Sunday, 25 June, 2017 - 20:18

Daya Beli Petani Sulteng Tergerus Selama April

Kepala BPS Sulawesi Tengah, Faisal Anwar. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang dan jasa di wilayah pedesaan selama April 2017 menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah turun sebesar 0,60 persen, yakni dari 95,36 pada Maret menjadi 94,79 pada April 2017.
 
Hal ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,12 persen, sebaliknya indeks harga yang dibayarkan petani mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen.

“Melihat angka tersebut, artinya petani kita itu harga yang diterima lebih rendah, sementara mereka harus mengeluarkan lebih besar untuk harga yang dibayarkan,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar saat merilis di kantornya, Selasa 2 Mei 2017.

Selama April 2017, indeks harga yang diterima petani tercatat 120,55 atau turun 0,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 120,70. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan Indek yang diterima pada empat subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan turun sebesar 1,29 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,78 persen, subsektor peternakan sebesar 0,45 persen dan subsektor perikanan sebesar 1,09 persen.

Sementara indeks harga yang dibayar petani selama April 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen dibandingkan bulan lalu, yaitu dari 126,58 pada Maret 2017 menjadi 127,18 pada April 2017. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks yang dibayarkan di seluruh subsektor yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,55 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,59 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,49 persen, subsektor peternakan sebesar 0,36 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,17 persen.

Sementara itu, dibandingkan bulan Maret, Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) pada bulan April 2017 mengalami penurunan indeks sebesar 0,34 persen yaitu dari 105,28 menjadi 104,92 pada bulan April 2017. Namun demikian, relatif lebih tingginya NTUP dibandingkan Nilai Tukar Petani (NTP) yang sebesar 94,79 merefleksikan bahwa tingkat pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga petani, termasuk peternak dan nelayan, berperan cukup signifikan dalam menurunkan besaran nilai tukar.

Penurunan NTUP sebesar 0,34 persen dipengaruhi oleh penurunan yang terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,54 persen, subsektor hortikultura sebesar 1,27 persen, subsektor peternakan sebesar 0,17 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,61 persen.

Pada bulan April 2017, kenaikan tertinggi NTP pada subsektor tanaman pangan terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 2,32 persen sementara penurunan terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 1,83 persen.

Pada subsektor hortikultura kenaikan indeks hanya terjadi di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 0,10 persen. Pada subsektor perkebunan kenaikan indeks tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 1,49 persen sedangkan penurunan terendah terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 1,90 persen.

Pada subsektor peternakan Provinsi Sulawesi Utara merupakan satu-satunya provinsi yang mengalami kenaikan indeks sebesar 0,49 persen sedangkan provinsi lain mengalami penurunan. Pada subsektor perikanan provinsi yang mengalami kenaikan tertinggi adalah provinsi Sulawesi Barat sebesar 1,05 persen sedangkan provinsi yang mengalami penurunan indeks terbesar adalah provinsi Sulawesi Tengah sebesar 1,09 persen.

Provinsi di Pulau Sulawesi yang mengalami kenaikan indeks tertinggi adalah Provinsi Gorontalo sebesar 0,64 persen, sedangkan penurunan indeks terendah berada di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 1,30 persen.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.