Saturday, 22 September, 2018 - 09:18

Dampak Melemahnya Rupiah, Produsen Tahu Tempe Kesulitan Bahan Baku

Usaha pembuatan tahu di Kota Palu. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com – Dampak menguatnya Dolar AS terhadap rupiah, Harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe di Kota Palu saat ini mulai merangkak naik. Dari Rp8.500 per kilogram (kg) menjadi Rp9 ribun rupiah per kilogram. Harga tahu pun naik seribu rupiah.

Kenaikan itu sudah terlalu besar, tetapi perajin tempe mengkhawatirkan naikan harga bahan baku tersebut. Pasalnya, jika kenaikan harga tidak terbendung, usaha yang mereka jalani saat ini dapat terancam gulung tikar.

Salah satu pengrajin tempe di Kota Palu Ismail, salah seorang pemilik industri tahu dan tempe di Jalan Miangas, Kecamatan Palu Selatan mengaku, sudah seminggu terakhir harga kedelai naik sebersar Rp500 per kilogramnya. Kenaikan tersebut diduga efek dari semakin menguatnya nilai dolar terhadap rupiah yang kini telah menembus di atas Rp15.000 per dolar AS.

“Harga kedelai yang mengalami kenaikan itu merupakan harga kedelai impor yang selama ini dipakai perajin untuk membuat tempe atau tahu. Kedelai yang digunkan pengrajin kan inpor. Jadi menguatnya dollar terhadap rupiah berdampak pada harga kedelai saat ini," tuturnya, Senin (10/9).

Menurut dia, meski harga kedelai naik dari Rp8.000 per kg menjadi Rp8.500 kg, namun para pengrajin tempe dan tahu tetap beroperasi. Meskipun keuntungan yang didapat jauh lebih kecil. Karenanya, perajin khawatir jika kenaikan harga kedelai itu tidak bisa dibendung. Artinya, harga jual kedelai terus naik.

"Kalau tidak bisa ditekan (artinya terus meningkat) akan berdampak pada para pengusaha tempe, kualitas kedelai lokal sebenarnya memiliki kwalitas yang lebih baik. Jika impor kedelai didiamkan satu sampai satu setengah bulan sari patinya berkurang, berbeda dengan kedelai lokal. Namun hal tersebut tidak dibarengi dengan stok kedelai lokal yang melimpah," ungkapnya.

Hal sama dialami usaha tahu milik H Safran di Kelurahan Nunu Jalan Jati Baru. Kenaikan kedelai sangat berpengaruh dengan harga jual. Sedangkan, harga tahu yang dijualnya untuk satu cetakan tahu Rp34 ribu menjadi Rp35 ribu rupiah.

“Tetapi tidak sama halnya seperti yang terjadi di Jawa kenaikan sekarang untuk kedelai Rp8,500 menjadi Rp9 ribu rupiah per kilogram kedelai impor. Sedangkan, ukuran tahu masih tetap tidak berubah ukuran 50 kali 50 dan tebal 7 hanya harganya saja yang kami naikan,” ungkapnya, Senin (10/9).

Menurutnya, lumayan untuk kenaikan harga tahu sekitar 3 persen dari harga sebelumnya. Selain itu, kedelai dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tahu di tempatnya ada dua kedelai dari hasil petani lokal dan kedelai impor. Kebutuhan mereka perbulan mencapai  sekitar 60 sampai 70 ton, sedangkan petani lokal mengirim kedelai hanya sekitar 10 ton saja.   

“Berbeda dengan pengrajin tempe mereka kebanyakan murni memakai kedelai impor. Kalau kita pakai kedelai lokal dari Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Donggala dan Pasangkayu Sulawesi Barat. Maupun kedelai yang dari Jawa bila kedelai lokal sini tidak bisa memenuhi kebuhuhan kami,” ujarnya.

Selain itu, kedelai impor yang dipesannya biasa mencapai 2 konteiner atau 50 sampai 60 ton dengan biaya Rp120 juta rupiah.  Naiknya  dolar Amerika Serikat (AS) membuat dirinya sebagai pengrajin tahu di Kota Palu Sulawesi Tengah sangat mengkhawatirkan kepada importir kedelai yang memainkan harga jual.

“Importir ini sekarang mereka beli kedelai pajak impor itu tidak ada, tetapi kenaikan beli mereka dan itu juga berpengaruh kepada kami pengrajin dan pengusaha yang hanya memerlukan bahan baku. Kalau hal ini terjadi terus menerus pasti akan berdampak lebih serius di bidang ekonomi,” katanya.

Sementara nilai jual yang ada ditempat tersebut tidak mempengaruhi yang signifikan. Lanjut dia, daya beli masyarakat di Sulawesi Tengah sangat tinggi terhadap produsen tahu, berbeda dengan yang ada di Jawa.

“Kita menaikan harga masih batas kewajaran jadi hampir tidak adalah damapak dari kenaikan. Sedangkan, rata-rata 80 persen kebanyakan kami jual di pasar Kota Palu dan 20 persen ke luar kota seperti, di Kabupaten Sigi, Parigi, Sulawesi Barat dan Poso,” katanya.
 
Dia berharap kepada pemerintah agar lebih meningkatkan produksi dalam negeri khusunya kedelai lokal karena sebenarnya justru kebanyakan pengrajin tahu menyukai kedelai lokal dengan memiliki sari dan kandungan diatas 5 persen dari kedelai impor. Selain itu, rasanya juga enak itulah keunggulan kedelai lokal.

“Artinya, di sinilah sebenarnya kesempatan kita juga meningkatkan produksi dalam negeri khususnya menanam kedelai-kedelai lokal. Terus terang untuk tahu kita tidak semuanya mereka bisa memanfaatkan. Kenyataan, kedelai lokal saja tidak mencukupi untuk kami, jadi ada harapanlah bagi mereka memberikan stok yang lebih perbulan kita serap. Selain itu, harga juga berbeda untuk kedelai lokal dan impor,” pungkasnya.    
 

Editor: Pataruddin