Sunday, 17 December, 2017 - 16:05

DLHK Diduga Manipulasi Hasil Uji PLTU Mpanau

ILUSTRASI - PLTU Mpanau. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Warga sekitar PLTU Mpanau menolak hasil pemaparan tim akademisi yang ditunjuk Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Palu dalam mengukur tingkat pencemaran di area PLTU Mpanau.

Diduga hasil pengukuran telah dimanipulasi oleh DLHK Kota Palu dengan sengaja mengukur tingkat pencemaran sesaat setelah hujan, dan hanya melakukan sekali pengukuran oleh tim akademisi Untad.

Pada pertemuan yang digelar di Aula Kantor Camat Tawaeli Kamis, 2 Maret 2017, tim akademisi yang melakukan pengujian pencemaran lingkungan menunjukkan hasil pengukuran yang menurun drastis dari hasil pengukuran semula oleh pihak Kementerian Lingkungan Hidup. Sontak warga yang hadir menolak dan tidak percaya atas hasil tersebut.

Suasana pertemuan semakin memanas saat warga mengetahui jika pengukuran kualitas udara dan segala dampak lingkungan lainnya dilakukan sesaat setelah hujan, bukan pada cuaca normal. Hal itu dianggap menjadi penyebab utama turunnya tingkat pencemaran versi DLHK Kota Palu sebagaimana diutarakan tim peneliti dihadapan perwakilan warga terdampak PLTU.

Warga menilai bahwa DLHK sengaja menyuruh tim peneliti melakukan pengukuran sesaat setelah hujan, agar hasil yang dicapai jauh dari baku mutu, sehingga PLTU Mpanau terlepas dari ancaman penutupan yang selama ini didesak oleh masyarakat.

Seusai pertemuan, Anggota Tim Peneliti Untad DR Muhammad Isrun mengaku didesak oleh DLHK Kota Palu untuk segera melakukan pengukuran, dengan alasan datanya sudah ditunggu oleh pihak tertentu.

Awalnya Isrun sudah memberikan penjelasan kepada pihak DLHK bahwa pengukuran usai hujan tidak akan mendapatkan hasil maksimal jika dipaksakan.

“Kami didesak oleh DLHK untuk segera melakukan penelitian, walaupun kami sudah memberikan penjelasan soal hasil yang akan didapatkan tidak maksimal, jika pengukurannya dilakukan setelah hujan. Namun pihak DLHK tetap mendesak untuk segera dilakukan pengukuran,” akui Isrun.

Isrun mengatakan pihaknya juga tidak memiliki data awal sebagaimana diungkapkan oleh masyarakat saat pertemuan.

“Sehingga apa yang kami hasilkan betul-betul sesuai kondisi saat itu, dimana beberapa hasil uji memang jauh berada dibawah baku mutu,” katanya.

Kata dia, untuk mendapatkan hasil akurat dari tingkat pencemaran, perlu dilakukan penelitian secara berulang dengan kondisi cuaca normal. Sedangkan hasil penelitian saat ini dapat dijadikan acuan sebagai perbandingan pada penelitian berikutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah Abdul Rahim dalam pertemuan dengan warga, mendesak PLTU untuk melaksanakan segala yang sudah diperintahkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kami akan terus melakukan pengawasan atas apa yang menjadi kewajiban PLTU sebagaimana tertuang dalam perintah pihak Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Rahim dihadapan warga terdampak PLTU.

Sementara itu, Anggota DPRD Sulawesi Tengah, Erwin Lamporo yang hadir pada pertemuan itu juga menegaskan pihaknya akan terus mengawal apa yang menjadi tuntutan masyarakat.

“Seperti kesepakatan kita bersama dengan PLTU dan pemerintah provinsi Sulawesi Tengah, bahwa PLTU diberikan waktu hingga April 2017 untuk melaksanakan semua yang menjadi kewajiban mereka,” tegas Erwin.

Erwin berharap agar semua pihak memberikan kesempatan kepada PLTU Mpanau untuk memenuhi segala yang dituntutkan kepada mereka.

 
Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.