Tuesday, 19 June, 2018 - 07:09

Belajar dari Ibu Neka, Wirausaha Industri Rumah Tangga di Banggai (2 habis)

BERWIRAUSAHA - Rasma Andapa atau disapa Ibu Neka (kiri), didampingi External Communication Supervisor DSLNG, Doty Damayanti menunjukkanabon produknya saat ditemui di rumahnya di Desa Dimpalon Baru Kecamatan Kintom, Banggai Senin 4 Juni 2018. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)

Didampingi CSR DSLNG, Abon Tahan Empat Tahun
 
RASMA Andapa atau disapa Ibu Neka menyadari betul bahwa tanpa pendampingan dari DSLNG, usahanya tak bisa berkembang secepat ini. Tanpa sungkan, Neka pun membocorkan bumbu dapurnya.
 
Tahun 2015 silam, Neka dengan senang hati menyambut program pendampingan dari PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG). Dia meninggalkan usaha keripik kelapa yang dia jalani sebelumnya. Dari berbagai pelatihan yang diinisiasi oleh DSLNG, Neka belajar tentang cara membuat abon yang higienis, bikin kemasan yang menarik, pembukuan, keuangan, sampai pada teknik pemasaran. Menyusul sejumlah bantuan, tapi bukan dalam bentuk rupiah.

Neka menunjukkan penggiling daging, meja, lemari, dan panci. “Ini bantuan dari DS (Donggi Senoro),” katanya saat ditemui belasan wartawan dari Palu di rumahnya di Desa Dimpalon Baru Kecamatan Kintom, Bangai, Senin 4 Juni 2018, siang.

Saat ditanya soal keuntungan yang diperoleh dari usahanya ini, Neka justru memperlihatkan buku catatannya. Catatan itu tertanggal 3 Januari 2018. Rinciannya, 50 kilogram ikan segar bisa menghasilkan 80 bungkus abon kemasan 100 gram. Jika harga jual Rp30 ribu, maka pendapatan kotor Rp2,4 juta. Setelah dikurangi dengan modal, maka hasil bersih Rp670 ribu. Dalam sebulan, rata-rata terjual 40 bungkus. Artinya, keuntungan yang diperoleh Rp335 ribu.

“Itu kalau sudah laku semua. Tapi, kan masih harus dijual dulu,” ujarnya.

Dia pun merincikan modal produksi pada catatan dalam bukunya, di antaranya pembelian bahan ikan segar 50 kilogram sebesar Rp1,4 juta. Dia juga mencatat pengeluaran untuk rempah, kemasan, upah tenaga kerja, dan lainnya sehingga modalnya sekali produksi Rp 1.730.000.

“Saya tahu bikin catatan begini karena dilatih sama Donggi Senoro,” kata Neka menjelaskan perihal buku itu.

Setelah dikalkulasi modal dan hasil bersih, maka dia menjual satu bungkus abon kemasan 100 gram seharga Rp30 ribu.

“Kalau beli di sini harganya Rp 30 ribu, tapi kalau di swalayan sudah Rp 35 ribu per bungkus,” jelasnya.

Selain dijual di rumahnya, sebagian abon-abon itu juga dititipkan di swalayan, di Banggai.

“Saya jual di swalayan, bandara (Bandar UdaraSyukuran Aminuddin Amir , Banggai), dan di kantor Dinas UKM Koperasi Banggai. Biasa juga ada orang yang pesan dari Ampana (Kabupaten Tojo Unauna). Supaya cepat terjual, saya biasanya bawa ke kantor-kantor pemerintah, saya isi di tas ransel,” kata Neka.

DSLNG juga membantunya memasarkan abon buatannya secara online.

“Biasanya pesan 20, 30, atau 40 bungkus. Tapi tidak selalu ada pesanan. CSR Donggi Senoro yang banyak membantu pemasaran juga,” katanya.

Ditanya soal cara pembuatan abonnya, dia bilang intinya adalah harus higienis. Dia mengaku, selain mendapat pelatihan dari CSR DSLNG, dia juga pernah mendapatkan ilmu itu dari pengalamannya bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perusahaan ekspor udang.

“Pencucian ikan, tidak bisa di air tawar. Karena ikan laut, jadi dicuci pakai air laut juga. Air lautnya dimasak supaya ikan tetap segar. Ikan deho, cakalang, malalugis tidak bisa ikan yang di-es, harus ikan segar,” jelasnya.

Dia melanjutkan, bukan hanya ikan yang higienis, tapi juga saat proses pembuatannya.

“Saya juga kan kader kesehatan, jadi harus bersih, kuku bersih, rempah juga bersih,” katanya sembari menunjukkan kukunya kepada wartawan.

Dikatakan, ikan dimasak bukan pakai kompor gas, tapi kayu bakar. Menurutnya, menggunakan kayu bakar akan menghasilkan rasa yang khas. Dari berapa resep itu, tak heran jika abon buatannya bisa bertahan sampai tiga atau enam bulan sebagaimana tertera pada kemasan. Apalagi, kata dia sudah ada bantuan alat pengering atau peniris minyak dari DSLNG. 

“Kalau standar kedaluwarsa bisa tiga sampai empat tahun. Saya bisa buktikan itu. Kalau disimpan di kulkas, bisa tahan lebih lama lagi,” kata Neka.

Terima penghargaan

Neka tak nikmati sendiri bantuan dari DSLNG. Dia melibatkan kerabatnya yang menurutnya secara ekonomi juga kurang mampu, sama seperti dirinya. Neka dan anggotanya bernaung dalam wadah kelompok usaha rumah tangga : Kelompok Wanita Mandiri. Ada tujuh orang dalam kelompoknya. Neka  juga menularkan ilmu abon kepada anggotanya.

“Banyak yang bisa bikin abon,” katanya.

“Tapi, malas,” sambungnya dengan suara pelan, setengah berbisik.

Pada 23 Februari 2018, kelompoknya menerima penghargaan dari PT DSLNG. Plakat penghargaan berbahan fiber itu dengan bangga dia pajang di meja, dekat lemari. Kelompok Wanita Mandiri sebagai pemenang wirausaha industri rumah tangga. Plakat itu ditandatangani oleh Tomomasa Nishimura (Presiden Direktur) dan Aditya Mandala (Direktur Urusan Korporasi).

Selain pendampingan CSR DSLNG, Neka juga mendapat bantuan dari pemerintah daerah di antaranya mesin pendingin berukuran cukup besar. Tapi, bantuan tahun 2017 itu tidak digunakan sebagaimana mestinya karena Neka tak punya generator set (genset) untuk suplai listrik yang cukup besar.

Selama sekitar 30 menit melayani belasan wartawan yang bergantian bertanya, Neka pun mengantar pulang tamunya hingga di pintu.

“Ebe... pulang, tapi belum beli abon,” sindir Neka. Tampak raut wajahnya kecewa, tapi berusaha tersenyum.
 
TJSP DSLNG

External Communication Supervisor DSLNG, Doty Damayanti mengatakan, DSLNG melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP) atau corporate social responsibility (CSR) berupaya membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan, salah satunya Rasma Andapa atau Neka. Dia berharap, ke depan Neka bisa mandiri dan cita-cita menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi bisa tercapai.

“Bersama-sama dengan pemerintah daerah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Doty Damayanti didampingi Media Relation Officer PT DSLNG Rahmat Azis yang membawa belasan wartawan ke rumah Neka.

Program pendampingan terhadap industri rumah tangga yang dikelola Neka hanya satu dari sekian banyak program TJSP DSLNG. Dinukil dari buku “Kontribusi TJSP PT Donggi-Senoro LNG” yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut, mengungkapkan, bahwa kegiatan TJSP DSLNG telah dimulai sejak 2008 dengan realisasi anggaran total USD 6,673,309 dengan rata-rata USD 700,000 per tahun.

Anggaran ini direalisasikan melalui berbagai program pengembangan masyarakat berkelanjutan yang menyentuh masyarakat di 22 desa, di 3 kecamatan, yaitu Batui, Kintom, dan Nambo. Dalam implementasinya, DSLNG bekerja sama dengan mitra strategis di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Program TJSP dilaksanakan pada lima sektor utama yaitu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, infrastruktur publik, dan lingkungan. Namun dari lima sektor tersebut, pemberdayaan ekonomi mendapatkan porsi yang terbesar yakni pada 2015 sebesar 73 persen, 2016 (39 persen), dan 2017 (55 persen).

Melalui program TJSP, perusahaan ini juga melaksanakan program pembinaan kepada tiga koperasi yang menyasar perempuan, petani dan nelayan. Tiga koperasi yang menjadi binaan program TJSP DSLNG sejak 2017 yakni: koperasi microfinance “Posaanguan Boune Banggai” di Kecamatan Batui; koperasi perikanan “Mitra Bahari Bakinbo” (Kecamatan Nambo); dan koperasi pertanian “Momposaangu Tanga Nulipu” di Kecamatan Kintom.

Ditemui terpisah, Senior Manager Relation Communication PT DSLNG, Shakuntala Sutoyo mengakui, program TJSP DSLNG fokus pada pengembangan ekonomi masyarakat di tiga kecamatan terdekat dengan kilang. Shakuntala Sutoyo menyebutnya ring satu yakni Batui, Kintom dan Nambo. 

“Keseluruhan strategi kita adalah pada perekonomian masyarakat. Bidang lain seperti pendidikan dan kesehatan juga juga kanuntuk mendorong perekonomian,” kata Shakuntala Sutoyo di Banggai, Selasa 5 Juni 2018.

Kilang DSLNG terletak di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Namun, menurut Shakuntala Sutoyo, program TJSP DSLNG, tidak hanya pada tiga kecamatan, melainkan juga menyentuh Kabupaten Banggai secara keseluruhan melalui berbagai program yang dikerjasamakan dengan dinas terkait.

Bupati Banggai Herwin Yatim mengakui kontribusi DSLNG dalam memajukan perekonomian masyarakat Banggai, khususnya di tiga kecamatan.

“Peran serta perusahaan, kita dorong agar lebih maksimal. Tidak hanya di daerah situ (tiga kecamatan). Saya minta agar pikirkan Banggai secara umum. Sudah cukup banyak yang sudah diperbuat oleh perusahaan, tapi ke depan kita minta ditingkatkan lagi,” kata Herwin Yatim di Banggai, Selasa 5 Juni 2018. (***)


Editor: Udin Salim