Monday, 26 June, 2017 - 08:20

BNI Syariah-JES Palu Perkuat Sosialisasi Ekonomi Syariah

BERPOSE - Kepala BNI Syariah A Muhammad Hatta Tajang bersama wartawan di Kota Palu yang tergabung dalam Jurnalis Ekonomi Syariah, Jumat 7 April 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Cabang Palu bersama Jurnalis Ekonomi Syariah (JES) mendorong perkembangan prinsip ekonomi syariah melalui upaya-upaya sosialisasi. Ke depan, bank syariah bersama sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Jurnalis Ekonomi Syariah bersama-sama secara intensif akan mensosialisasikan prinsip ekonomi sesuai ajaran Islam itu.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor BNI Syariah Cabang Palu A Muhammad Hatta Tajang dalam diskusi bersama sejumlah wartawan di Palu, Jumat 7 April 2017.

“Ke depan akan ada (program) Putih Abu-abu, dimana kita akan masuk ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi terkait prinsip-prinsip ekonomi syariah,” kata Hatta Tajang.

Selain menyasar sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan lembaga atau instansi lainnya juga rencananya akan disasar untuk sosialisasi terkait ekonomi syariah.

Menurutnya, seluruh pihak harus mulai memikirkan pentingnya melakukan praktik ekonomi dengan prinsip syariah yang berlandaskan hukum positif, Alquran dan Sunnah. Khusus sistem ekonomi syariah di perbankan, ia membandingkan antara bank konvensional dan bank syariah.

Bank syariah yang menggunakan kaidah Islam merupakan sistem perbankan yang tidak mengandung unsur riba, transaksi yang digantungkan pada ketidakjelasan atau untung-untungan, transaksi yang objeknya tidak jelas, haram dan transaksi yang menimbulkan ketidakadilan.

“Misalnya, dalam perbankan konvensional itu ada sistem bunga saat nasabah melakukan kredit. Nah yang pertama disampaikan saat nasabah ingin melakukan kredit itu soal bunga, soal persentase, ini diharamkan dalam agama karena melipatkan keuntungan. Di kami (BNI Syariah) tidak ada yang seperti itu, adanya bagi hasil,” ujar dia.

Pada bank syariah penyerapan dananya menggunakan prinsip wadi’ah dan prinsip mudhoroba atau bagi hasil, sehingga lebih adil dan tidak merugikan pihak manapun, baik pihak perbankan maupun nasabahnya.

Sistem yang digunakan di bank syariah berbanding terbalik dengan bank konvensional yang menghimpun dana maupun layanan lainnya seperti sistem pembiayaan dengan sistem hitungan keuntungannya sudah dipastikan di awal berdasarkan persentasi bunga.

Atau jika dibandingkan, pada perbankan syariah hanya melayani dan melakukan investasi yang halal saja, sementara pada bank konvensional melakukan investasi halal- ‘haram’.

“Bank Syariah lebih adil dan berkeadilan,” katanya.

Namun untuk mengajak masyarakat beralih ke sistem perbankan syariah menurutnya memang masih menjadi pekerjaan rumah, sebab dengan terbiasa dan ketergiuran keuntungan dunia yang menjanjikan menjadikan masyarakat luas masih lebih memilih bank konvensional yang memang sudah ada jauh lebih dulu sebelum hadirnya bank syariah.

Namun ia yakin pola pikir masyarakat dapat diubah dengan adanya sosialisasi yang intens dan turut campur semua pihak, termasuk jurnalis, dalam mensosialisasikan sistem ekonomi syariah ke masyarakat.

Sementara itu, Ketua Jurnalis Ekonomi Syariah Jafar G Bua juga mengakui bahwa saat ini prinsip ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah memang masih belum banyak diminati oleh masyarakat, khususnya di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hal ini juga dibuktikan dengan masih sangat jarangnya bank syariah di daerah ini.

”Nah sekarang persoalannya adalah kenapa bank syariah ini kurang populer, padahal sebagian besar masyarakat di Indonesia, bahkan di Sulawesi Tengah itu muslim,” sebut Jafar yang juga wartawan aktif di salah satu media nasional itu.

Olehnya, upaya sosialisasi terkait ekonomi syariah ini diharapkan kedepan dapat mendorong masyarakat beralih untuk mengikuti prinsip ekonomi syariah sesuai ajaran Islam.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.