Saturday, 20 January, 2018 - 03:29

Dewan Adat Mori Gelar Lokakarya

LOKAKARYA - Suasana Lokakarya dan rapat kerja Dewan Adat Mori se Kabupaten Morut. (Foto : Alekson Waeo/ Metrosulawesi)

Morut, Metrosulawesi.com - Setelah Dewan Adat Mori kabupaten Morowali Utara dikukuhkan sepekan lalu, Ketua Dewan Adat Mori pimpinan Siwa Tamanampo, SH menggelar Loka karya dan rapat kerja Dewan Adat Mori se kabupaten Morut berlangsung sejak tanggal 27 - 28 November  2017 di desa Bunta kecamatan Petasia Timur.

Rapat Kerja yang mengambil tema "Kita Tingkatkan Peran dan Fungsi Lembaga Adat Mori Dalam Rangka Memberikan Kontribusi Mendukung Terwujudnya Tujuan Pemerintah dan Pembangunan di Kabupaten Morut”.

Ketua panitia, Julius Pode mengharapkan agar pembinaan pemerintah terhadap lembaga adat Mori sesuai tingkatannya dapat berjalan semestinya. Peran lembaga adat dalam akselarasi tujuan pemerintah dalam pembangunan di daerah Kabupaten Morut sesuai dengan semangat pelaksanaan otonomi daerah diperlukan sumbangsih.

“Kontribusi Dewan Adat Mori dalam menggelar forum lokakarya dan rapat kerja Dewan Adat Mori menjadi penting untuk dilaksanakan guna menampilkan konsep-konsep yang berorientasi pada kemaslahatan dan kepentingan masyarakat secara langgeng ke depan,” tegas Julius Pode.

Pada Lokakarya dan rapat kerja ini juga berlangsung pembekalan (ceramah-ceramah) oleh Kapolres Morowali tentang relevan tugas polisi dengan penerapan hukum adat dalammenciptakan kamtibmas, Kepala Kantor Pertanahan kabupaten Morut tentang pengakuan pemerintah (Negara) atas hak tanah adat pasca penerapan undang-undang pokok agraria (UU No. 5/1960) dan Kadis pariwisata dan seni budaya dalam rangka pengembangan dan pelestarian adat dan seni budaya.

Sementara itu peserta rapat kerja dibagi 3 kelompok untuk berdiskusi tentang bidang pemberdayaan lembaga adat masyarakat hukum adat, bidang pembinaan pengembangan dan pelestarian bahasa, seni budaya dan cagar budaya, serta bidang pemberdayaanekonomi masyarakatadat yang antara lain pembukaan rumah makan tradisional Mori, Tandoku, Potole, Bou Molori, Poanda, Meti, membentuk koperasi yang menampung pemasaran baju-baju adat, anyaman kerajinan tangan.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.