Saturday, 18 August, 2018 - 03:06

Dana ISIS Mengalir ke Poso

Kepala operasi Tinombala, Kombes Pol Leo Bona Lubis. (Foto : Wawan)

Poso, Metrosulawesi.com - Aksi sipil bersenjata yang terjadi di wilayah Poso saat ini juga didanai dari kelompok ISIS. Berdasarkan penelusuran pihak Polda Sulawesi Tengah, kelompok pimpinan Santoso sudah seringkali menerima pengiriman dana melalui proses transfer bank.

Kepala Operasi Tinombala Kombes Pol Leo Bona Lubis di Mapolres Poso, Kamis 21 Januari, mengatakan, saat ini pihaknya tengah mendalami aliran dana yang mengalir itu.

Dikatakan, ISIS dikabarkan sangat intens melakukan proses transaksi bank ke sejumlah orang yang terlibat dalam jaringan kelompok Santoso. Transaksi dengan nilai jutaan rupiah disinyalir kerap mengalir ke kelompok tersebut, sehingga dana-dana tersebut itulah yang mengakibatkan kelompok jaringan pimpinan Santoso selama ini bisa bertahan lama di persembunyiannya di hutan-hutan di Poso Pesisir.

Kombes Pol Leo Bona Lubis mengungkapkan, pihaknya tengah menelusuri aliran dana, sekaligus mencari siapa-siapa yang menerima dana tersebut.

Menurut dia, dana ke jaringan Santoso tersebut masuk secara pelan-pelan dan berkeseinambungan, mulai dari kisaran Rp2 juta dalam beberapa kali pengiriman melalui yayasan dan rekening perorangan.

"Memang ada dana ISIS yang selama ini masuk ke kelompok Santoso dengan sistem penyaluran melalui bank dan perorangan," ungkapnya.

Leo menambahkan selain berhasil mengungkap aliran dana ISIS, pihaknya juga menemukan sejumlah dokumen penting serta petunjuk baru, dari kontak senjata terakhir.

Dari dokumen tersebut terungkap adanya rencana kegiatan serta struktur baru kelompok Santoso baru pasca tewasnya Daeng Koro.

"Berdasarkan dokumen yang ada, kalau kelompok tersebut masih ada di dalam hutan di Poso," ujarnya.

Pihak kepolisian sendiri mengakui banyak kendala yang dihadapi untuk menangkap kelompok tersebut. Selain faktor alam dan kondisi medan, kelompok tersebut sudah lama hidup di hutan dan lebih mengenal lokasi sehingga memudahkan mereka untuk bersembunyi menghindari aparat.

Saat ini pergerakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso terus dipantau dan dipersempit oleh  pihak aparat kepolisian maupun TNI. Bahkan Polri kembali merilis tujuh belas daftar DPO baru jaringan Santoso pasca operasi Camar Maleo. (wan/ant)