Wednesday, 24 May, 2017 - 04:38

Bocah Lumpuh di Matra Luput dari Perhatian Pemerintah

BUTUH BANTUAN -  Opa', bocah umur 12 tahun dengan kondisi lumpuh di Dusun Kabuyu Tua, Desa Martasari, Kecamatan Pedongga, Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat. (Foto : Jhoni Banne Tonapa/ Metrosulawesi)

Matra, Metrosulawesi.com - Seorang bocah umur 12 tahun dengan kondisi lumpuh di Dusun Kabuyu Tua, Desa Martasari, Kecamatan Pedongga, Kabupaten Mamuju Utara (Matra) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) hidup di gubuk reot dengan dinding rumah dari papan bekas.

Gubuk reot yang ditempati Opa' warga miskin di daerah terpencil dusun Kabuyu Tua, Kecamatan Pedongga, Matra, berdinding papan bekas dan ditambal dengan tarpal bekas serta beratapkan daun rumbiah kondisinya sangat tidak layak huni.

Di gubuk reot tanpa kamar dan juga tanpa penerangan listrik ini hanya tampak kasur bekas dan juga bantal bekas yang digunakan Opa'. Selain itu gubuk reot ini juga tanpa kamar mandi dan sumur sehingga keperluan untuk mandi serta memasak Opa' terpaksa menggunakan air sungai.

Untuk beraktivitas dan sekadar turun dari rumah Opa' dengan susah payah mencapai sebuah tempat duduk harus merangkak sejauh 20 meter tanpa alat bantu apapun. Cara seperti ini dilakukan oleh Opa' selama bertahun - tahun karena lumpuh yang dideritanya.

Sementara untuk mandi dan makan, Opa' cukup terlihat mandiri walau dengan keterbatasan fisik yang dideritanya. Bamun terkadang Opa' harus menunggu ayahnya pulang dari bekerja sebagai buruh tani untuk mengambil air dari sungai untuk keperluan mandi dirinya.

Selain lumpuh yang diderita Opa' sejak lahir dia pun sulit diajak berkomonikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia karena Opa' tak pernah mengenyam pendidikan seperti anak se usianya.

Menurut Baco’ Pakir, Ayah Opa' dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah namun dia bersama dengan anaknya sering didata tapi tidak pernah mendapatkan bantuan.

Sementara untuk makan sehari- hari Baco Pakir bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu, sehingga Opa' dan ayahnya terkadang makan seadanya.

Opa' bocah 12 tahun ini anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun kedua saudaranya tersebut telah meninggal sementara ibu kandung Opa' juga telah meninggal, sehingga Opa' kini tinggal bersama dengan ayahnya di gubuk reot yang tak layak huni tepat berada di bantaran sungai pasangkayu yang swaktu - waktu dapat diterjang banjir.

Kini Opa' bersama dengan orang tuanya yang tinggal di gubuk reot itu berharap perhatian pemerintah dan dermawan, sebab dengan keterbatasan biaya Opa' tidak pernah di periksakan kedokter.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.