Wednesday, 20 June, 2018 - 17:09

BI Proyeksi Ekonomi Sulteng 2018 Tumbuh 7,8%

Miyono. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah secara keseluruhan di tahun 2018 akan tumbuh sebesar 7,4 hingga 7,8 persen. Optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya momen pilkada yang akan berlangsung serentak di sejumlah daerah.

Kepala BI Perwakilan Sulawesi Tengah Miyono berharap momen pilkada dapat memengaruhi pergerakan ekonomi Sulawesi Tengah ke arah yang positif. Selain itu, sektor-sektor penggerak roda ekonomi baru di daerah ini juga diharap bisa berdampak secara positif, diantaranya ada Kawasan Ekonomi Khusus, yang diharap dapat menggerakkan perekonomian Sulawesi Tengah.

Adanya momen pilkada diyakininya dapat menjadi pendongkrak ekonomi di triwulan II. Sehingga Miyono menyebut pertumbuhan ekonomi triwulan II akan lebih tinggi dibandingkan triwulan pertama.

“BI memproyeksikan di triwulan II dua itu kami prediksikan (ekonomi Sulteng) akan tumbuh lebih tinggi dari triwulan I. Triwulan I kami perkirakan di kisaran 6,5 sampai 6,9 persen. Lalu di triwulan II nanti kami perkirakan pertumbuhan ekonomi Sulteng akan berada di 6,8 sampai 7,2 persen,” kata Miyono saat ditemui di kantornya baru-baru ini.

“Dan kalau mencapai angka ini, saya pikir ini suatu hal yang baik. Lebih dari itu, saya pikir kalau secara keseluruhan di 2018 itu kita perkirakan 7,4 sampai 7,8 persen. Tapi kita tetap optimis akan tumbuh lebih baik di 2018 dibandingkan 2017, secara nasional juga demikian,” jelas Miyono.

Meski begitu, Miyono menyebut capaian pertumbuhan ekonomi pada 2015 yang mencapai angka dua digit sepertinya akan sulit untuk bisa terulang. Namun, hal itu bukan tidak mungkin bisa terjadi jika pemerintah daerah mampu mendatangkan investor untuk berinvestasi di Sulawesi Tengah.

“2015 emang kita tumbuh dua digit, tinggi malah 15 (persen) koma sekian. Kalau untuk kondisi sekarang itu kita jujur saja akan sulit untuk tumbuh seperti itu. Kenapa di 2015 kita tumbuh tinggi, karena disana ada investasi, di mana pada waktu itu memang investasi terutama di Morowali dan Banggai, ada proses kontruksi dan macam-macam gitu kan,” ujarnya.

“Sehingga memang investasinya besar waktu itu, sehingga pertumbuhan ekonominya juga sangat tinggi,” jelasnya.

Namun kemungkinan untuk kembali tumbuh di angka dua digit bisa saja jika investor kembali berinvestasi dengan jumlah yang besar. Khusus KEK Palu, Miyono berharap pemerintah bisa memaksimalkannya untuk menggait pelaku investasi.

“Belum lama kami melakukan kunjung ke KEK Palu ketemu dengan pimpinan KEK Palu. Mudah-mudahan bisa mendatangkan sumber investasi seperti di Morowali,” katanya.

Dia berharap KEK Palu bisa menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah, meskipun hingga saat ini baru ada satu perusahaan yang beroperasional di KEK Palu.

“Tetapi kalau untuk (tumbuh) 2 digit memang kalau saya berat, kecuali pemerintah daerah bisa mendatangkan investor dan langsung bener-bener diimplementasikan itu mungkin. Tapi kalau investasinya masih biasa-biasa, untuk mencapai 2 digit sepertinya akan sulit,” katanya.

Tahun lalu, ekonomi Sulawesi Tengah sendiri tumbuh 7, 14 persen. Pertumbuhan ekonomi Sulteng ditentukan oleh sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, kontruksi, dan perdagangan.

Tags: