Thursday, 27 April, 2017 - 05:38

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Cabai Penyumbang Tertinggi Inflasi di Palu, BPS Sulteng Duga Ada Spekulan

RILIS DATA - Kepala BPS Sulteng saat menyampaikan rilis inflasi Kota Palu di Kantornya, Rabu 1 Maret 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Inflasi Kota Palu selama Februari 2017 sebesar 0,29 persen. Cabai menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi, yakni 0,21 persen. Kepala BPS Sulteng mensinyalir ada permainan spekulan di balik tingginya harga cabai beberapa waktu terakhir di Kota Palu.

Selama Februari 2017, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,29 persen yang dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 1,87 persen, transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,70 persen, sandang 0,37 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,10 persen, serta kesehatan 0,08 persen.

Sementara kelompok bahan makanan selama Februari 2017 mengalami penurunan indeks harga sebesar 1,53 persen, sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga relatif tidak mengalami perubahan.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain cabai rawit 0,21 persen, tarif listrik 0,19 persen, upah tukang 0,11 persen, kontrak rumah 0,09 persen, tarif pulsa ponsel 0,07 persen, pasir 0,04 persen, tarif sewa motor 0,03 persen, rokok kretek filter 0,03 persen, kol putih 0,02 persen, dan minyak kelapa 0,02 persen.

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi atau mengalami deflasi antara lain beras 0,12 persen, ikan selar 0,12 persen, daging ayam ras 0,06 persen, ikan ekor kuning 0,04 persen, telur ayam ras 0,04 persen, bawang merah 0,03 persen, ikan cakalang 0,03 persen, ikan teri 0,03 persen, ayam hidup 0,02 persen, serta ikan mujair 0,02 persen.
 
Cabai menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar, naiknya harga cabai di Kota Palu dipengaruhi berbagai hal. Namun ia mensinyalir adanya spekulan menjadi penyebab utama tingginya inflasi cabai di Kota Palu.

“Ternyata inflasi kita dibandingkan bulan sebelumnya kita mengalami kenaikan inflasi. Ternyata cabai dan tarif listrik masih menyumbang inflasi. Tapi yang menggembirakan, untuk komoditas beras kita justru mengalami penurunan harga. Ketika Februari 2014, 2015 dan 2016 seharusnya kita setalah mengalami kenaikan kemarin saya perkirakan cabai turun, ternyata naik,” ungkap Faisal Anwar di Kantornya, Rabu 1 Maret 2017.

“Kita tidak bisa mengatakan kita kekurangan stok, jangan-jangan kita sebenarnya sudah surplus untuk cabai. Tapi karena ini kan masalah ekonomi, spekulan, keluar ternyata, akhirnya terjadi kenaikan harga cabai juga di Kota Palu,” katanya saat merilis data di kantornya yang dihadiri berbagai SKPD terkait.

Sementara itu, inflasi Kota Palu bulan Februari 2017 yang sebesar 0,29 persen merupakan satu-satunya inflasi yang terjadi dalam tiga tahun terakhir, di mana pada bulan Februari 2015 dan Februari 2016 masing-masing tercatat deflasi sebesar 1,84 persen dan 0,61 persen. Demikian pula laju inflasi tahun kalender pada Februari 2017 sebesar 1,61 persen merupakan satu-satunya inflasi yang terjadi.

Laju inflasi tahun kalender pada Februari 2015 dan Februari 2016 tercatat deflasi masing-masing sebesar 1,72 persen dan 1,01 persen. Sementara inflasi year on year pada Februari 2017 yang hanya 4,19 persen, menjadi yang terendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 dan 2016 yang mengalami inflasi sebesar 6,64 persen dan 4,92 persen.

“Selama empat tahun terakhir ini inflasi yang cukup tinggi, biasanya Februari terjadi deflasi tapi ini sudah dua bulan kita terjadi inflasi yang cukup tinggi. Ini harus menjadi perhatian kita semua terutama untuk TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah,” sebut Kepala Bidang Statistik dan Ditribusi BPS Sulteng Moh Wahyu Yulianto.

Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua Sulampua, terjadi inflasi di 14 kota, sementara 4 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado 1,16 persen, diikuti Mamuju 1,07 persen, Tual 1,03 persen, Palopo 0,87 persen, Watampone 0,79 persen, Makassar 0,79 persen, Bulukumba 0,78 persen, dan kota lainnya di bawah 0,70 persen. Sedangkan yang mengalami deflasi adalah Kota Jayapura 0,77 persen, Ambon 0,74 persen, Manokwari 0,57 persen, dan Bau-Bau 0,15 persen.

Pemprov Bantah Spekulan Pemicu Inflasi

Sementara itu, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulawesi Tengah langsung membantah hal itu. Menurut Kepala Seksi Aneka Kacang dan Umbi-umbian Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulteng Yuminarce, produksi cabai di daerah ini memang masih minus sehingga stok untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat belum bisa terpenuhi dari hasil produksi lokal.

“Untuk meningkatkan produksi cabai dan bawang ada program Upsus Bawang Cabai (Upsus Babe), yang 2016 Cuma sebatas peningkatan Pajala (padi, jagung dan kedelai) maka 2017 kita jalankan juga progra Babe,” ungkap Yuminarce menjelaskan terkait upaya agar kebutuhan cabai bisa teratasi di Kota Palu, Rabu 1 Maret 2017.

Kata dia, produksi cabai pada 2016 khusus cabai besar sebanyak 21.682 kwintal, sementara untuk cabai rawit 41.021 kwintal per tahun.

“Untuk produksi khusus Februari kita belum hitung.”

Untuk meningkatkan produksi cabai, hingga Februari sudah ada luas tambah tanam cabai rawit seluas 155 hektare, yang baru akan berproduksi enam bulan berikutnya.

“Untuk data 2016 akhir, kebutuhan konsumsi empat ribu ton tapi yang produksi cuma dua ribu ton per tahun,” olehnya, kata dia, produksi cabai di daerah ini memang belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang sebanyak 4.000 ton, sementara hasil produksi hanya 2.000 ton saja.

Terkait jawaban pihak dinas terkait, Kepala BPS mengaku akan menganalisa kembali apa penyebab tingginya inflasi cabai di Kota Palu.

“Yang akan kita cari, kita analisa lebih lanjut, cabai yang ada di Palu itu produk Sulteng atau dari luar, itu yang sekarang harus kita cari tahu,” jelasnya.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.