Sunday, 25 June, 2017 - 02:56

Debat Kandidat di Hotel Jadi Sorotan

Irwan Waris. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Irwan Waris: KPU Miskin Kreativitas

Palu, Metrosulawesi.com - Kegiatan debat publik yang diadakan oleh KPU Kota Palu di Hotel Murcure Palu, dianggap tidak efektif dan efisien. Bahkan hanya menghabiskan anggaran saja. Pahadal, banyak penyelenggara yang mengeluhkan kekurangan anggaran.Hal tersebut diungkapkan pengamat politik Irwan Waris, belum lama ini.

Dia mengungkapkan, KPU tidak berfikir efektif dan efisiensi bahwa tujuan debat publik untuk masyarakat, tetapi tidak bisa diliat oleh banyak pihak. Apalagi dengan penggunaan  hotel besar. Irwan mengatakan, masyarakat yang mana yang akan datang jika yang datang hanya tim sukses saja, kegiatannya tersebut dinilai mubazir. Karena tim sukses tidak perlu dipengaruhi karena mereka tidak akan pindah ke tim sukses yang lain.

“Kita inginkan kan rakyat mendengar dan menyaksikan debat publik. Kenapa tidak memilih tempat yang lebih sederhana, representatif aman tetapi bisa dihadiri oleh masyarakat,” kata Irwan.

KPU Kota Palu seharusnya merancang dengan baik debat publik ini. Jika disiarkan di TVRI Palu, dari jauh hari bisa melakukan kerjasama dengan warkop. Meminta untuk menonton debat. Sehingga orang yang berada di tempat tersebut bisa melihat, begitu juga partai politik juga bisa melakukan nonton bareng. 

“Ini juga bagian dari politik rakyat dan sosialisasi,” kata Irwan.

Irwan menganggap, KPU miskin kreatifitas, proses debat yang dilakukan untuk calon walikota dan calon wakil walikota. Mestinya KPU, memasang banyak baliho untuk pemberitahuan bahwa akan ada debat publik. Agar mau menonton debat publik tersebut, karena didaerah Kelurahan Tondo, tidak ada pemberitahuan soal itu, jadi tidak mengetahui hal tersebut.

“Saya tidak tau kalau ada debat publik untuk calon walikota dan wakil walikota. Mau datang pun malu, karena harus membawa undangan. Karena tidak ada yang mengatakan debat publik ini terbuka untuk umum,” ungkapnya.

“Itu TVRI di daerah Tondo, susah ditangkap siarannya. Kadang tidak ada suara, TV kabel dan parabola saja menangkap siarannya hanya TVRI nasional, bagaimana mau menonton debat publik,” tambahnya.

Mestinya, dalam debat publik, KPU memikirkan bagaimana sebanyak mungkin masyarakat yang hadir. KPU dinilai buruk dalam pelaksanaan debat publik, tidak mempu mengembangkan kreasi. Masyarakat tidak sepenuhnya mengetahui akan adanya debat publik. Selain itu, bisa memberikan pertanyaan yang sangat mengena dengan rakyat untuk diketahui serta yang membuatnya pun harus kompeten dengan itu.

Jika terbatas, seharusnya yang menjadi peserta debat publik adalah perwakilan masyarakat, organisasi, penyandang difabelitas, pemilih pemula, mahasiswa dan nelayan. Bukan dari tim sukses, yang hanya ikut meramaikan saja. 

Kritik tersebut kata Irwan, bukan saja di tunjukan kepada KPU Kota Palu, tetapi KPU Provinsi dan KPU Kabupaten Sigi, dimana menggunakan hotel sebagai sarana debat publik.

 

Editor : Subandi Arya

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.