Saturday, 16 December, 2017 - 03:28

Deteksi dan Penanganan Demam Tifoid Lebih Cepat dan Akurat

Demam Tifoid atau sering dikenal sebagai penyakit tifus, saat ini masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara berkembang, umumnya di daerah tropis. Di Indonesia angka kejadian demam tifoid atau tifus rata-rata 900.000 kasus/tahun dengan angka kematian lebih dari 20.000 jiwa, paling banyak pada usia 5-19 tahun. Salah satu penyebab keterlambatan atau kesalahan diagnosis demam tifoid adalah karena pemeriksaan yang digunakan tidak dapat mendeteksi secara cepat dan tepat. 

Demam tifoid atau tifus merupakan infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri atau kuman “Salmonella Typhi”. Demam tifoid ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh feses dan urin penderita maupun carrier karena penanganan makanan dan minuman tersebut yang tidak bersih/higienis.

Demam Tifoid apabila tidak dideteksi dan diobati dengan cepat dapat berakibat fatal, seperti terjadinya komplikasi perdarahan pada usus , kebocoran usus dan komplikasi lainnya yang berujung pada kematian.

Diagnosis dini demam tifoid sangat berperan dalam pencegahan komplikasi dan pemutusan mata rantai penularan. Namun, pemeriksaan laboratorium konvensional yang sebelumnya digunakan untuk mendeteksi penyakit tersebut yaitu pemeriksaan Widal memiliki banyak keterbatasan. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan dalam diagnosis dan juga pengelolaan pasien.

Beberapa penyakit seringkali memiliki gejala klinis yang sama/mirip. Demikian halnya dengan Demam Tifoid atau Tifus, yang tidak dapat dideteksi atau dipastikan hanya berdasarkan pemeriksaan klinis, namun diperlukan pemeriksaan labratorium untuk menunjang diagnosis penyakit tersebut. Saat ini pemeriksaan Anti-Salmonella typhi IgM direkomendasikan menggantikan pemeriksaan konvensional Widal untuk mendeteksi demam tifoid/tifus karena pemeriksaan ini memiliki banyak kelebihan yaitu sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi, cepat dan efisien.

Semakin cepat demam tifoid dideteksi, maka pengobatan yang tepat dapat segera diberikan. Sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi bahkan kematian.

Informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi laboratorium klinik Prodia, Jl. S. Parman No. 16, Palu (0451-451639 atau 082291672222)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.