Thursday, 17 August, 2017 - 19:58

Disperindag Minta Pengusaha Tidak Berpikir Untung Besar

POSE BERSAMA - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Abubakar Almahdali (berkacamata/batik) bersama Dirjen PKTN Kementerian Perindustrian dan Perdaganan saat mengunjungi salah satu pusat peritel modern di Kota Palu beberapa waktu lalu. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Sulawesi Tengah Abubakar Almahdali mengakui masih ada sejumlah peritel modern yang belum mengikuti peraturan pemerintah terkait pemberlakuan  harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas gula pasir, minyak goreng, dan daging beku.

Terkait hal ini, Abubakar berharap para pelaku usaha ritel bisa segera mengikuti peraturan pemerintah.

“Sudah, kalau peritel modern itu sudah mengikuti HET yang diberlakukan. Tapi masih ada juga (peritel modern) yang lokal belum ikut memberlakukan HET,” ujar Kepala Dinas Perindag Sulteng kepada Metrosulawesi, Rabu 3 Mei 2017.

Alasan para pelaku usaha ritel masih menggunakan harga di atas HET karena masih banyaknya stok lama yang dibeli dengan harga tinggi oleh pihak peritel, sehingga akan merugi jika dijual dengan harga HET.

“Alasan mereka klasik, stok lama. Sebenarnya itu memang sudah jadi risiko pengusaha, mereka harus ikut peraturan pemerintah,” katanya.

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan harga tertinggi gula pasir per kilogram seharga Rp 12.500, minyak goreng kemasan Rp 11.000 per liter, dan daging beku Rp 80.000 per kilogram. Untuk menerapkan peraturan tersebut secara nasional, pihak pemerintah juga bekerjasama dengan asosiasi peritel.

Agar program ini benar-benar bisa berjalan sesuai rencana, pemerintah pun akan memberi sanksi kepada distributor dan pelaku ritel jika masih menjual ketiga komoditas tersebut di atas HET yang ditentukan.

Untuk memantau implementasi program itu di tingkat peritel dan distributor, pihak Perindag juga menyiapkan tim yang secara mobile melakukan pemantauan langsung.

“Ada tim, kita tetap lakukan pemantauan secara tiba-tiba ke setiap ritel,” sebut Abubakar.

Melihat masih adanya pelaku ritel yang menjual komoditas tersebut di atas HET, ia menyinggung agar para pengusaha ritel tidak berfikir untuk selalu mendapatkan keuntungan besar. Sebab, salah satu alasan diberlakukannya HET juga untuk mencegah naiknya harga komoditas jelang Ramadan.

“Kami selalu mengimbau dan menyampaikan ke peritel itu agar bisa sesuai HET, saya rasa mereka juga tidak akan rugi, cuma untungnya lebih sedikit, jangan mikirnya untung besar terus.”

“Sebenarnya ini juga untuk persiapan jelang Ramadan, kita tidak bisa mengambil tindakan secara mendadak. Jauh sebelum Ramadan kita harus sudah mulai antisipasi, salah satunya dengan HET ini,” tandasnya.

Untuk menjaga stabilisasi harga jelang Ramadan pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menjaga ketersediaan stok komoditas agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat menyebabkan harga tinggi pada sejumlah komoditas.

“Di pasar-pasar tradisional itu masih menggunakan harga lama, kami bersama Bulog juga akan lakukan kerja sama operasional (KSO) memberikan stok ke pasar dengan catatan mereka juga tidak boleh jual di atas HET,” terangnya.

“Lagi pula, jika masih ada yang menjual dengan harga di atas HET saya rasa mereka sendiri yang akan rugi, karena masyarakat akan memilih berbelanja di peritel modern yang sudah ikut HET, selain murah juga nyaman, tidak panas.”

Menjelang Ramadan di pasar tradisional ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, namun masih sebagian kecil, misalnya bawang putih yang harganya sudah mencapai Rp 40 ribuan, sebelumnya masih di bawah Rp 30 ribu per kilogram.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.