Sunday, 17 December, 2017 - 16:06

Cagar Budaya Donggala Tak Terurus

Jamrin Abubakar. (Foto : Ist)

Donggala, Metrosulawesi.com - Pemerintah Kabupaten Donggala dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dinilai tidak memiliki kepedulian terhadap potensi Cagar Budaya yang ada di Kabupaten Donggala. Padahal, Bupati Donggala Kasman Lassa gencar mengkampanyekan Donggala sebagai kota wisata dunia.
 
Namun beberapa potensi cagar budaya yang dimiliki oleh kabupaten tertua di Sulteng itu banyak tidak terurus. Bahkan sudah masuk dalam daftar inventarisasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemedikbud RI.

Pemerhati sejarah dan budaya di Donggala, Jamrin Abubakar mengungkapkan keprihatinannya terhadap penelantaran potensi cagar budaya di kota tua tersebut. Menurutnya, bila cagar budaya yang bersejarah itu tidak segera diurus, situs budaya itu bisa hancur dan terancam punah.

Jamrin mengatakan, ketidakpedulian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terhadap cagar budaya ini sangat bertentangan dengan semangat Bupati Kasman Lassa mau menjadikan Donggala sebagai kota wisata.

“Bupati ingin menjadikan Donggala sebagai kota wisata, namun di satu sisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak memiliki kepedulian terhadap artefak-artefak peninggalan sejarah dan budaya. Ini kan sangat bertentangan,” kata Jamrin, Senin (9/11/2015).

Padahal kata dia, cagar budaya itu bisa menjadi andalan dan kebanggaan Donggala sebagai kota wisata, karena adanya tinggalan budaya bernilai sejarah. Diantaranya bangunan-bangunan tinggalan kolonial berupa jejak bangunan garasi mobil kolonial, tangga peninggalan kolonial, Kuburan Belanda, bekas rumah Asisten Residen dan beberapa lainnya.

Jamrin menuturkan, berbicara wisata untuk kota Donggala kalau hanya mengandalkan wisata bahari atau pantai, itu tidaklah khas, karena ada ratusan kota atau kabupaten di Indonesia memiliki pantai dan laut. Tetapi tidak semua kota mempunyai jejak-jejak kolonial atau artefak bernilai sejarah seperti adanya Gudang Kopra (Coprafonds) peninggalan Belanda di Kelurahan Tanjung Batu.

Jamrin juga menjelaskan, sejak 2013 Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, telah melakukan inventarisasi dan pemetaan terhadap sejumlah artefak cagar di Donggala sebagaimana telah diterbitkan di Gorontalo. Tapi ironisnya pemerintah Kabupaten Donggala sendiri tidak memiliki pededulian melakukan penyelamatan dan revitalisasi sebagai kebanggaan dalam pelestarian budaya (heritage).

“Sangat ironis, Gorontalo sudah melakukan inventarisasi cagar budaya kita, sementara Pemda Donggala sendiri malah cenderung mengabaikan cagar budaya tersebut,” pungkasnya.


Editor : Subandi Arya

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.