Saturday, 23 June, 2018 - 01:23

Dijadikan Tersangka, Mahasiswa Untad Gugat Kapolres

Kapolres Palu, AKBP Christ Reinhard Pusung. (Foto : Dok Metrosulawesi/ Eddy)

Palu, Metrosulawesi.com - Kakak beradik Alfredo Rocky Bardovalora Salama (Rocky) dan Christophorus George R Salama (George) mengajukan gugatan praperadilan terhadap Kapolres Palu ke Pengadilan Negeri Palu.

Diketahui, Rocky yang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad) Palu dan kakaknya bernama George ditetapkan sebagai tesangka dalam kasus menghalang-halangi penyidikan polisi.

Gugatan praperadilan dibacakan pada sidang terbuka untuk umum di Pengadilan Negeri Palu, Senin, 24 Oktober 2016.

Muslimin Budiman selaku kuasa hukum pemohon dalam gugatannya menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa kliennya. Dia menyebutkan, bahwa pada tanggal 12 Oktober 2016 sekitar pukul 01.00 Wita, Kapolres Palu (termohon) membawa Rocky (pemohon I) dari kediaman George (pemohon II/ kakak Rocky) di Jalan Woodward, tepatnya depan Rumah Sakit Bala Keselamatan Palu. Saat membawa Rocky, tidak mengantongi surat perintah penangkapan.

Saat penangkapan itu, Polres Palu berdalil kepada keluarga pemohon, bahwa Rocky dibawa ke kantor Polres Palu untuk didengar keterangannya sebagai saksi terkait peristiwa amuk massa terhadap pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Saat amuk massa terhadap pelaku curanmor, kebetulan Rocky ada di tempat itu karena bersamaan dengan menghadiri acara ulang tahun ponakannya yakni anak dari George.

Rumah George persis di depan lokasi amuk massa. Saat itu, pemohon menenangkan warga dan pelaku curanmor itu agar diserahkan kepada pihak kepolisian yang saat itu ada di lokasi.

Lanjut Muslimin Budiman, setibanya di kantor Polres Palu, tanpa ditanya, Rocky langsung diseret dengan kasar oleh anggota Polres Palu hingga terbentur di tembok.

Selain itu, Rocky juga dipukul atau dikeroyok oleh anggota Polres Palu hingga babak belur, dan bahkan Rocky ditodongkan pistol dan meletakan pisau di perut Rocky oleh anggota termohon, sembari mengeluarkan kata-kata "berapa lubang kau mau" dan kata-kata "saya bunuh kau".

Selanjutnya, sekitar pukul 1.30 Wita, kakak dari Roky bernama Christophorus George R Salama mendatangi kantor Polres Palu karena mendengar kabar adiknya dibawa ke kantor polisi.

Setibanya di Polres Palu, George langsung ditendang di bagian perut oleh anggota Polres Palu hingga terlempar ke dekat tong sampah. Selanjutnya George dipegang dan dibawa masuk ruangan oleh anggota termohon sambil memukul wajah dan tubuh George secara ramai-ramai hingga babak belur.

Bahkan dipukul dengan gagang senjata hingga bibir bagian bawah George mengalami luka, selanjutnya george disekap di salah satu ruangan di kantor Polres Palu.

Selanjutnya pada 15 Oktober, kakak beradik Rocky dan George mendapat surat panggilan dari Polres Palu yang isinya pada pokoknya memanggil para pemohon untuk datang diperiksa sebagai tersangka, dengan sangkaan Pasal 213, 212, dan 221 KUHP, dimana pada pokoknya para pemohon telah menghalang-halangi penyidikan.

Polres Diminta Bayar Ganti Rugi Rp 500 Juta

Sementara itu, dalam gugatannya, pemohon meminta kepada majelis hakim tunggal praperadilan yang menangani perkara ini, agar pada waktu pemeriksaan praperadilan ini para pemohon dipanggil untuk memberikan keterangan dalam persidangan ini.

Selain itu, termohon diperintahkan agar membawa semua berkas berita acara pemeriksaan ke dalam persidangan dan diserahkan kepada hakim praperadilan.

Selanjutnya, memohon kepada majelis hakim tunggal untuk menjatuhkan putusan agar mengabulkan permohonan para pemohon seluruhnya, menyatakan termohon telah melakukan tindakan hukum yang inprosedural dan tidak sah dalam menyidik perkara yang dituduhkan kepada para termohon.

Selain itu, penangkapan atas diri pemohon dinyatakan tidak sah, menyatakan penetapan para pemohon sebagai tersangka oleh termohon dinyatakan tidak sah, menyatakan tindakan kekerasan berupa penganiayaan yang dilakukan oleh termohon kepada para pemohon adalah tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), membebaskan para pemohon dari segala jenis tuduhan tanpa syarat, serta menghukum termohon membayar ganti rugi senilai Rp 500 juta kepada para pemohon secara tunai dan seketika.

"Jadi, kami mohon majelis hakim tunggal praperadilan untuk mengabulkan permohonan para pemohon seluruhnya," imbuhnya.

Seusai mendengarkan pembacaan gugatan pemohon, Majelis Hakim tunggal, Muh Nur Ibrahim memberikan kesempatan kepada termohon untuk menyiapkan jawabannya untuk dibacakan besok (hari ini). Selanjutnya, sidang ditutup dan akan dilanjutkan besok.


Editor : Syamsu Rizal