Wednesday, 26 April, 2017 - 23:56

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Cabai-Ikan Sumbang Inflasi Tertinggi di Palu

BERI KETERANGAN - Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar saat merilis data terkini di Kantornya, Senin 3 April 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Selama tiga bulan berturut-turut Kota Palu mengalami inflasi. Pada Maret lalu inflasi mencapai 0,25 persen. Baru tiga bulan berjalan saja laju inflasi tahun ini sudah lebih tinggi jika dibandingkan laju inflasi 2016 lalu. Jika tidak terkendali dengan baik inflasi tahunan 2017 bisa sangat tinggi, pasalnya masih ada momen hari raya yang berpotensi menyumbang inflasi tinggi, meskipun potensi terjadi deflasi pada bulan-bulan berikutnya juga masih ada.

Pada Maret 2017 inflasi Kota Palu tercatat sebesar 0,25 persen, naik 4,05 persen dibandingkan Maret 2016 lalu (yoy). Secara tahun kalender, inflasi pada Maret sebesar 1,86 persen. Jika pemerintah terkait tidak bekerja ekstra dalam mengendalikan harga maka inflasi di Kota Palu pada tahun ini akan melambung.

Bagaimana tidak, baru tiga bulan saja laju inflasi tahun ini sudah melampaui inflasi tahun 2016 lalu yang hanya sebesar 1,52 persen, sementara laju inflasi Kota Palu sejak Januari hingga Maret 2017 sudah mencapai 1,86 persen, di mana pada Januari inflasi Kota Palu sebesar 1,32 persen, Februari 0,29 persen dan 0,25 persen pada Maret lalu.

Untuk menekan laju inflasi merupakan pekerjaan rumah bagi Tim Pengendali Inflasi (TPID) kedepan. Sebab, dua bulan kedepan akan ada momen perayaan Ramadan dan Lebaran, biasanya akan ada peningkatan harga yang tinggi pada momen ini.

Jika melihat tabel data inflasi Kota Palu selama tiga tahun terakhir, di awal-awal tahun daerah ini biasanya mengalami deflasi namun justru terbalik di awal tahun ini, tiga bulan terakhir Kota Palu mengalami inflasi yang cukup tinggi.

Tingginya inflasi selama tiga bulan terakhir dipengaruhi oleh naiknya harga berbagai kelompok pengeluaran. Pada Maret terjadi kenaikan harga diantaranya bahan makanan 0,69 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,32 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,16 persen, serta sandang 0,13 persen.

Sementara kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga selama Maret 2017 mengalami penurunan indeks harga masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,02 persen, sementara periode yang sama kelompok pengeluaran kesehatan relatif tidak mengalami perubahan.

Tingginya harga ikan selar, cabai dan ikan ekor kuning merupakan tiga komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada Maret 2017. Berdasarkan data BPS Sulawesi Tengah, ikan selar mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, cabai rawit 0,11 persen, dan ikan ekor kuning 0,08 persen. tarif listrik juga masih mengalami inflasi sebesar 0,07 persen.

Tomat buah mengalami inflasi 0,06 persen, kangkung 0,04 persen, ikan layang 0,04 persen, pemeliharaan atau jasa servis 0,02 persen, tarif sewa mobil 0,02 persen, dan tomat sayur 0,01 persen.

Sementara komoditas lainnya mengalami deflasi. Komoditas yang mengalami deflasi tertinggi yakni ikan teri sebesar 0,08 persen, daging ayam 0,06 persen, ikan cakalang dan ikan kembung masing-masing 0,05 persen, tarif pulsa ponsel juga mengalami inflasi 0,05 persen.

“Yang menjadi perhatian kita soal inflasi kalau saya lihat empat tahun terakhir ini, karena pedasnya rica dan cabai tiga bulan kita mengalami inflasi,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar saat merilis data terkini di kantornya, Senin 3 April 2017.

Jika tidak mendapatkan perhatian serius oleh pihak terkait dalam mengendalikan laju inflasi, bisa dipastikan inflasi tahun ini akan melambung.

“Di daerah lain secara nasional tiga bulan terakhir ada yang mengalami deflasi, inflasi, tapi kita selama tiga bulan inflasi.”

“Jika kita terus-terusan inflasi, sudah barang tentu kita inflasi lebih tinggi dari tahun sebelumnya,” ujar dia.

Khusus cabai rawit, komoditi ini sudah mengalami inflasi selama tiga bulan berturut-turut. Di pasaran harganya memang melambung tinggi sejak awal tahun, jika pada Desember lalu harga normalnya hanya sekitar Rp 30 ribu per kilogramnya, selama tiga bulan terakhir melambung hingga Rp 80 ribu bahkan sempat menginjak angka Rp 100 ribu per kilogram.

“Untuk cabai rawit ini sudah terjadi (inflasi) selama tiga bulan, mudah-mudahan bulan depan sudah bisa diturunkan,” kata Kepala Bidang Statistik dan Ditribusi BPS Sulteng Moh Wahyu Yulianto menambahkan.

Dia juga menyebut potensi tingginya inflasi pada Mei dan Juni mendatang bisa terjadi, sebab akan ada momen Ramadan dan Lebaran pada saat itu.

“Menjadi perhatian kita juga, inflasi tertinggi mungkin akan terjadi di Mei dan juni, pada saat Ramadan dan Lebaran puncaknya,” ujarnya.


Editor : Udin Salim

Tags: 

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.