Saturday, 25 November, 2017 - 10:07

Desember 2016, Inflasi Kota Palu 1,15 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Bahan Makanan Pemicu Utama Inflasi

Palu, Metrosulawesi.com - Pada Desember 2016, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 1,15 persen. Angka itu relatif rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan inflasi pada November 2016 yang sebesar 0,49 persen, inflasi akhir tahun lalu justru meningkat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar mengatakan, kenaikan inflasi di akhir tahun sudah diprediksi oleh banyak pihak sebelumnya.

Menurutnya, menjelang akhir tahun sejumlah harga bahan-bahan konsumsi mengalami kenaikan harga, sehingga memicu inflasi yang tinggi.

“Namun inflasi pada Desember 2016 lalu tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, inflasi tahun ini sangat rendah. Bahkan secara year on year (tahunan) hanya sebesar 1,49 persen,” ungkap Faisal Anwar saat merilis data perekonomian bulanan di kantornya, Selasa 3 Januari 2016.

Dari 82 kota pantauan indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi, 78 kota mengalami inflasi dan hanya 4 kota yang mengalami deflasi. Sementara inflasi Kota Palu berada di urutan ke-11 secara nasional.

Inflasi Kota Palu pada Desember dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada sejumlah kelompok pengeluaran diantaranya, bahan makanan sebesar 3,32 persen, transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,24 persen, serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,24 persen.

Berdasarkan komoditasnya, inflasi Kota Palu dipengaruhi oleh sebagian besar harga ikan selar yakni 0,25 persen, tarif angkutan udara 0,16 persen, ikan layang, mobil, ikan ekor kuning, ikan cakalang, bawang merah, tarif pulsa ponsel, pemeliharaan atau biaya servis, telur ayam ras, tomat buah, tomat sayur, televisi warna, cabai merah, pisang, batu bata, sawi hijau, apel, jeruk nipis dan kangkung.

Sementara yang mengalami deflasi pada Desember 2016 hanya terjadi pada kelompok pengeluaran pendidikan. Biaya pendidikan mengalami deflasi 0,48 persen. Di dalamnya termasuk rekreasi dan olahraga.

Sejak November Kota Palu mengalami deflasi yang cukup signifikan. Data yang dirilis BPS, pada Oktober Kota Palu justru mengalami deflasi sebesar 0,95 persen,  kemudian pada November mengalami inflasi 0,49 persen, dan naik menjadi 1,15 persen di akhir tahun.

Di kawasan Sulampua, Inflasi tertinggi pada Desember 2016 terjadi di Jayapura sebesar 1,76 persen. Sementara terendah terjadi di Manado. Manado satu-satunya kota yang mengalami deflasi, yakni sebesar 1,52 persen.

Nilai Tukar Petani Merosot

Sementara itu, nilai tukar petani (NTP) Sulawesi Tengah pada Desember 2016 sebesar 97,87 persen. Angka tersebut turun 0,33 persen dibandinkan NTP bulan sebelumnya. Turunnya NTP di akhir tahun 2016 disebabkan penurunan NTP pada subsektor holtikultura dan tanaman perkebunan rakyat.

“NTP kita secara umum mengalami penurunan, masih di bawah 100. Yang terjadi penurunan itu yakni holtikultura dan perkebunan,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar.

Holtikultura mengalami penurunan NTP sebesar 0,35 persen, sementara tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 1,83 persen. Selain itu, di sektor perikanan juga mengalami penurunan NTP sebesar 0,16 persen pada subsektor pembudidayaan ikan.

Terjadinya penurunan NTP ini juga dipengaruhi oleh tidak seimbangnya biaya pembelian modal pertanian dan biaya konsumsi petani dengan harga jual hasil pertanian.

Dari data BPS, lima bulan terakhir NTP memang mengalami penurunan. Pada Juli lalu NTP sebesar 100,59 persen, kemudian turun menjadi 99,77 persen pada Agustus. NTP kembali turun pada September menjadi 99,24 persen, dan menjadi 98,68 persen pada Oktober. Pada November NTP turun menjadi 98,20 persen, dan kembali merosot menjadi 97,87 persen di akhir tahun.

Sementara itu, nilai tukar usaha pertanian (NTUP) pada Desember naik 0,13 persen dari sebelumnya 108,1 persen pada November menjadi 108,2 persen di akhir tahun.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.