Monday, 18 June, 2018 - 19:58

Benang Kusut Kekerasan di Poso, Siapa Salah Urus

Salah satu sudut Kota Poso. (Foto : Ist)

Poso, Metrosulteng.com - Pembunuhan sadis yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (18/9/2014) pukul 21:31 WITA terhadap salah seorang petani M. Fadli (50) yang tewas digorok didepan rumahnya di Desa Taunca, Dusun Padalembara, Poso Pesisir Selatan itu bukanlah yang pertama kali terjadi.

Serangkaian kekerasan dibekas daerah konflik itu seperti benang kusut, sambung menyambung tak pernah ada ujungnya. Padahal Polisi di Poso setelah kejadian itu telah mensinyalir bahwa kelompok pelaku pembunuhan lima orang mengenakan penutup kepala sebo dengan menenteng senjata otomatis adalah kelompok DPO Poso yang selama ini bersembunyi dihutan-hutan Poso.

Bahkan saksi kunci, Isteri korban, yang membukakan pintu saat para pelaku mengetuk pintu rumah lalu menyeret korban yang sedang menonton TV keluar dari rumah itu pelaku sempat mengucap kepada korban, 'Kamu bantu polisi memata-matai kami.'

Sehari hari setelah peristiwa itu, kelompok yang yang menamakan diri Mujahidin Indonesia Timur (MIT) mengeluarkan pernyataan bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap M. Fadli yang di muat beberapa situs online Islam seperti Arrahman.com pada Jumat, 19 September 2014.

Pernyataan yang dikeluarkan MIT itu tidaklah mengherankan. Sejak Santoso alias Abu Wardah yang menyebut dirinya sebagai pimpinan perang MIT yang bersembunyi dihutan-hutan Poso Pesisir itu kerap menggunakan sosial media sebagai alat propaganda untuk menyampaikan tujuannya dan mengajak orang mengikuti jalannya.

Sejak Santoso bersembunyi di hutan-hutan Poso pada tahun 2010. Setidaknya sudah tiga kali pria yang pernah berjualan ikan dan sayuran itu tampil di sosial media Youtube. Yang pertama Ia mendeklarasikan dirinya sebagai Panglima MIT  dan mengajak masyarakat Poso untuk mengikuti jejaknya. Didalam video itu, Santoso kerap dikawal pria bersebo yang memegang senjata otomatis laras panjang.

Dalam beberapa kesempatan Polisi terus menghimbau masyarakat tidak terprovokasi dengan ajakan Santoso. Upaya pengejaran terus dilakukan namun Santoso hingga kini belum tertangkap. Hanya beberapa anak buahnya yang tewas dalam baku tembak dalam dua tahun terakhir ini. Tak sedikit juga anggota Polisi di Poso yang tewas menjadi korban serangan membabi buta kelompok Santoso.

Kapolres Poso  AKBP  Susnadi mengaku, Kepolisian terus menggencarkan pasukan mencari kelompok pelaku pembunuhan. Hanya saja medan yang sulit dipegunungan kadang menjadi kendala pasukan dilapangan.

Terkait dengan edaran MIT yang bertanggung jawab atas pembunuhan M. Fadli. AKB Susnandi mengatakan, beredarnya surat kalim MIT di beberapa situs online, Polisi masi menunggu hasil penyelidikan dengan mengembangkan informasi dari sejumlah saksi dan barang bukti. Polisi tidak ingin masyarakat menjadi korban atas beredarnya informasi yang belum bisa dipertanggung jawabkan.

Sejumlah masyarakat mengaku, kekerasan  yang terjadi di Poso tidak dapat dipisahkan dengan masa lalu konflik itu. Namun, masa lalu yang telah dikubur dalam-dalam oleh masyarakat Poso itu tidak dibarengi dengan  kesungguhan pemerintah dalam hal ini Pemda Poso membangun ekonomi masyarakat  yang adil dan sejahtera.

"Coba tanya, satu  persatu masyarakat Poso baik yang dulu pernah terlibat konflik, pasti semua tidak ingin konflik kembali terjadi, semua sudah hidup berdampingan itu artinya  semua ingin damai, tapi damai yang kita rasakan saat ini macam tidak normal, damai tapi sulit dapat kerja, banyak anak muda jadi pengangguran," kata Kamal warga Poso Pesisir.

Pemerataan pembangunan dan kesejahteraan juga terasa tidak adil.

"Jangan semua persoalan kekerasan yang terjadi selalu  disalahkan kepada polisi dan masyarakat. Kita juga harus melihat apa peran Pemda dalam membangun masyarakat, membangun Poso, mensejahterakan masyarakat," urainya.

Ia mengaku, hampir tidak ada program pembangunan dan kesejahteraan Pemda yang betul-betul menyentuh masyarakat dipinggiran Poso seperti Poso Pesisir. Ia menuntut Pemda juga bertanggung jawab atas kekerasan yang belum berujung itu.