Saturday, 21 October, 2017 - 20:09

Dinkes Sulteng Awasi Makanan Siap Saji

Kurniawati, SKM MPH. (Foto : Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Kepala Seksi Bimdal Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng Kurniawati SKM, MPH mengatakan pihaknya telah membentuk tim jejaring pengawasan makanan siap saji selama bulan suci Ramadan tahun ini.

“Tim ini disebut kewaspadaan pangan dan gizi. Beberapa waktu lalu kami telah mengadakan pertemuan untuk membahas terkait higienis sanitasi makanan siap saji selama Ramadan. Karena saat ini telah muncul berbagai macam makanan siap saji yang tentunya dapat membahayakan masyarakat dalam mengkonsumsinya pada bulan ramadan jika tidak ada pengawasan dan pemantauan,” katanya.

Kurniawati mengatakan tim ini telah mengevaluasi makanan pangan sebelum ramadan.

“Apakah makanan itu layak dikonsumsi atau tidak? Makanya kami akan melihat dari sisi higienis sanitasinya,” ungkapnya.

“Dinkes telah berupaya agar makanan dan minuman layak dikonsumsi oleh masyarakat sebelum penyakit tersebar kepada masyarakat. Contohnya depot isi ulang air, kami telah melakukan pengawasan terhadap air isi ulang tersebut, dengan waktu minimal enam bulan sekali, maksimal setahun,” ungkapnya.

Kurniawati mengimbau bagai masyarakat yang ingin membeli air isi ulang atau galon, agar melihat terlebih dahulu depot tersebut, apakah sudah memiliki sertifikat dari Dinkes atau belum. Jika depot tersebut memiliki sertifikat Dinkes, maka air minumnya layak konsumsi.

“Tim jejaring Dinkes Sulteng, rencana akan turun di bulan Ramadan memeriksa makanan siap saji yang dijual oleh para pedagang, seperti di Pasar Ramadan. Karena banyak pedagang yang menjamur tiba-tiba menjual di jalan. Maka kita mencoba melakukan evaluasi jajanan berbuka puasa yang dipasarkan nantinya,” ujarnya.

Menurutnya, banyak sekali makanan yang tidak memenuhi syarat gizi. Kata dia, ada empat yang tidak boleh masuk di dalam bahan makanan, diantaranya  zat pewarna, zat pemanis, pengawet dan penyedap rasa.

“Jika kita rinci satu persatu, misalnya zat perwarna, ini memang boleh dicampurkan di bahan makanan, tetapi harus memakai batas kadar yang telah ditentukan di kemasan. Namun biasanya, yang dipakai para pedangang agar makanan dijuallaris, mereka menarik perhatian masyarakat dengan memakai pewarna tekstil baju,” katanya.

Kata dia, hal tersebut bisa membahayakan kesehatan masyarakat.

“Yang mengkonsumsi bisa terganggu kesehatannya, awal sesak napas, tetapi jika terus dikonsumsi makanan ini akan menyebabkan kanker,” katanya.

Kurniawati menyarankan paling bagus masyarakat mengelola makanannya sendiri di rumah, agar makanan tersebut tetap aman dan layak konsumsi selama Ramadan.

“Jenis makanan yang harus dimakan tentunya sesuai kebutuhan gizi seimbang. Termasuk tetap melakukan aktivitas fisik olahraga ringan. Karena kita keadaan puasa, minum air dan makanannya harus seimbang,” katanya.

“Waktu sahur, ada makanan sayuran, lauknya yang tidak terlalu banyak minyaknya serta makanan karbohidrat misalnya nasi dan lain sebagainya. Semoga kita sedapat mungkin melihat makanan yang dijualkan, agar makanan yang kita makan sehat dan bergizi di bulan ramadan tahun ini,” harapnya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.