Sunday, 25 February, 2018 - 01:42

Cerita Mahfud M Gamar 22 Tahun Membangun Darisa Di Palu (2)

Mahfud M Gamar. (Foto : Metrosulawesi)

Tinggalkan PNS, Pilih Besarkan Darisa

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan incaran sebagian besar sarjana. Begitu juga Mahfud M Gamar. Tapi ketika dinyatakan lulus guru PNS, dia malah mundur dan lebih memilih membesarkan Darisa.

Laporan: Tahmil Burhanudin/Syamsu Rizal

JUMAT, 24 November 2017, Rumah Makan Darisa Jalan Setia Budi Palu, dua karyawan menyambut Metrosulawesi dengan ramah begitu melewati pintu kaca di lantai dasar. Salah satunya karyawan perempuan mengenakan jilbab tersenyum manis.
 
Sore itu, puluhan karyawan berseragam tampak sibuk. Ada yang melayani pesanan pengunjung. Mengantarkan menu makanan dan muniman ke meja. Ada pula seorang karyawan perempuan di kasir menerima pembayaran. Sementara di lantai dua, beberapa karyawan menata layout ruangan VIP berkapasitas 150 orang. Ruangan itu sedang disewa untuk acara penting. Sore itu, Darisa cukup ramai pengunjung yang datang silih berganti.

Keramaian itu tak jauh berbeda dengan 22 tahun silam. Bedanya, dulu masih warung kecil-kecil. Karyawan juga hanya lima orang. Tapi, kini terus berkembang dan telah menghidupi seratusan karyawan. Darisa kini punya tiga depot cabang dan satu depot induk di Palu. Bahkan, ada pihak tawaran mengembangkan sayap ke beberapa kabupaten di Sulteng hingga Sulawesi Barat.

Jika melihat perkembangan Darisa saat ini, siapa sangka bahwa modal awal dari bersumber dari beasiswa, hasil jualan koran dan pinjaman keluarga. Tak ada pinjaman bank di awal berdirinya Darisa yang merupakan akronim depot sari rasa. Mahfud M Gamar, satu dari lima pendiri Darisa tahun 1995 mengatakan, selama beberapa tahun Darisa berdiri, tak bersentuhan dengan dana pinjaman bank. Rumah makan yang dirintis bersama kawan-kawannya ini modal awalnya dari beasiswa dan jualan koran.

Inilah rahasia sukses berbisnis yang ketiga ala Mahfud M Gamar yakni tidak mengandalkan pinjaman dana dari bank pada awal berdirinya Darisa. Lantas dari mana modalnya? Mahfud mengatakan, ketika menjadi mahasiswa S1 di Untad, ia mendapatkan beasiswa dari Pertamina, Djarum dan dari kampus. Sebagian dana itu tak dihabiskan, tapi disimpan. “Kalau modal saya dari beasiswa, ada juga teman dari usaha jualan koran, ada juga yang pinjam dana dari orang tuanya. Ketika Darisa menanjak, ada teman pinjam ke omnya,” kata Mahfud. Dia melanjutkan, “Sejak awal merintis Darisa sampai beberapa tahun berikutnya, tidak bersentuhan dengan dana bank.”

Dua tahun pertama sejak berdirinya Darisa atau tahun 1997, usaha rumah makan ini mengalami kemajuan drastis. Pengunjung semakin ramai, terutama kelangan anak muda yang menggelar bazar. Saat itu, bazar sedang trend. Tapi, bukan tanpa cobaan. Pada saat yang bersamaan Mahfud diuji kesetiaannya pada dunia bisnis sekaligus komitmennya pada empat kawannya. Mahfud yang sarjana pendidikan tergiur menjadi PNS. Dia meninggalkan Palu dan berangkat ke Poso, kampung asalnya untuk mendaftar guru PNS. Benar saja, Mahfud lulus seleksi guru ketika itu.

Tapi, kegembiraan lulus sekejap berubah menjadi dilematis. Dia dan keluarganya senang karena lulus PNS. Saat itu, kata Mahfud memang sulit menembus ketatnya persaingan menjadi PNS. Tapi, hati kecilnya juga tak tega meninggalkan empat kawannya dan Darisa yang dibangun bersama di Palu. Apakah tetap di Poso menjadi PNS guru atau kembali ke bisnis kulinernya di Darisa?

“Saya lulus. Tapi, bisnis Darisa juga sudah mulai maju. Saya putuskan tidak ambil jadi PNS. Keluarga saya marah, kecewa karena susah menjadi PNS. Tapi karena memang ada komitman dengan teman-teman ‘silahkan kerja dimana pun dan apapun asalkan masih di Kota Palu, tidak boleh keluar Palu’. Yang paling banyak bicara komitmen itu saya, tidak mungkin saya jilat ludah kembali. Saya akan jadi pengkhianat kalau saya terima kelulusan PNS itu. Akan tercatat dalam sejarah saya khianati teman-teman saya. PNS saya tinggalkan dan saya ke Palu majukan usaha. Kemudian saya netralisir sakit hati keluarga dengan saya daftar jadi dosen luar biasa di Untad dan diterima tahun 1997,” ujarnya.

Inilah rahasia keempat seorang Mahfud dalam berbisnis yakni bertanggung jawab pada keputusan yang telah diambil dan menjaga kepercayaan kawan-kawannya. Selain alasan komitmen dengan empat kawannya, Mahfud juga melihat masa depan Darisa yang cerah. Waktu itu, kata dia sedang trend bazar di kalangan anak muda dan Darisa menjadi tempat gaul sehingga menjadi sangat ramai. Sarjana-sarjana yang baru menyelesaikan kuliahnya dan belum bekerja pun direkrutnya. Dia menyebut Darisa semacam “rumah singgah” bagi sarjana sambil menunggu pendaftaran PNS.

“Mahasiswa ternyata tenaga kerja yang potensial. Mereka punya waktu yang banyak dihabiskan di kos. Mereka butuh makanan murah dan sehat,” jelasnya.

“Tahun kedua berkembang, kita bikin bangunan lagi di sebelahnya agak rapi. Teman pinjam dana ke omnya,” ujarnya.

Kali ini, Mahfud memantapkan pilihan konsen pada bisnis. Dia mengambil jalan yang mengubah arah langkahnya.

“Saya menarik diri dari kampus dan saya keluar dari dosen luar biasa. Satu tahun setengah saya jadi dosen LB dan saya memilih konsen ke bisnis,” katanya.

Ketika Mahfud tenggelam dalam dunia bisnis kuliner, beberapa tahun kemudian muncul lagi “godaan” menjadi PNS. Kali ini penerimaan dosen PNS di Universitas Tadulako Palu. Banyak sarjana yang mengincar dan menantikan lowongan itu. Profesi dosen begitu membanggakan dan ini kesempatan langka. Apalagi saat itu belum mensyaratkan harus strata dua (S2). Sekali lagi, Mahfud bermanuver. Dia mendaftar PNS dosen.

“Saya terangkat jadi dosen PNS tahun 2005. Dari sekitar 40 pendaftar, hanya dua yang lulus termasuk saya,” ujarnya.

Beda ketika lulus guru PNS di Poso dia tinggalkan, kali ini dia serius mau jadi dosen. Apalagi, kampusnya di Kota Palu sebagaimana komitmen dengan kawan-kawannya pendiri Darisa bahwa boleh bekerja dimanapun asalkan masih di Palu. Dia yakinkan bisa jalankan dua pekerjaan sekaligus.

Lagi pula bagi Mahfud, satu jatah dosen di Untad sudah ditakdirkan untuknya.

“Allah memang memperuntukkan saya jadi dosen. Katanya, rezeki tidak tertukar. Kita sudah ada rezeki ditentukan tinggal bagaimana menyambut rezeki itu, karena Allah tidak mungkin menciptakan kita di dunia ini kalau tidak dibekali dengan rezeki. Kita optimis, tidak mungkin mati kelaparan. Kemudian kapan rezeki itu diambil, cepat atau lambat tergantung kita mengambilnya. Sehingga betul kalau dikatakan rezeki bukan urusan kita, kita hanya berikhtiar saja, berusaha. Tapi, jangan bilang ‘kalau saya tidak begini, maka tidak jadi begitu. Kalau tidak lakukan ini tidak maju usaha’. Itu namanya takabur. Saya lulus dosen yang sudah diperuntukkan untuk saya. Walaupun orang mau ambil tidak bisa,” ujarnya dengan mimik serius seperti penceramah di pengajian. Ini adalah rahasia kelima Mahfud dalam meniti karier di bisnis sekaligus akademisi yakni yakin pada kekuasaan Allah SWT.

Meskipun lulus menjadi dosen PNS, dia tetap tak ingin meninggalkan Darisa yang dibangun bersama kawan-kawannya selama bertahun-tahun. Dia tetap setia, tapi pada sisi lain Mahfud menyadari dia berdiri di persimpangan.

”Dua peran, sebagai dosen dan pebisnis. Saya sebagai akademisi dan praktisi. Tapi, bukan akademisi politisi. Ha... ha...ha...,” dia tertawa.

Lantas bagaimana menjalankan dua peran sekaligus sebagai akademisi dan pebisnis? (bersambung)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.