Wednesday, 29 March, 2017 - 05:51

BI Sulteng Waspadai Inflasi Akibat Tarif Listrik

Miyono. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Kebijakan tarif dasar listrik berdampak pada inflasi Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Februari 2017 lalu. Dari inflasi Kota Palu yang sebesar 0,29 (mtm) pada Februari lalu, tarif listrik menyumbang inflasi sekitar 0,19 persen, berada di urutan kedua setelah cabai rawit yang mengalami inflasi sebesar 0,21 persen.

Sebelumnya, pemerintah mengambil kebijakan berupa pencabutan subsidi listrik bagi pelanggan rumah tangga secara bertahap mulai 1 Januari 2017 lalu. Pelanggan yang terkena pencabutan subsidi itu merupakan rumah tangga yang menggunakan listrik golongan 900 VA yang tidak termasuk dalam rumah tangga miskin dan tidak mampu. Dengan pencabutan subsidi ini, tarif yang dibayar naik sekitar 80-90 persen atau bahkan lebih.

Mengenai kenaikan tarif listrik tersebut, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah berharap tidak menjadi pemicu tingginya inflasi di Kota Palu ke depan. 

“Saya tidak ingin kebijakan-kebijakan ini (kebijakan tarif listrik) tekanannya akan lebih tinggi, sehingga kami tadi (Senin) melakukan FGD,” kata Kepala BI Sulteng Miyono di kantornya, Senin 6 Maret 2017.

Pada Februari lalu Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,29 persen. inflasi tersebut merupakan inflasi tertinggi pada Februari sejak beberapa tahun terakhir. Biasanya, pada Februari Kota Palu justru mengalami deflasi. Hal ini disebabkan terjadinya inflasi yang cukup tinggi pada sejumlah komoditas, terutama cabai rawit, tarif listrik dan upah tukang.

“Belum lagi bahwa Januari ada kebijakan kenaikan tarif listrik, dan akan diberlakukan per dua bulan sekali. Jadi Maret ini kemungkinan ada lagi (kenaikan tarif listrik),” kata Miyono.

Pihak BI sebelumnya telah melakukan Fokus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pejabat pemerintahh provinsi untuk membahas dan mengevaluasi inflasi Sulawesi Tengah serta menentukan upaya-upaya yang akan dilakukan untuk dapat mengendalikan inflasi.

“Inflasi Kota Palu Februari yang 0,29 (mtm) itu turun dibandingkan bulan sebelumnya, namun YoY-nya masih terbilang tinggi,” katanya.

Inflasi, kata dia, harus tetap terjaga. Sebab, pengaruh inflasi terhadap ekonomi suatu daerah maupun negara sangat berpengaruh. Jika pada suatu daerah tidak mengalami inflasi juga bisa berakibat pada lesunya sistem perekonomian, produksi pun bisa berkurang.

Begitu pun sebaliknya, jika inflasi terlalu tinggi maka akan menyebabkan daya beli konsumen tergerogoti karena harga tinggi, hal ini bisa menyebabkan ekonomi masyarakat tergerus.

“Olehnya, inflasi kisarannya itu paling tidak di sekitaran 2 persen. 2018 BI  targetkan inflasi di kisaran 3 persen. Di 2017 itu kisarannya (inflasi) di 4 persen, dan di 2018 sudah 3 persen,” ujarnya.

“Kita harus menggiring agar inflasi ke arah sana. Sehingga perlu disiapkan kesiapannya secara struktural,” sebut Miyono.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.