Thursday, 16 August, 2018 - 20:09

Dari Sampah Hasilkan Puluhan Juta per Bulan

M Kafrawi Al-Kafiah. (Foto: Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Para pengepul sampah plastik bisa meraup untung puluhan juta rupiah setiap bulan, keuntungan bisnis sampah plastik ini pun sangat menjanjikan. Selain mudah mendapatkannya, sampah plastik setiap hari semakin banyak. Diyakini, selama manusia masih beraktifitas, maka sampah plastik akan selalu ada dan makin bertambah. Hal ini menggairahkan M Kafrawi Al-Kafiah untuk mencicipi bisnis sampah di Kota Palu.

“Siapa bilang sampah hanya untuk dibakar atau dimusnahkan? Jika dikelola dan tahu caranya, sampah bisa bernilai jual. Di tangan orang-orang kreatif, sampah bisa jadi produk bernilai jual tinggi. Bahkan, cukup dengan mengumpulkan sampah, seseorang bisa menghasilkan dan meraup untung hingga puluhan juta rupiah per bulan,”.

Begitu kata menurut M Kafrawi Al- Kafiah. Laki-laki berusia 28 tahun yang juga menjabat Wakil Dekan (Wadek) III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Palu.

Berawal dari kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, pria pemilik gelar M,Si ini coba membangun usaha yang berkaitan dengan sampah, khususnya sampah plastik. Awalnya, ia hanya mengumpulkan sampah plastik dari para pemulung maupun warga, dan kemudian dijualnya kembali ke pengepul yang skala bisnisnya lebih besar.

Keuntungan dari penjualan ulang sampah plastik yang dikumpulkannya lumayan besar. Hingga akhirnya, beberapa waktu lalu, ia membeli mesin pencacahan sampah plastik. Sampah plastik yang sudah dicacah dikirim ke pabrik pengolahan plastik di Surabaya. Keuntungan dari penjualan sampah plastik yang sudah dicacah mencapai Rp40 juta setiap bulan.

Laki-laki kelahiran Kota Palu 12 Juni 1990 ini pun menceritakan awal mula Ia mulai menggeluti usaha jual beli sampah plastik ke Metrosulawesi.

“Saya berniat memang untuk buka usaha, karena keluarga saya itu tidak ada yang PNS, dari nenek saya tidak ada yang PNS. Mereka kan pengusaha semua, jadi jiwa saya di situ. Apa usaha yang menarik di Kota Palu? Waktu terbuka pikiran saya, Itu yang pertama kali saya pikirkan, jadi pengusaha,” kata pemilik sapaan akrab Rawi mengawali ceritanya di Cafe The Gade milik Pegadaian baru-baru ini.

“Saya lihat program pemerintah kemarin untuk perangi sampah, terus juga saya mulai baca-baca artikel tentang sampah. Tapi di situ saya belum tertarik untuk mengolah sampah, karena saya belum paham. Banyak usaha-usaha yang saya fikirkan, awalnya saya sudah main di properti, pengolahan batako,” katanya.
 
Karena kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, Ia pun selalu tertarik dengan berbagai artikel maupun video-video tentang pengolahan sampah di media sosial maupun berbagai tulisan di media massa.

“Dan kemarin ada artikel tentang seseorang yang saya baca, di youtube juga, dari sampah ini dia bisa hidup bukan hanya berkecukupan lagi, namun berlebih, dari sampah ini. Saya lihat, sampah di daerahnya itu tidak akan habis, kalau masih ada orang yang hidup atau bernafas. Jadi kita tidak perlu takut untuk bahan baku sampah ini,” ujarnya.

Ia pun tertarik. Saat itu, Rawi sedang berkunjung ke Surabaya untuk membeli mesin press batako. Namun Ia batalkan, akhirnya Rawi membeli mesin pencacah plastik. Suami dari Magfira ini juga menyempatkan diri jalan-jalan ke pabrik pencacahan dan para pengepul sampah plastik  di Surabaya.

“Memang mereka (pengepul plastik) itu hidupnya tidak keren, tapi saya kaget dengan penghasilan yang mereka dapatkan. Dari 20 ton sampah plastik itu, bisa menguntungkan Rp40 juta sampai Rp50 juta dalam sebulan,” sebut dia.

Para pengepul minimalnya menjual sampah plastik 20 ton setiap bulan.

“Jadi target kita itu dalam sebulan memang harus 20 ton. Karena kontainer itu kita harus kirim 20 ton, karena kalau kita kirim kurang dari itu, kan rugi dengan ongkos kirimnya.”

“Karena tertarik, saya ke Surabaya beli mesin. Saya ada lahan, tanah orang tua bekas sawah saya minta dan saya bikinkan pabrik untuk cacahan plastik pada 2017. Sebelum ada mesin, saya sudah mengepul plastiknya. Waktu itu saya jual ulang ke pabrik-pabrik di sini juga. Jadi saya berpikir, kenapa saya tidak jual sendiri juga,” kata dia.

Tidak sampai di situ, meski terbilang baru dalam merintis sampah, Rawi sudah punya niatan untuk memperbesar skala bisnisnya itu. Ia berencana akan membeli mesin pengolah plastik untuk produksi tutup botol hingga gelas plastik.

Ia berharap kedepan, para pengepul sampah plastik di Kota Palu tidak lagi mengirim sampah plastik ke luar daerah seperti ke Surabaya, tapi justru bisa diolah di Kota Palu untuk dijadikan barang produksi siap pakai.

Menurut Rawi, sampah plastik selalu membludak, satu pengepul saja bisa mendapatkan 2 ton sampah plastik per hari yang dibeli dari pemulung maupun warga. Olehnya, jika ada pabrik produksi berbahan plastik di Kota Palu, pasti tidak akan kekurangan bahan baku.

Selain sebagai ladang bisnis, usahanya tersebut sebagai wujud kepedulian sosialnya terhadap lingkungan. Dia tidak ingin menikmatinya sendiri, olehnya kelompok masyarakat pun diajaknya untuk mulai peduli kebersihan dan menghasilkan uang dari sampah plastik.

Ia pun menggaet Pegadaian untuk bekerja sama melalui produk Tabunga Emas Pegadaian. Rawi membuka sejumlah unti bank sampah, dimana nasabahnya akan dibayar dalam bentuk uang tunai maupun tabungan emas setiap kali menjual sampah plastiknya.

“Bagaiamana tingkat kesadaran masyarakat itu kalau sampah ini punya nilai ekonomis. Jadi kemarin saya lakukan itu, bagaimana warga tertarik dengan sampah, apa yang bisa memicu itu. jadi saya sempat hadiri seminar Tabungan Emas Pegadaian, jadi saya berfikir dengan emas ternyata sampah itu punya nilai. Jadi makanya saya buatlah Bank Sampah Emas ini. Sekarang itu Alhamdulillah warga itu kalau dengar kata emas itu walau 0,01 gram pun tapi kalau dengar emas mereka sudah tertarik,” ujarnya.

“Dengan Rp6.000 rupiah setara dengan 2 kilogram sampah sudah bisa dapat emas. Makanya banyak warga yang tertarik. Target utamanya sebenarnya bukan pemulung sendiri, tapi rumah-rumah tangga. Masyarakat juga diajar untuk terbiasa menabung,” lanjut Rawi.

“Awalnya saya datangi mereka, saya bikin kelompok. Saya sosialisasi tentang Bank Sampah ini, saya masih bikin kelurahan percontohan di Kelurahan Duyu, Silae dan Pengawu. Jadi warga di daerah itu saya undang, saya sosialisasikan  tentang sampah ini, Alhamdulillah mereka tertarik. Sejak sosialisasi itu mereka terus mengumpulkan sampah.”

Sejak awal, dalam mengelolah pabrik cacah plastiknya, Rawi turun tangan langsung menangani semua proses, dari penjemputan sampah di rumah-rumah warga hingga dikirim ke Surabaya.

“Saya lakukan penimbangan sendiri, saya jemput sendiri, saya yang angkat sendiri. Saya ambil dari pengepul dan bank sampah itu,” tandasnya.

“Karena saya memang bukan mengejar bisnisnya, tapi kegiatan sosialnya. Jadi kalau kegiatan sosial itu sudah berjalan, bisnis yang akan kejar kita,” katanya.

Karena mulai sibuk denga aktifitas barunya yang bersentuhan langsung dengan sampah, Rawi pun punya niatan untuk mundur dari jabatannya sebagai Wadek III Fisip Unismuh. Niatan itu sudah disampaikan ke yayasan, bahkan ia sudah mengajukan surat terkait niatannya.

“Memang usaha ini harus kita kelola sendiri, bukan kita tidak percaya orang. Apa yang kita buat untuk sukses, harus terjun langsung di dalamnya,” terangnya.

“Saya juga kan menjabat sebagai Wakil Dekan III Fisip di Unismuh Palu. Dengan kesibukan yang ada seperti ini, misalnya ada rapat, saya tidak bisa hadir untuk menjemput sampah, saya selalu takut mengecewakan kampus saya. Mungkin ada kegiatan rapat, tapi warga juga sudah siap menunggu jemputan. Jadi saya piki,r bagaimana kalau saya mundur dari jabatan saja, karena harus fokus di kegiatan sosial ini, sampah,” jelas dia.

“Sampah ini menarik sekali bagi saya, karena sosialnya tinggi terus keuntungan yang kita dapatkan juga tinggi.”

Dia juga mempekerjakan sejumlah kelompok masyarakat di pabrik pencacahan plastik miliknya.

Kedepan, ia  juga ingin ada pabrik khusus sampah sisa makanan. Sehingga seluruh sampah yang ada di Kota Palu bisa dikelola dan bernilai rupiah.

“Banyak sekali keuntungan dari sampah ini, bukan hanya kita cacah. Kompos juga begitu, dari sampah rumah tangga dan plastic, itu ada semua harganya. Jadi semua jenis sampah punya harga, tidak ada sampah cuma untuk dibuang. Dari sampah makanan sisa dan tulang-tulang, itu bisa jadi uang semua,” tutupnya.


Editor: M Yusuf Bj