mengajak rombongan wartawan ke ruang tengah, dekat dapur. Di sinilah galerinya. Sederhana. Hanya ada sebuah lemari kaca. Di samping lemari, ada meja kecil. Itu adalah meja kerjanya. Ada buku catatan tergeletak. Tampak juga plakat tanda penghargaan dipajang. Nota pesanan pelanggan disusun, ditancapkan pada paku di dinding.

Abon yang dikemas 100 gram dengan plastik aluminium foil disusun rapi dalam lemari kaca. Pada kemasan abon itu, tertulis “Ole Ole Khas Luwuk Banggai” disertai gambar ikan.

Menurut Neka jenis ikan sebagai bahan baku utama produk makanan yang diproduksinya, di antaranya ikan deho, cakalang, dan malalugis. Dia tahu persis cara membedakan beberapa jenis ikan dan tahu mana yang bagus digunakan sebagai bahan abon.

“Sebelumnya saya memang jualan ikan,” kata Neka, memulai percakapan dengan wartawan.

Pada kemasan abon itu, dilengkapi dengan komposisi bahan, petunjuk kedaluwarsa, dan netto (berat bersih). Dua pilihan rasa: pedas dan tidak pedas. Bagian depan kemasan aluminium foil itu transparan sehingga tampak abon kecoklatan.

Neka juga mencantumkan nomor telepon seluler yang bisa dihubungi. Petunjuk pada kemasan abon itu komplet untuk sebuah produk makanan. Ada juga nomor tanda terdaftar sebagai usaha rumahan dari pemerintah setempat.

“Ebe... sebelum pakai kemasan seperti ini, dulu masih pakai yang begini,” katanya, sembari menunjukkan toples plastik kecil yang diambilnya dari dapur.

Pada bagian lain kemasan abon itu tampak jelas tulisan berhuruf kapital “Kelompok Binaan” diikuti logo Donggi Senoro.  Ya, usaha abon “Ibu Neka” ini adalah binaan PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP) ataucorporate social responsibility (CSR).

DSLNG adalah perusahaan yang membeli dan mengolah gas alam menjadi produk LNG. DSLNG punya kilang di Desa Uso, Kecamatan Batui, Banggai, jauh dari rumah Neka, sekitar 20 kilometer. Usaha abon “Ibu Neka” menjadi binaan CSR DSLNG sejak 2015.

Dia menceritakan, awalnya bersama 15 orang lainnya mengikuti pelatihan pengelolaan usaha pengolahan air kelapa dan keripik buah di Malang pada Maret 2015. Dia diajak oleh pihak PT DSLNG yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Banggai.

Karena beberapa hari di tempat pelatihan, maka sebelum berangkat, Neka bikin abon ikan. Sebagian dia bawa untuk bekal di perjalanan ke Malang, dan sebagian lainnya untuk dua anaknya dan suami yang ditinggal di rumah.

“Saya bawa abon, taruh di botol. Kita ini kan orang Saluan, tidak bisa lapar di jalan. Jadi saya bawa bekal, nasi burasa, dan abon ikan,” cerita Neka.

Tanpa sengaja, pihak dari DSLNG yang mendampingi peserta pelatihan melihat abon ikan yang dibawanya itu. Lantas dicicipinya.

“Apa ibu yang membuat abon ini? Saya bilang, kemarin di Kintom, ikan luar biasa melimpah, jadi saya pikir, bikin abon.”

“Kalau pulang dari Malang, saya mau mampir di rumah ibu,” kata Neka menirukan percakapannya dengan Ani di Malang, saat jeda makan di lokasi pelatihan.

Ani yang dimaksudkan Neka adalah Rohani Simbolon yang saat ini merupakan CSR Programme Officer DSLNG.

Setelah itu, pihak CSR DSLNG mulai pesan. Tapi, abon buatan Neka saat itu masih mengandung banyak minyak. Maklum, peralatan masih sederhana.

“Pada waktu itu saya tidak tahu kalau perusahaan (DSLNG) mendampingi saya untuk usaha abon ini,” ujarnya.

Sampai pada akhirnya, rezeki datang menghampiri Neka. Ada pesanan dalam jumlah banyak. Neka senang bukan kepalang.

“Ada pesannya, Pak Jokowi mau datang ke Banggai,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo memang berkunjung pada sebuah acara peresmian proyek di Banggai, Agustus 2015. Saat itu, kata Neka pesanan yang masuk sekitar 80 toples kecil atau Rp3 juta.

“Sebelum abon itu diberikan kepada Presiden, dokter khususnya bilang, ini (untuk dikonsumsi) Pak Presiden (harus) higienis. Setelah (saya) berangkat, di sana sudah ada depe PIRT (tanda produk industri rumah tangga) dari Dinas Kesehatan,” kata Neka.

Menyebut Joko Widodo, Neka kian bersemangat.

“Saya sudah dua kali bertemu Jokowi (Presiden Joko Widodo). Pertama, waktu peresmian itu dan kedua di Sail Tomini (Parigi Moutong pada September 2015).”

Kini, tiga tahun setelah bertemu Joko Widodo, semangatnya sedikitpun tak padam. Usahanya terus tumbuh.

“Saya bisa menghidupi keluarga. Rumah saya sudah terbangun. Saya menangis kalau ingat itu lagi,” katanya.

Sesenggukan. Kali ini, suaranya jauh lebih pelan.

“Ini mengundang air mata lagi, karena banyak kisah-kisahnya sehingga sampai seperti ini,” katanya, menyembunyikan wajah ovalnya dengan tangan.

Neka terhenti sejenak. Menarik nafas. Matanya berkaca-kaca. Dia tak sanggup membendungnya. Air bening mengalir dari kelopak matanya. Menyekanya dengan jilbabnya. Terisak.

“Saya punya rumah tidak bagus, atap rumbia, tanah depe lantai. Perusahaan (DSLNG) beri bantuan tahun 2017. Ini baru jadi, belum dipasangdepe keramik dengan pencucian tangannya. Seluruhnya dari perusahaan, tapi saya tidak minta,” katanya.

Dia bersyukur dengan kondisinya saat ini. Punya rumah dengan tiga kamar. Bukan lagi atap rumbia yang kerap bocor saat musim hujan. Sejurus kemudian, bekas sekuriti di sebuah perusahaan di Banggai itu beralih pada topik lain. Dia tak ingin larut dalam kesedihan.

“Anak saya dua. Yang satu sebelum pendampingan ini sudah lulus SMA. Waktu itu, saya memang belum mampu sekolahkan anak saya (sampai perguruan tinggi). Untuk anak saya yang kedua, saya berdoa, dengan adanya usaha ini mau sekolahkan (sampai perguruan tinggi). Sekarang anak yang kedua kelas 2 SMP,” kata ibu 47 tahun ini.

Kepada wartawan, Neka membocorkan resep membuat abon sehingga bisa bertahan tidak rusak sampai empat tahun. (bersambung)