Saturday, 22 September, 2018 - 09:21

Dari Dosen Hingga Pimpinan BPJS TK

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Palu, Muhyiddin Dj. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

MUHYIDDIN Dj, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Palu, banyak bercerita tentang pengalaman selama ia bekerja. Sebelumnya, dia pernah bekerja sebagai staf pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Makassar.
 
Ia bertugas pertama kali di BPJS TK pada tahun 2005 dan pada saat itu hampir bersaman dengan penyelesaian masa studi di program pascasarjana Fakultas Ekonomi Jurusan Marketing Manajemen di Universitas Hasanuddin Makassar.

“Awalnya tugas di Makassar, kemudian saya dipindah tugaskan pada tahun 2012 di ibu Kota Jakarta cabang Sudirman pada waktu itu. Kalau saya tidak salah ingat di sana saya memegang empat kantor cabang BPJS TK selama 5 tahun dan kemudian dipindahkan lagi sampai akhirnya di 2017 kemarin saya mulai berugas di Kota Palu,” tuturnya, Senin (10/9).

Ketika ditanya apa prioritas Indhy dalam jangka pendek ini, pria berdarah Bugis kelahiran Palopo 4 Agustus 1977 itu dengan spontan mengatakan bahwa program prioritasnya adalah meningkatkan agresifitas akuisis kepesertaan para pekerja non-formal. Ia mengakui catatan prestasi yang ditinggalkan kacab-kacab sebelumnya merupakan tantangan tersendiri bagi dirinya untuk mempertahankan bahkan meningkatkannya.
"Namun saya sangat optimistis untuk membuat lompatan-lompatan baru karena peluang pasar masih cukup besar, sebab masih banyak sekali pekerja non-formal (bukan penerima upah) yang belum terjangkau program BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu saya juga didukung oleh staf-staf yang masih berusia muda dan penuh dedikasi serta inovatif," ujar Indhy sapaan baginya sehari-hari.

Ia selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah swt kepadanya saat ini.  Karena menurutnya perjalanan karir yang terhitung baru tiga belas  tahun bertugas di BPJS TK sudah lumayan banyak pengalaman yang ia dapatkan selama bertugas. Menurutnya, tantangan yang selama ia hadadapi itu terbilng sama karena di mana pu bertugas, maka kontribusi optimal yang wajib anda berikan dan masing –masing daerah mempunyai karakterristik yang berbeda.

“Selama saya dipindahkan dalam bertugas dari satu unit ke unit yang lain lumayan banyak karena di Kota Palu merupakan kantor cabang yang ke enam di kantor wilayah yang ke tiga. Saya sudah bertugas di enam kantor cabang dan tiga kantor wilayah diberbagai jenjang mulai dari staf, naik menjadi Kepala Bidang dan kemudian menjadi Kepla Kantor Cabang,” ungkap dia.

Tantangan berada di Kota Palu yang selama keseharian ia jalani terkait dengan biaya operasional yang cukup luas atau kondisi geografis. Karena di kota ini bentangannya luas terdiri 12 kabupaten dan 1 kota provinsi dan itu yang menjadi tantang tersendiri bagi dia. Sehingga, bagaimana di tempat ini saling berkordinasi dengan beberapa cabang di Sulawesi Tengah.

“Di tempat lain sangat jarang kita temui seperti ini dengan luas dan tantangan yang sangat berbeda. Kemudian, berkaitan juga dengan kekuatan biayanya karena mengurus 7 kantor cabang perintis di bawah kantor cabang di sini saya kira menjadi tantangan tersendiri dan tidak semua orang bisa melewati fase itu bia ia berkarir di BPJS TK,” jelasnya.

Indhy sendiri mengaku sebagai pencetus program Ambassador BPJS Ketenagakerjaan di Cabang Tangerang dengan menjadikan Wali Kota Tangerang sebagai ambasador pertama di Indonesia, kemudian program ini dinasionalisasi oleh kantor pusat lalu direplikasi di banyak daerah saat ini.

"Masih banyak sekali kelompok-kelompok pekerja yang rentan kesejahteraan sosial yang membutuhkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan dan untuk menjangkau mereka kita butuhkan pejabat-pejabat daerah seperti wali kota dan bupati untu menjadi triger untuk menjangkau kelompok tersebut, antara lain melalui penetapan ambasador BPJS Ketenagakerjaan," ujar
  
Ia berharap dengan dukungan tujuh kantor cabang perintis yakni di Donggala, Parigi, Poso, Ampana, Luwuk, Morowali dan Buol, BPJS Ketenagakerjaan Palu bisa mengakuisisi menjadi lebih baik lagi ke depan. Sehingga, di wilayah ini juga setingkat dengan wilayah yang sudah terbilang maju di Indonesia.

“Selain merekrut peserta baru, pihaknya juga bekerja keras agar peserta yang sudah terakuisi saat ini bisa terus bertahan (sustain) menjadi peserta karena sudah merasakan manfaat program serta mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari jajaran BPJS Ketenagakerjaan,” harapnya.    
 

Editor: Pataruddin