Saturday, 25 November, 2017 - 11:30

BNNK Palu Temukan Ratusan Pil PPC

AKBP Sumantri Sudirman.

Palu, Metrosulawesi.com - Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Palu menemukan ribuan butir pil PCC (Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol) yang coba dibawa oleh salah seorang tak dikenal di sekitar wilayah Kecamatan Tatanga, Sabtu pekan lalu.

Kepala BNNK, AKBP Sumantri Sudirman mengatakan penemuan barang PCC tersebut kali pertama terjadi di Kota Palu.

“Kronologisnya adalah pada 11 November siang pihaknya mendapat info dari seorang informan, bahwa ada seorang laki-laki yang membawa narkotika yang belum diketahui jenisnya,” kata Sumantri di kantornya, Senin, 13 November 2017.

Pada sekitar pukul 12.30 wita, kata Sumantri, lelaki yang dicurigai tersebut melintas di Jalan Kemiri, lalu dilakukan pengejaran oleh tim BNNK Palu. Pelaku yang lari mengendarai kendaraan roda dua tanpa nomor polisi tersebut sempat menerobos lampu merah di perempatan Jalan Gajah Mada.

“Di sekitar Jalan Danau Talaga, pelaku kemudian membuang barang yang dicurigai terbungkus kantong plastik berwarna hitam. Sebagian tim BNNK Palu terus mengejar pelaku, namun akhirnya pelaku berhasil lolos,” jelasnya.

Barang bukti yang dibuang pelaku, kata Sumantri, berisi 2.078 butir PCC dan pil PCC lain dengan merk dagang Somadril, yang terbagi dalam 20 strip.

“Ini akan kita tindak lanjuti, kami akan mengundang Dinas Kesehatan dan Balai POM. Kita tentu akan terus menyelidiki, dan pengejaran pelaku juga kita terus akan lakukan,” ujar AKBP Sumantri.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu, Dr. Royke Abraham mengungkapkan sejak 2013, obat PCC telah dilarang beredar. Untuk saat ini pihaknya terus melakukan pengawasan reguler terhadap peredaran obat keras di Kota Palu.

“Yang dilarang beredar saat ini adalah corisoprodol. Jadi obat yang mengandung corisoprodol dilarang beredar, bukan yang mengandung parasetamol dan caffein,” kata Royke di Palu beberapa waktu lalu.

Royke menjelaskan banyak nama lain dari obat jenis PCC (parasetamol, caffein, corisoprodol).

“Nama lain obat PCC banyak, ada yang namanya somadril, carmopen. Intinya sejak 2013 obat yang mengandung corisoprodol sudah dilarang produksinya, dicabut izin edarnya,” jelasnya.

Royke mengatakan pihaknya terus melakukan pengawasan dan penelusuran keberadaan obat jenis PCC di Kota Palu.

“Kita tidak menjamin ini tidak akan beredar di Palu. Tapi hingga saat ini, kami belum menemukan obat jenis PCC di Kota Palu,” katanya.

“Mungkin karena kita sering sidak, mereka sembunyikan obat PCC nya. Nanti kami akan cari waktu dimana para penjual ini akan lengah, dan kami akan lakukan sidak yang tak terduga,” katanya.

Menurutnya, jalur suplai obat ini harus diberantas.

“Ini teori suplai dan demand. Kalau suplai kita tidak bisa berantas, sindikatnya, atau pabrik-pabrik gelapnya, obat PCC ini tetap akan ada. Dan demand (permintaan), kenapa ada pelajar bisa mendapatkan obat jenis PCC ini, maka kita harus gencar sosialisasi,” jelasnya.

Royke mengatakan saat ini ada tim bersama terkait pengawasan dan penyalahgunaan obat keras dan narkotika.

“Timnya yakni BPM adalah penanggungjawab utama, kemudian Polda Sulteng, dan pihak Dinkes Kota Palu. Namu tetap ada proses dimana kami turun sidak secara reguler,” katanya.


Editor : M Yusuf Bj

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.