Saturday, 18 November, 2017 - 01:31

Cegah Hoax Soal Uang NKRI TE 2016, BI Sulteng Sosialisasi di Korem 132/Tadulako

SOSIALISASI - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, Miyono saat mensosialisasikan uang rupiah tahun emisi 2016, di depan anggota TNI AD di Aula Manggala Sakti, Korem 132/Tadulako, Senin 6 Februari 2017. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng gencar melakukan sosialisasi dan edukasi tentang uang rupiah tahun emisi 2016. Kali ini dilakukan kepada jajaran Korem 132/Tadulako di Aula Manggala Sakti, Korem 132/Tadulako, Senin 6 Februari 2017.

Dalama acara sosialisasi ini diadiri oleh  Kasrem 132/Tadulako, Letkol Inf Andrian Susanto, para Kasirem 132/Tadulako, Kabalak Rem 132/Tadulako, para Perwira Bintara/Tamtama dan PNS jajaran Korem 132/Tadulako.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, Miyono mengatakan hal ini dilaksanakan untuk menipis isu-isu beredar di masyarakat (hoax) terhadap uang NKRI Tahun Emisi (TE) 2016 dan kegiatan ini juga sekaligus mengenalkan uang baru kepada seluruh lapisan masyarakat.

Miyono menjelaskan, saat ini berkembang lima isu yang menyesatkan terkait uang rupiah baru pasca diluncurkan pada Desember lalu, antara lain yakni isu yang dihembuskan sekelompok ormas yang mengatakan bahwa uang rupiah terdapat lambang yang  mirip simbol PKI karena ada palu arit, tapi kenyataannya tidak ada lambang tersebut di dalam uang rupiah tahun emisi 2016.

“Itu gambar ornamen BI yang merupakan salah satu teknik pengaman dalam percetakan uang, yakni rectoverso atau gambar saling isi,” jelasnya.

Isu yang kedua lanjut Miyono ialah, uang rupiah baru mirip Yuan yang merupakan mata uang Cina, namun uang baru ini sudah standar dengan bank sentral di negara-negara lain dan tidak mirip dengan Yuan.

“Penentuan warna uang rupiah baru itu bertujuan, agar sulit ditiru dengan tinta-tinta biasa yang beredar di pasar sehingga sulit dipalsukan,” tambahnya.

Belum lagi isu terkait pemilihan gambar pahlawan yang dinilai sebagian orang tidak tepat. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng ini menjelaskan gambar pahlawan itu sudah dilakukan sesuai prosedur seperti berkoordinasi dengan Kemenkeu, Kemensos dan Kemenkumham, bahkan sudah  melalui diskusi dengan melibatkan akademisi, sejarawan dan tentunya ahli waris.

“Gambar itu tidak boleh kita ubah sedikitpun, baik dikurangi atau ditambahkan,” jelasnya.

Selain dari semua isu yang menyebar tersebut, ada satu lagi isu yang benar-benar tidak ada benarnya dan menyesatkan, yakni terkait dengan isu yang mengatakan uang baru dicetak oleh sebuah perusahaan di Solo, yang nota bene pemiliknya pemiliknya adalah orang Cina.

“Itu lagi-lagi hoax, karena selama ini uang dicetak oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum-Peruri), sebuah perusahaan BUMN dan semua sudah sesuai dengan amanat UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang," jelas Miyono.

Pada akhir acara, pihak Bank Indonesia memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sosialisasi untuk menukarkan uang lama yang dimilikinya dengan uang NKRI  ke Mobil Kas Keliling BI. Hal ini dilakukan untuk menarik secara perlahan uang-uang lama yang masih berada ditangan masyarakat untuk digantikan dengan uang NKRI yang baru. (edy/mil)


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.