Thursday, 16 August, 2018 - 20:13

Dinkes Palu Tidak Paksakan Anak Divaksin MR

TAK ADA PAKSAAN - Sejumlah siswa di SDN 6 Kayumalue Ngapa saat disuntik vaksin MR oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Talise, belum lama ini. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Dinas Kesehatan Kota Palu mencatat per Agustus 2018 sebanyak 2.000 anak atau 11 persen lebih, siswa-siswi jenjang SD dan SMP di Kota Palu, usia 7-15 tahun telah di-umunisasi atau disuntik vaksin campak dan rubella (MR), dari target 62.000 anak. 

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu dr. Royke Abraham kepada Metrosulawesi, Rabu, 8 Agustus 2018. 

“Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) telah menginstruksikan terkait penyuntikkan vaksin MR ini harus mencapai 100 persen, sementara waktu sisa dua minggu atau sekitar 12 hari lagi, waktu diberikan kepada Dinkes untuk melakukan imunisasi MR,” kata Royke.

Kata Royke, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) tentunya harus taat kepada perintah pimpinan, karena ini program nasional dari Kemenkes RI. 

“Maka dari itu, hingga saat ini kami tetap diinstruksi untuk melaksanakan imunisasi MR, bagi yang merasa tidak bermasalah dengan hal tersebut,” ungkapnya.

Tetapi kata Royke, bagi yang merasa keberatan, karena alasan keyakinan atau masih ragu sambil fatwa MUI disilakan saja, Dinkes tidak memaksakan. Namun tetap akan dicatat sambil menunggu fatwa MUI nantinya. 

Olehnya, lanjut Royke, jika program ini bersinergi, maka diharapkan para siswa yang belum sempat disuntik MR, agar bersedia kembali diimunisasi.  

“Di lapangan ada sekitar 5 sekolah di Palu, yang keberatan atau masih menolak siswanya disuntik vaksin MR, namun kami tidak menjadikan masalah, akan tetapi catatan kami adalah dipending dulu sekolahnya,” katanya. 

Royke mengatakan sesuai instruksi semua SD dan SMP baik itu negeri maupun swasta, siswanya yang usia 7-15 tahun harus dilakukan imunisasi MR. 

“Imunisasi MR ini bertujuan mulia untuk membuat anak atau generasi penerus bangsa menjadi generasi emas yang sehat dan mempunyai daya kekebalan tubuh yang tinggi, khusus terhadap campak dan rubella. Kemudian ini merupakan hak anak, dan untuk mendapatkan imunisasi MR dan dilindunggi oleh Undang-Undang (UU) tentang perlindunggan anak,” jelasnya. 

Olehnya, Royke berharap orang tua dan sekolah bisa bersinergi atas program nasional tersebut, karena sesudah ini direncanakan akan menjadi imunisasi dasar. 

“Jadi kemarin hanya imunisasi pengusulan campak, tetapi saat ini campak dan rubella, sehingga ini menjadi imunisasi wajib bagi bayi 0-12 bulan, kami mendukung progran Kemenkes ini,  bagi yang belum yakin kita tidak memaksa, namun kami mengimbau bahwa sebelum keluarnya fatwa MUI sesudah ini bisa di imunisasi kembali agar anak-anaknya lebih sehat lagi,” ujarnya.

Royke mengungkapkan, manfaat dari imunisasi MR ini adalah merangsang terbentuknya kekebalan tubuh. 

“Yang jelas Kemenkes RI tidak mungkin memberikan zat-zat yang berbahaya kepada anak-anak,” tambahnya.

 

Editor: Udin Salim