Saturday, 22 September, 2018 - 09:35

Bocah Lembek Itu Jadi Pahlawan Olahraga

PAHLAWAN OLAHRAGA - Rio Rizki Darmawan foto bersama ibu kandung dan keluarganya sesaat setelah tiba di Bandara Mutiara Sis Aldjufri, Sabtu 25 Agustus 2018. (Foto: Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Rio Langsung Bawa Medali Emasnya ke Kulawi

SEMASA kecilnya Rio Rizki Darmawan tidak pernah bermimpi bisa berkalung medali emas Asian Games. Jangankan bermimpi menjadi atlet dayung profesional, melihat laut saja susah karena di kampung halamannya tidak ada laut.

Nasib berkata lain, remaja yang masih berusia 15 tahun itu kini menjadi salah satu pahlawan bagi Indonesia justru lewat cabang olahraga dayung. Ia bersama tujuh rekannya berhasil menyumbang satu medali emas untuk Indonesia dari nomor Men's Lightweight Eight atau nomor ringan delapan putra di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Rabu 22 Agustus 2018 lalu.

Sehari setelah memenangkan medali emas di Asian Games, Rio memilih segera pulang kampung untuk menemui ibunya yang sudah ditinggal selama hampir setahun. Di arena Asian Games dia hanya didampingi bapaknya yang sengaja datang menyaksikan putranya dengan biaya sendiri.

Haru menghiasi penjemputan Rio di Bandara Mutiara Sis Aljufrie Palu pada Sabtu 25 Agustus 2018 sore. Menggunakan topi dengan jaket merah, serta medali emas yang masih menggantung di lehernya Rio langsung menyalami dan memeluk ibunya serta beberapa saudaranya yang sudah menunggu di pintu terminal penjemputan penumpang di bandara.

Penjemputan Rio biasa-biasa saja. Tidak ada prosesi berlebih. Selain keluarga, hanya ada Ketua Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Sulteng Arief Latjuba dan Anas Latjinala perwakilan pemerintah Kabupaten Sigi yang menjemputnya.

Di kesempatan itu, Rasna ibu Rio pun bercerita bagaimana putra pertama dari empat bersaudara itu bisa menjadi atlet dayung tim Indonesia di Asian Games.  Menurutnya, tidak ada yang pernah menduga Rio bakal menjadi atlet dayung. Di kampungnya tidak ada laut.

Kesempatan datang saat Rio baru menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR)Kota Palu Muhammad Jufri mendatangi rumah Rio di Desa Tompi Bugis, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi.

Kepala sekolah olahraga satu-satunya di Kota Palu itu meminta agar Rio mau masuk ke sekolah yang dipimpinnya. Rio tidak menolak. Meskipun tidak memiliki bakat olahraga apapun saat itu, Rio mau saja.

“Dia baru suka dayung setelah gabung di SMANOR. Setelah PON dia diambil ke Palembang,” ujar Rasna kepada wartawan.

Bahkan menurut Rasna, Rio merupakan anak yang terbilang “lembek” semasa kecilnya. Namun sekarang dia justru menjadi pemuda kekar. Dia sudah menjadi atlet yang membanggakan bagi Indonesia.

“Semasa kecilnya tidak ada apa-apanya, nanti lulus SMP diambil ke SMANOR baru latihan. Lembek dia waktu itu, tidak ada hobinya,” sebut ibu Rio.

“Waktu pertama kali mau masuk SMANOR saya kasih (dukungan), karena dia yang jalani kan. Kalau selama di SMANOR nanti mau Lebaran baru ketemu lagi karena tinggalnya di asrama PPLP. Dia diajak pak Jufri masuk ke SMANOR, datang ke rumah ajak dia. Padahal di kampung tidak ada laut, tapi dia justru jadi atlet dayung,” katanya.

Rio pun mengakui bahwa dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi atlet dayung. Bahkan semasa kecilnya ia berangan-angan bisa menjadi pesepak bola.

“Pernah (ingin) atlet bola. Saya kemarin ada namanya pak Jufri yang ajak, tawari masuk PPLP masuk dayung, saya coba-coba ya saya suka, masuk,” cerita Rio melengkapi.

Soal persiapan sebelum tampil di Aisa Games, putra pasangan Nasir A dan Rasna ini mengaku timnya memang sudah melakukan persiapan matang. Bahkan timnya melakukan latihan di Amsterdam, Belanda untuk mempermatang kesiapan sebelum Asian Games.

“Rasanya senang sekali bisa dapat emas kemarin. Udah yakin, kita emang target emas dari sebelumnya. Latihannya kita tiga bulan terakhir kemarin di Amsterdam, kita banyak lomba di sana. Alhamdulillah dua kali juara,” kata dia.

Rio pun berharap masih bisa mengharumkan nama Indonesia lewat olahraga. Ia berharap bisa mengukir prestasi serupa di Olimpiade.

Rio yang sudah menamatkan pendidikan SMA-nya itu pun sudah mendapat tawaran dari pemerintah untuk masuk TNI/Polri atau PNS. Namun pemilik puluhan medali dari lomba dayung itu belum menentukan pilhan.

“Targetnya lebih tinggi lagi, mudah-mudahan tahun depan kan ada seleksi olimpiade, mau fokus. Buat teman-teman, jangan pernah puas untuk hasil yang kita raih. Semangat lagi kedepannya,” pesan atlet kelahiran 2003 itu.

Pemerintah lewat Ketua PODSI Sulteng menyebut pemerintah daerah akan membahas soal bonus atlet yang berprestasi di Asian Games. Namun belum memastikan bonus apa yang akan diberikan.

“Kita bangga, bersyukur bahwa anak-anak kita, apalagi Rio ini berasal dari Sigi, yang dari Kulawi, yang tidak ada perairannya tapi bisa (juara). Itu merupakan anugerah dan hasil seleksi dari teman-teman di PPLP dan juga kerja keras, dan latihannya juga cukup bagus dan pelatihnya juga bagus, postur dan sumber daya manusianya juga bagus, sehingga bisa bergabung di tim Asian Games, masuk pelatnas,” ujar Ketua PODSI Sulteng Arief Latjuba.

“Soal bonus, prinsipnya bahwa pemerintah daerah semuanya harus satu pintu. Dan itu lewat KONI dan sudah dikemukakan oleh bapak Gubernur, dan akan dibicarakan di tingkat KONI. Karena ini masih ada target lain lagi, disamping persiapan untuk PON tahun 2020 nanti di Papua dan juga masih ada kejuaraan lainnya nanti,” jelasnya.

Rio sendiri langsung kembali ke kampung halamannya membawa medali emas. Dia akan kembali ke arena Asian Games pada 1 September 2018 mendatang untuk mengikuti penutupan Asian Games pada 2 September 2018 nanti. 


Editor: Udin Salim