Friday, 31 March, 2017 - 00:56

Capai Rp125 Ribu/Kg, Pengumpul Cabai di Palu Tergiur Jual ke Luar

Zainuddin Abd Kadir. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Setelah sempat beberapa pekan stabil, kini harga cabai kembali melonjak di Kota Palu dan sekitarnya. Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng, Zainuddin Abd Kadir mengatakan, lonjakan harga cabai bukan hanya di Sulawesi Tengah, hal serupa juga terjadi di daerah lain.

“Tadi pagi (kemarin,red) kami ke Pasar Manonda dan Masomba hargai cabai rawit merah mencapai Rp125.000/kilo, padahal sehari sebelumnya masih Rp100.000/kilo,” kata Zainuddin di Palu, Rabu, 8 Februari 2017.

Menurut dia, sejauh ini lonjakan harga cabai disebabkan karena faktor iklim yang berakibat penurunan produksi hasil pertanian cabai.

“Sekarang inikan cuaca lagi musim hujan, tentu berpengaruh terhadap hasil pertanian cabai. Sebab seperti kita ketahui, cabai-kan tidak bisa terkena air secara berlebihan,” tuturnya.

Selain itu, Zainuddin mengungkapkan, saat ini ada kencenderungan para pengumpul cabai dari para petani menjual keluar daerah Sulteng. Akibatnya, kebutuhan cabai daerah tidak tercukupi dan berdampak terhadap harga cabai di tingkat pedagang.

“Jadi karena di luar lebih tinggi harga jualnya, makanya mereka memperdagangkan antar pulau. Tapi sebenarnya mereka tidak boleh melupakan untuk memenuhi kebutuhan cabai daerah, karena yang akan merasakan dampaknya mereka juga,” ujar Zainuddin.

Dijelaskannya, secara potensi, pada intinya hasil pertanian cabai di Sulawesi Tengah justru bisa dikatakan surflus, setidaknya bisa memenuhi kebutuhan di daerah itu. Namun karena para pengumpul cabai tergiur dengan harga jual yang lebih tinggi di luar daerah, sehingga kebutuhan tersebut tidak tercukupi.

“Namanya juga hukum ekonomi, kalau stok sedikit sementara permintaan tinggi, pasti ada kenaikan harga. Pedagang kan pintar kali-kalinya untuk memanfaatkan kesempatan,” jelas Kabid.

Dia memperkirakan, harga cabai di daerah ini belum akan stabil hingga akhir Februari. Hal ini karena berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Sulteng masih akan diguyur hujan. Namun demikian, Zainuddin mengutarakan, lonjakan harga cabai di Palu masih lebih baik dibanding daerah lain seperti Kalimantan Tengah yang mencapai Rp200.000/kilo dan Jakarta Rp150.000/kilo.

“Jadi yang bisa dilakukan masyarakat saat ini jangan membeli cabai dalam jumlah besar, beli secukupnya agar permintaan stok di tingkat pedagang tidak meningkat. Dengan begitu, secara perlahan bisa menjaga harga cabai tetap stabil sampai jumlah pasokan normal lagi,” tandas Zainuddin.

Mas Slamet, salah seorang pemilik warung makan di Jalan Sisingamangaraja mengaku, pasrah dengan kenaikan harga cabai itu.

“Mau diapa lagi. Kalau memang harganya sudah begitu. Kami pemilik warung tetap membeli,” katanya.

Meski harga cabai mahal, namun Slamet mengaku tidak mengurangi takaran sambelnya.

“Cabai yang digunakan dalam sambel tetap. Tidak dikurangi,” kata lelaki yang sehari-harinya menjual ayam goreng “Mas Joko” itu.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.