Monday, 20 August, 2018 - 11:41

Cerita Mahfud M Gamar 22 Tahun Membangun Darisa di Palu (3-Habis)

KARYAWAN - Karyawan Rumah Makan Darisa, Jumat 24 November 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Mengedukasi Karyawan, Kunci Sukses Darisa

Salah satu kunci kesuksesan Rumah Makan Darisa bertahan hingga 22 tahun di Palu adalah karena karyawannya dibekali skill dan mindset sudah terbentuk.

Laporan: Syamsu Rizal/ Tahmil Burhanudin

DIREKTUR CV Darisa Mahfud M Gamar, berani menyebut miniatur Indonesia ada di Rumah Makan Darisa. Mengapa? Itu karena di rumah makan yang mempekerjakan seratusan karyawan berasal dari bermacam-macam suku di Indonesia.
 
“Saya Bugis Kaili, teman saya ada Jawa, ada Kaili dua orang, dan ada Makassar satu orang,” ujar Mahfud ditemui di Rumah Makan Darisa Jalan Setia Budi, Palu, Jumat 24 November 2017.

Karyawan pun demikian. Ada yang Kaili, Gorontalo, Makassar, Toraja, Jawa dan seterusnya. Ada karyawannya yang Islam, Kristen, dan Hindu.

“Karena itu bisa dikatakan miniatur Indonesia. Penuh dengan keberagaman. Saya sebut keberagaman karena kalau perbedaan konotasinya jadi beda. Tapi, keberagaman. Jadi kalau NKRI harga mati, maka keberagaman juga harga mati,” ucapnya.

Saat ini, jumlah karyawannya mencapai seratusan yang bekerja di empat lokasi di Palu yakni Jalan Setia Budi, Jalan Abdul Rahman Saleh (jalan ke Bandara Palu), Jalan Wolter Monginsidi dan satu lagi di dekat kampus Untad Palu.

“Tapi, jika dihitung-hitung sejak awal berdiri 22 tahun silam sampai sekarang sudah ada seribuan karyawan yang keluar masuk. Mereka yang keluar mayoritas telah bekerja di perusahan-perusahaan seperti di hotel, cafe, dan rumah makan. Mereka sebelumnya telah dibentuk di Darisa,” kata Mahfud yang juga dosen tetap di Untad Palu.

Menurutnya, mantan karyawan Darisa mudah diterima di tempat lain karena skill telah terbentuk. Begitu juga mindsetnya tentang dunia usaha. Sebelum bekerja di Darisa, karyawan memang dibentuk terlebih dahulu agar bisa bekerja secara profesional.

“Kami biasa jalan untuk studi komparatif untuk melihat eksternal kita, sekaligus refreshing. Ternyata di hotel-hotel, hampir semua ada mantan karyawan kami di sana begitu juga restoran dan rumah makan dan mereka berada di posisi strategis,” katanya.

“Artinya kita (Darisa) sudah membentuk tenaga kerja yang siap pakai. Punya skill maupun kemampuan personal dalam dunia usaha. Pada akhirnya kita menjalankan fungsi-fungsi itu (Balai Latihan Kerja),” ungkapnya.

Memberikan edukasi kepada karyawan memang salah satu tugas Mahfud di Darisa. Menurutnya, ada korelasi antara dunia pendidikan dengan bisnis yang dijalaninya. Mahfud mengedukasi karyawannya tentang dunia usaha. Sebab, karyawan di Darisa dari berbagai kalangan. Misalnya ada yang berlatar belakang petani dan nelayan sehingga diubah menjadi profesional di dunia usaha.

“Karena kita tidak bisa kita mengajak orang buta untuk berlari pasti tidak akan sampai. Kita bisa kita ajak orang berenang kalau orang itu tidak pandai berenang. Artinya karyawan diubah mindsetnya, dibentuk dulu. Pada akhirnya kita harus mendidik dan itu keterampilan yang saya bawa dari kampus,” jelasnya.

Dia mengakui ada pola karyawan di Palu yang kerap berpindah-pindah dan hal itu cukup melelahkan. Tapi, itu tak bisa juga dihindari oleh pelaku usaha.

“Karyawan gampang mendapatkan pekerjaan karena terjadi mobilisasi. Sekian persen karyawan berpindah. Jadi, akan ada banyak lapangan kerja karena pergeseran secara alami. Mereka bergerak seperti lingkaran. Ini bisa jadi diteliti,” ujarnya.

Bagi Darisa, hal itu biasa saja. Karena itu, menurut Mahfud, Darisa sudah mempersiapkan diri menghadapi pola kerja karyawan.

“Ada karyawan yang mutar-mutar ke perusahaan lain, pada akhirnya balik lagi ke sini (Darisa),” katanya.

Menurutnya, pembentukan skill dan mengubah mindset karyawan wajib dilakukan. Sebab, saat ini pengusaha kuliner terus berdatangan di Palu sehingga persaingan semakin ketat.

“Kafe semakin banyak, restoran internasional dan lokal akibatnya terjadi persaingan ketat. Ini tantangan dan keniscayaan. Tapi, secara mental kami siap. Dan internal juga sudah dipersiapkan,” ucapnya.

Meski dia akui juga bahwa kadang terjadi persaingan tidak sehat dan hal itu biasa terjadi dalam dunia bisnis.

“Mengatasi itu kita menjaga pelayanan, perbaiki kita punya image, internal terus diperbaiki, mutu makanan dan rasa, dan kebersihannya,” jelasnya.

Saat ini, Darisa memiliki banyak varian makanan dan minuman. Juga melayani catering, ada prasmanan untuk acara arisan, pernikahan, acara kantoran, acara keagamaan dan disiapkan aneka kue. Ada juga nasi kotak dan rantangan.

“Rantangan bisa dikontrak. Banyak kalangan profesional muda yang pesan rantangan karena kesibukan tak sempat makan di rumah,” katanya.

Fasilitas juga dibenahi. Salah satunya wahana bermain bagi anak di Rumah Makan Darisa Jalan Setia Budi, Palu. Ada pula ruangan VIP yang disiapkan. Dengan berbagai strategi itu, Darisa terus berkembang sampai saat ini dan mewarnai perjalanan sejarah Kota Palu selama 22 tahun. (***)


Editor : Udin Salim