Thursday, 27 July, 2017 - 06:55

Disparekraf Sulteng Latih Desainer Presentasikan Ide dalam Sketsa

Hj Siti Norma Mardjanu SH, Msi, MH saat memberikan materi dalam Workshop Desain Motif Daerah yang digelar oleh Disparekraf Sulteng di Hotel Grand Duta Palu, Senin 3 Oktober 2016. (Foto : Emy/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Upaya menciptakan desainer handal di Sulawesi Tengah, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Sulteng menggelar Workshop Desain Motif Daerah di Hotel Grand Duta Palu, Senin 3 Oktober 2016.

Workshop ini bertujuan untuk melatih pelaku desain dalam mempresentasikan ide dalam bentuk sketsa yang digambar secara manual. Selain itu juga untuk memberikan pengetahuan teknik pembuatan sketsa gambar yang proporsional. Akhirnya, meningkatkan kemampuan desainer untuk mampu bersaing dalam kegiatan usaha busana terutama di Kota Palu.

Kepala Dinas Pariwisara dan Ekonomi Kreatif Hj. Siti Norma Mardjanu SH, Msi, MH di dampingi Dra.Hi Suaib Djafar mengungkapkan kegiatan ini melanjutkan misi Gubernur untuk menggali kembali motif lama sehingga ada kearifan motif  lokal kedepan, misalnya batik  kelor dan maleo.

"Motif kelor perlu dikembangkan, kearifan karya kita akan didesain kembali. Saya tidak mau di katakan meniru daerah lain, saya tidak mau. Kita tetap harus kembangkan motif yang ada di daerah ini, bukan hanya berfokus kepada daerah lain," kata Siti Norma di sela-sela acara.

Kata dia, dunia fashion menuntut ketekunan, totalitas, tampil handal, inovatif dan kreatif para desain dari berbagai daerah se Sulteng.

“Makanya perlu upgrade pengetahuan dan skill dari para desainer. Apalagi akan memasuki era persaingan yang makin kompetitif dan penuh tantangan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), karena Sulawesi Tengah masuk kawasan Ekonomi Kreatif,” kata Norma.

Selain itu, Norma mengungkapkan motif maleo dan motif kelor akan selalu dilestarikan.

“Namun kita tidak tahu bagaimana hasil dari sketsa gambar itu, makanya kita ingin bukti dalam bentuk desain miniatur bagi para desain. Karena Kota Palu banyak berkembang dengan motif bunga-bunga, padahal nuansa burung juga perlu dikembangkan lagi,” katanya.

Menurutnya, usaha batik, ukiran dan lukisan bisa dijadikan ladang ekonomi baru bagi wanita Sulawesi Tengah.

“Para wanita penggangguran bisa dilibatkan untuk menjadi kreatif  melalui peningkatan SDM dengan seni budaya yang bisa berpotensi meningkatkan ekonomi daerah, misalnya dengan usaha batik, ukiran dan lukisan. Karena kata dia produk fashion sangat membutuhkan kreativitas dan inovasi dari perancang-perancang busana melalui pelatihan,” kata Norma.

Kata dia, dunias fashion sangat bergantung pada bahan baku, namun dengan kreatifitas desainer terhadap busana yang dirancangnya, bisa menghasilkan produk bernilai jual tinggi untuk Sulteng.

“Untuk meningkatkan kualitas mutu fashion maka sangat diperlukan pelatihan bagi desainer dengan memanfaatkan dan memaksimalkan produk dalam negeri seperti songket dan sulaman,” katanya.

Untuk itu, kata Norma, pihaknya akan memfasilitasi para pelaku dalam mengungkapkan karya dalam bentuk sketsa mode.

“Ini dilakukan dalam bentuk kelompok, sehingga mampu menyampaikan dan memunculkan ide para desainer dalam wujud gambar sebagai langkah awal dalam membuat busana yang sesuai diinginkan pasar atau konsumen,” katanya.

Dia mengungkapkan, desain baru dipresentasikan dalam bentuk sketsa yang digambar manual dengan tangan, sebelum kain dipotong dan dijahit.

Dia mengharapkan kepada para desainer workshop tersebut hendaknya menghasilkan output karya desainer dalam bentuk sketsa dan busana dalam bentuk miniatur dengan model daerah yang berkualitas.

Peserta Workshop ini terdiri dari guru, mode dan perancang busana. Selain itu, acara ini juga dihadiri para desainer-desainer pemula di Sulteng.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.