Sunday, 17 December, 2017 - 08:12

ButtonIjo Tawarkan Alternatif Nonton Film

Ricas CWU. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com – Sistem monopoli peredaran film di bioskop, serta minimnya pemutaran film alternatif membuat sulit beredar film lokal Indonesia. Untuk itulah, sebuah distributor film, ButtonIjo hadir dengan berbagai program dan strategi distribusi film alternatif.

Hal ini seperti dijelaskan Head of Sales And Marketing ButtonIjo, Ricas CWU saat bertemu dengan pembuat film (Film Maker) Palu  dan wartawan di Rumah Juice & Momoyo Art Venture, Jln Panjaitan Nomor 9, Jumat (9/10/2015).

Kegiatan ini dirangkaikan dengan pemutaran film “Another Trip to the Moon” karya Ismail Basbeth. Film yang berdurasi 80 menit ini tayang perdana dalam sesi Tiger Award Competition di International Film Festival Rotterdam 2015. 

Menurut Ricas, sebagai distributor film lokal nasional, ButtonIjo menawarkan cara baru untuk menonton film local nasional, yaitu film yang bebas sensor. 

“Bagi kami, sensor adalah bentuk pengkerdilan suatu karya film dan ekspresi,” kata Ricas.

ButtonIjo menggunakan sistem distribusi film yang disebut dengan USB Sinema, yaitu pembelian film menggunakan USB kapasitas 16 GB dengan isi sesuai pesanan dengan masa aktif selama tiga hari, sejak kode aktifasi diberikan. Sistem ini guna mengantisipasi pembajakan suatu karya film, karena selain dengan masa aktif, film dalam USB juga telah diprotek sehingga tidak bisa digandakan.

Sasaran distribusi adalah komunitas pecinta film serta kalangan sineas daerah. 

“Kami akan memperkenalkan diri kepada kawan-kawan komunitas dan pembuat film di Palu untuk ikut bergabung dalam skema distribusi ButtonIjo. Para pembuat film bisa mengikut sertakan filmya pada distribusi kami. Komunitas-komunitas eksibisi maupun pegiat film yang lain juga bisa mengembangkan layar-layar alternative untuk terus memutas film-film diluar arus utama,” kata Ricas.

Sementara itu, coordinator  partner local ButtonIjo dari komunitas Serrupa di Palu, Rahmadiyah  Tria Gayathri mengatakan, pihaknya merasa senang dipercaya ButtonIjo untuk menggelar acara ini.

“Selain bisa mendapatkan dan menyuguhkan tontonan film-film bagus, harapannya teman-teman di Palu juga bisa lebih aktif lagi untuk membuat film berkualitas dan akan lebih banyak lagi pemutaran serta diskusi tentang film. Pasti akan menyenangkan,” ungkapnya.

Palu, Mercusuar Perfilman Indonesia Timur

Head of Sales And Marketing ButtonIjo, Ricas CWU menyebutkan, sejumlah film indie karya anak palu cukup diperhitungkan sineas tanah air. Bahkan, untuk Indonesia Timur, film karya anak Palu dinilai paling berkualitas.

“Kami sendiri heran, darimana anak-anak palu dapat ide-idenya itu,” aku Ricas.

Untuk itulah, ButtonIjo menjadikan Palu sebagai kota kedua setelah Surabaya untuk mengadakan roadshownya.

Selain memuji film-film karya anak palu, Ricas juga mengakui jika Kota Palu memiliki potensi besar untuk diangkat dalam sebuah cerita film.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.