Saturday, 25 March, 2017 - 06:14

Diskusi Film ‘Terlarang’

ILUSTRASI - Beberapa judul film karya anak negeri. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com – Cukup banyak film bagus karya anak negeri, namun dengan alasan yang tidak diketahui pasti, banyak film yang tidak diputar di bioskop, yang mungkin belum sempat atau mungkin pula tidak akan pernah diputar di bioskop-bioskop.

“Saya berani bilang keren, karena beberapa dari film-film itu saya tonton dan terasa lebih baik dalam hal cerita jika fiksi dan kedekatan isu yang personal jika dokumenter. Uniknya, film-film itu malah diapresiasi di negara lain, melanglang buana ke luar negeri,” kata Neni Muhidin.

Neni menambahkan, dalam banyak diskusi tentang film yang di ikuti, seringkali ada perbedaan yang menurutnya cukup tajam, antara film yang diproduksi untuk kebutuhan festival maupun untuk kebutuhan bioskop dalam negeri. Perbedaan itu menegaskan hal lain, pertama Berat, susah dijual karena tidak menghibur ataupun sebaliknya. Yang kedua Ringan, menghibur dan karenanya layak jual karena dibutuhkan bioskop.

Padahal, tidak sedikit film kategori pertama yang pernah dia tonton, juga ringan, menghibur dan yang lebih penting lagi, memberi sesuatu yang tidak sekadar ringan dan menghibur, tetapi juga sebuah refleksi. Pencerahan atau mendidik (edukatif) dalam istilahnya yang normatif.

“Olehnya, saya mengundang teman-teman di Palu, khususnya teman-teman wartawan, baik media massa cetak, elektronik, online, blogger, untuk ikut hadir dalam media gathering dan membicarakan perihal distribusi film bersama kawan dari BUTTONIJO, yang bekerja menyalurkan, mendistribusikan film, dan memberikan tawaran alternatif terkait metode pendistribusian film,” imbuh Neni.

Kata Neni, obrolan seputar film akan membuka informasi, bahwa sebenarnya banyak film karya anak negeri yang bagus, tapi tidak pernah diputar di bioskop. Dan akan tambah menarik lagi, karena Kota Palu telah memiliki bioskop, setelah sekian lama bioskop-bioskop di Kota Palu ini gulung tikar.

Acara Media Gathering ini diselenggarakan, Jumat (9/10/2015) kemarin, mulai pukul 16.00 di Rumah Juice & Momoyo Art Venture, Jln DI Panjaitan No 9 (Bumi Nyiur) Palu. Yang akan dilanjutkan dengan pemutaran sebuah film berjudul Another Trip to the Moon karya Ismail Basbeth. (ko/*)

Apakah BUTTONIJO?

ButtonIjo Productions adalah sebuah rumah produksi di Jakarta. Yang dipimpin Amir Pohan, selaku produser dari Dead Chicken In A Rice Barn, yang memenangkan Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2009 dan Ennui, sebuah film pendek yang dibintangi Fahrani Empel, Alex Komang dan Anggun Priambodo.

Saat ini film dokumenter lainnya sedang dalam tahap paska produksi berjudul Tiang Jawa, bertemakan Javanism, dan Dang_Dut yang mengangkat topik musik dangdut.

Sedangkan untuk film panjang fiksi, ButtonIjo ikut berpartisipasi sebagai koproduser dari film panjang pertama Anggun Priambodo yang berjudul Rocket Rain. Pada bulan Oktober 2013, ButtonIjo kembali memproduksi sebuah film panjang.

Buttonijo Film memberikan bagi para sineas muda yang memiliki ide kreatif pembuatan film. Amir Pohan, salah satu pendiri Buttonijo, mengatakan pemicu ide pemberian hibah tersebut adalah kondisi yang kerap dialami pembuat film alternative, dimana mereka tidak memiliki anggaran khusus untuk memproduksi dan mendistribusikan film-nya.

“Padahal seharusnya strategi distribusi sudah direncanakan saat fase praproduksi,” ujarnya.

Amir menjelaskan, dalam setahun ini, Buttonijo membuka tiga periode pendaftaran. Periode pendaftaran terakhir dimulai pada Juni. Para dewan juri memilih tiga film pendek dan satu film panjang yang akan didanai.

Terkait persoalan distribusi, Buttonijo juga menjadi kanal distribusi alternative. Untuk distribusi secara online, Buttonijo akan menggunakan metode streaming dan digital download. Sedangkan untuk sistem offline akan menggunakan sistem eksebisi via flashdisk, sehingga penikmat film maupun komunitas film bisa memesan flashdisk berisi film untuk kemudian diputar di layar-layar alternatif.

Lewat jalur distribusi ini, semua film yang berada di bawah naungan Buttonijo memiliki kesempatan untuk diputar di berbagai art house cinema dan festival film internasional maupun nasional. Bagaimanapun, tahapan distribusi memang memiliki peran penting dalam keberlangsungan sebuah karya dan juga menjadi nafas sebuah film. (ko/*)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.