Monday, 20 August, 2018 - 11:38

Cerita Mahfud M Gamar 22 Tahun Darisa di Palu (1)

SUKSES USAHA KULINER - Direktur CV Darisa Mahfud M Gamar di Rumah Makan Darisa Jalan Setia Budi, Palu, Jumat 24 November 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Embrio Terbentuk di Kampus, Lahirkan Seribuan Karyawan

Awalnya hanya dua meja. Menu makanan juga dua: bakso tenes plus dan pisang ijo. Karyawan hanya lima orang. Tapi, kini setelah 22 tahun, rumah makan itu sudah punya gedung yang representatif dengan seratusan karyawan. Bagaimana Darisa dibangun dan tetap berdiri tegak, memiliki empat lokasi usaha serta bagaimana menghadapi persaingan bisnis kuliner di Kota Palu? Berikut kisah Darisa yang ditulis dalam tiga bagian.

Laporan: Tahmil Burhanudin/ Syamsu Rizal

DARISA di masa awal bukan sekadar tempat makan. Ia adalah romantika anak muda di Kota Palu. Hampir semua anak muda di Kota Palu pada era 90-an memiliki atau mungkin menyembunyikan kenangannya di Darisa. Itu karena Darisa tempat berkumpulnya anak muda, cowok dan cewek. Pelajar SMP, SMA, mahasiswa hingga profesional muda bertemu dan nongkrong di sana, traktir kekasih atau teman.

Wajar jika ketika itu anak muda gemar ke Darisa. Depot ini memang dibangun oleh sekelompok anak muda yang kreatif. Lima sekawan yang baru saja meraih gelar sarjana, merintis dan mendirikan rumah makan itu. Mereka, para pendiri itu adalah alumni Universitas Tadulako Palu dari berbagai jurusan. Ada yang kuliahnya ilmu Pertanian, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Sejarah, dan Teknik. Meski mereka bukanlah sarjana ekonomi atau pemodal besar, tapi komitmen telah mengikat kelimanya.

“Selesai sarjana, mau pulang kampung malu kalau pengangguran. Ada beberapa teman, saya pengaruhi untuk buka warung makan sambil tunggu pendaftaran PNS. Ada lima orang ketika itu dan kemudian kami buka Darisa. Kami kontrak tempat penjual sate yang sepi pembeli di depan SMEA (SMEA Negeri Palu, sekarang SMK Negeri 2 Palu, Jalan Setia Budi Palu). Cuma dua meja dan kami pun jualan bakso tenes plus dan pisang ijo,” Mahfud M Gamar mulai berkisah tentang awal berdirinya Darisa.

Dia melanjutkan, “Kenapa pisang ijo? karena ada teman yang tantenya pintar bikin pisang ijo. Satu lagi orang Jawa yang tinggal di Lorong Bakso, pintar bikin bakso.” Inilah rahasia Mahfud dan kawan-kawannya membangun bisnis yaitu memanfaatkan potensi yang ada.

Mahfud M Gamar adalah satu dari lima sekawan pendiri Darisa dan kini menjadi direktur CV Darisa. Selain berbisnis, pria 43 tahun itu adalah dosen tetap di Universitas Tadulako Palu. Menyelesaikan studi strata satu di Untad. Selanjutnya Universitas Negeri Malang (UM) memberinya gelar akademik magister dan doktor setelah menyelesaikan studi S2 dan S3 di kampus di Jawa Timur itu.

Meskipun Mahfud sibuk berbisnis bukan berarti meninggalkan tugasnya sebagai dosen, termasuk mengajar di Pascasarjana Untad. Mahfud juga memimpin Yayasan Sulawesi Permata Bangsa yang menaungi Pendidikan Anak Usia  Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) Unggulan Sulawesi Permata Bangsa. PAUD yang terakreditasi A itu terletak di daerah Tondo, Kota Palu.

Ditemui Metrosulawesi, Jumat 24 November 2017 di Rumah Makan Darisa, Jalan Setia Budi, Palu, Mahfud menceritakan awal berdirinya Darisa dan membocorkan beberapa “rahasia” berbisnis kuliner di Kota Palu. Sebagai pendidik, dia berharap, kisah Darisa bisa menginspirasi anak muda agar tidak takut tenjun ke dunia bisnis seperti yang ia lakukan. Saat ditemui, dia baru saja menguji mahasiswa Untad yang akan menyelesaikan studi.

”Embrionya dari kampus,” katanya bersemangat.

Dia menceritakan, mengapa dikatakan embrionya dari kampus. Pada awal tahun 1995, mahasiswa Untad hendak mengikuti studi komparatif di Jawa selama satu bulan. Kendalanya ketika itu dana yang dibutuhkan cukup besar. Mengandalkan anggaran dari kampus mustahil untuk memenuhi hasrat lebih dari 20 mahasiswa untuk berkeliling Pulau Jawa.

Dalam kondisi itu, muncullah kreatifitas Mahfud. Dia berpikir bagaimana mendapatkan dana secara mandiri, tanpa meminta-minta sumbangan hingga sampailah pada ide berjualan nasi kuning di lingkungan kampus. Modalnya tenda dan meja. Bersama kawan-kawannya di kampus, dia menjual nasi kuning dan roti serta berbagai minuman segar. Layaknya warung makan yang dikelola profesional, dosen dan mahasiswa menjadi langganannya.

Dari sini, para mahasiswa kreatif itu sekaligus belajar tentang persaingan bisnis. Ketika itu ada Dharma Wanita yang juga berjualan dan menjadi saingannya. Beruntung dosen ketika itu memberikan dukungan dan kesempatan empat orang keluar kelas untuk berjualan.

“Kami harus cari duit untuk keliling Jawa, supaya biaya pribadi tidak terkuras. Idenya jualan,” katanya.

Para mahasiswa ini tidak malu angkat termos. Menghabiskan sebagian waktunya menjajakan nasi kuning, ketika mahasiswa lain mengisi waktu bermain gitar di kosnya. Hal itu dilakukan demi meraup untung agar bisa keliling Jawa. Inilah rahasia sukses berbisnis kedua seorang Mahfud yaitu kreatif dan mau bekerja.

Bagi pribadi Mahfud, berjualan bukanlah pekerjaan yang sulit dijalaninya. Pria ini memang dari keluarga pedagang di Kabupaten Poso. Pekerja sejak masih usia sekolah di Poso. Dia juga membantu orangtuanya di empang dan ikut berkebun.

“Saya hampir tidak kuliah, hampir tamat di Pasar Sentral Poso. Tapi keinginan orang tua sekolahkan anaknya tinggi, saya disuruh pilih berdagang atau sekolah. Saat itu saya memilih kuliah di Palu,” katanya.

Karena itu, berjualan nasi kuning di kampus bukan barang baru bagi Mahfud. Darah pedagang mengalir di tubuhnya. Buktinya, keuntungan dari berjualan nasi kuning dan aneka minuman tak langsung dibelanjakan.

“Dana dari jualan di tenda tadi diputar lagi untuk pakai membeli cumi-cumi di Luwuk. Nah, cumi-cumi itu dibeli oleh dosen. Saya list nama-nama dosen dan ditagih pada saat dosen gajian. Ha...ha..ha...,” Mahfud tertawa kecil saat mengingat peristiwa itu.

Usaha itu tak sia-sia. Dana akhirnya terkumpul. Sebanyak 20-an mahasiswa berangkat menggunakan kapal laut ke Pulau Jawa. Pulang dari studi komparatif selama sebulan, dana dari jualan nasi kuning dan cumicumi di kampus malah tidak habis.

“Bingung mau habiskan uang mau diapakan lagi akhirnya ke Tentena rekreasi, pulang masih ada sisanya. Akhirnya kita bagi-bagi,” Mahfud mengaku puas atas jerih payah bersama kawan-kawannya di kampus.

Sampai di situ, Mahfud akhirnya menyelesaikan studi S1 di Untad dan memasuki fase baru dalam kehidupannya. Pilihannya: pulang kampung jadi pengangguran atau mencari pekerjaan di Palu. Tapi, jiwa entreprenur, berdagang nasi kuning di tenda itu terbawa-bawa setelah menyandang gelar sarjana. Itu yang Mahfud maksudkan embrionya bahwa embrio Darisa dari kampus. Setelah diwisuda, empat kawan diajaknya berwirausaha. Maka jadilah Darisa di depan SMEA Negeri Palu masih di tahun 1995.

Sejak dibuka depot ini menggunakan nama Darisa yang merupakan akronim dari depot sari rasa. Depot yang awalnya hanya lima karyawan, kini mencapai seratusan yang bekerja di tiga cabang dan satu depot pusat.  Tapi, kata Mahfud jika dihitung-hitung sejak awal berdiri 22 tahun silam sampai sekarang sudah ada seribuan karyawan yang keluar masuk di Darisa. Lantas dari mana modal awal membangun Darisa? (bersambung)


Editor : Udin Salim