Sunday, 22 July, 2018 - 03:25

Bupati Buol dan BUD Berdamai

SEPAKAT BERDAMAI - Bupati Buol, dr Amirudin Rauf (kanan) bersama Rusli Tamat bertemu di salah satu tempat, Rabu 15 November. (Foto : Facebook)

Palu, Metrosulawesi.com - Perseteruan antara Bendahara Umum Daerah (BUD) Pemkab Buol, Moh Rusli Tama dan Bupati Buol dr Amirudin Rauf berakhir damai. Video pertemuam antara keduanya viral di media sosial. Tampak Bupati Amirudin merangkul Rusli Tama dan menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya tak lebih dari sekadar hubungan antara ayah dan anak.

Di video itu, Bupati mengaku khilaf dan sedikit emosional. Dalam kaitannya dengan Rusli Tama, bupati mengaku tidak hanya sekadar sebagai bupati, tetapi juga yang bersangkutan adalah ponakannya.

“Kemarahan saya kepada dia, adalah kemarahan saya sebagai orangtua kepada anaknya,” kata Bupati.

Bupati mengatakan, persoalan antara dia dan Rusli Tamat sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Keluarga telah sepakat bahwa masalah ini kita selesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan,” ujarnya.

“Saya kira semua manusia tidak ada yang sempurna. Semua ada manusia kekurangannya. Dan ini bagian dari kekurangan-kekurangan itu,” ujar Bupati.

Sementara itu, kuasa hukum Bupati Buol, Amirullah SH mengatakan, penyelesaian damai antara Bupati dan BUD Buol tidak menghalangi pengusutan kasus pemindahan dana guru-guru dari Bank Sulteng ke salah satu rekening di Bank BNI. Pemkab Buol akan mengusut itu dengan melibatkan inspektorat setempat.

“Inspektorat bersama tim akan mengusut ini hingga tuntas,” katanya.

Menurut Amirullah, kuat dugaan ada unsur maladministrasi dalam kasus pemindahan dana guru-guru itu dari Bank Sulteng ke salah satu rekening di Bank BNI. Kuat dugaan katanya, ada pelanggaran di balik pemindahan rekening itu.

Pemindahan rekening itu katanya, diduga dilakukan antara oknum Bendahara Umum Daerah dan oknum di Dikjar Buol.

“Dana guru-guru itu dipindahkan daru rekening Bank Sulteng ke rekening penampung di Bank BNI,” kata Amirullah.

Modusnya katanya, setelah rekening itu dipindahkan ke rekening penampung milik salah satu oknum di Dikjar, baru kemudian disalurkan ke rekening milik guru-guru.

“Yang membuat lambat dana itu dicairkan karena guru-guru disuruh burut rekening baru di Bank BNI. Padahal mereka sebelumnya sudah punya rekening di Bank Sulteng,” ujarnya.

Amirullah mengatakan, pengusutan pemindahan rekening itu diperlukan untuk mengetahui apa motif di balik itu. Sebab, bisa jadi katanya, pemindahan itu dilakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Misalnya, untuk mendapatkan bunga devosito.

“Dana yang ditampung di rekening itu tidak sedikit, mencapai Rp59 miliar,” ujarnya.

Seperti diberitakan Metrosulawesi, kasus ini berawal dari surat terbuka yang dibuat Moh Rusli Tama yang kemudian viral di media sosial. Rusli yang merupakan Bendahara Umum Daerah Buol itu keberatan atas perlakuan Bupati kepadanya. 

Dalam surat itu, Rusli menyebutkan bahwa pada hari Rabu 8 November 2017 sekitar pukul 10.00 Wita, dia telah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari bupati.

“Bapak telah melakukan tamparan di wajah saya dengan tuduhan membuat SP2D dari Bank BPD Sulteng ke Bank BNI tanpa sepengetahuan bapak sebagai bupati. Bapak telah menampar wajah saya di depan Direktur Bank BPD Sulteng dan Kepala BPKAD,” tulis Moh Rusli.